fokus

Sudah lama…sekali saya tidak posting apa-apa di Hujan Tengah Hari. Rindu setengah mati. Tapi sulit sekali memaksa diri duduk tenang di depan layar komputer dan mulai mengetik semua ide yang sesak berjejalan di benak ini.

Banyak ide tentang tanam menanam ingin saya angkat jadi tulisan. Begitupun ide tentang rajut  merajut ataupun cerita kosong tak penting sehari-hari.

Akhirnya, pagi ini, waktu Belanda, saya berhasil juga memaksa diri membuka HTH dan mulai mengetik.

Kali ini tentang sesuatu yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan tanaman dan rajutan. Hmmm…

Tahun 2010, entah bulan apa, saya sudah lupa, saya mesti pergi menemui dokter kebidanan langganan saya di rumah sakit di ibukota propinsi tempat saya tinggal. Entah untuk keperluan apa, saya sudah lupa. Tapi saat itu dilakukan USG dalam untuk keperluan yang saya sudah lupa itu tadi. Dari pemeriksaan tersebut si dokter juga mendapati bahwa ada miom di dinding bagian luar rahim. Ukurannya sekitar 2 cm (diameter). Saya cuma ber- O saja. Si dokter bertanya apakah saya mengalami keluhan-keluhan tertentu seputar urusan reproduksi, seputar urusan menstruasi. Sama sekali tidak. Okay. Kalau begitu tidak perlu diperpanjang soal ini. Sementara hal yang membuat saya menemui dia — walaupun saya sudah lupa apa, tapi saya masih ingat hasilnya — juga tidak perlu dipikirkan lebih lanjut. Semua baik-baik saja. Saya dan suami pulang dan kami melanjutkan menjalani hidup seperti biasa. Cerita tentang munculnya miom di dinding rahimpun terlupakan.

Awal 2015 mulai terjadi sesuatu pada diri saya dan membuat saya waspada.

Siklus menstruasi saya berkisar 28 hari. Tapi di tahun 2015 lalu beberapa kali terjadi keanehan. Dua kali saya mengalami haid hanya dalam jarak waktu sekitar 19-20 hari. Lalu satu kali mengalami haid dalam jarak waktu 50 hari. Seumur hidup saya sejak mendapatkan haid pertama kali, tidak pernah hal ini terjadi. Dan puji Tuhan, saya juga tidak pernah mengalami nyeri, sakit perut, apalagi sampai kram, saat datang bulan. Hanya punggung serasa remek, seperti habis dipukuli bertubi-tubi. Hiks. Dan terkadang tulang seluruh tubuh terasa ngilu-ngilu nggak karuan. Ini terjadi kalau kondisi tubuh sedang tidak fit, biasanya akibat kelelahan dan/atau kurang tidur kronis. Tapi keluhan-keluhan tersebut pun semakin berkurang beberapa tahun belakangan ini.

Saya tidak langsung pergi ke dokter kebidanan. Saya menunggu beberapa bulan, hingga tengah tahun, untuk melihat apakah keanehan yang terjadi itu cuma terjadi satu kali atau berpola. Dan ternyata memang tidak hanya terjadi satu kali. Setelah 2015 mencapai pertengahan tahun, akhirnya saya memutuskan untuk menemui dokter kebidanan langganan saya itu.

Dari hasil pemeriksaan, dia mendapati bahwa miom yang di tahun 2010 cuma satu dan berdiameter 2 cm itu sudah punya beberapa teman. Setidaknya di medio 2015 sudah ada sedikitnya 3 miom. Dan si miom dari tahun 2010 yang tadinya berdiameter 2 cm kemudian sudah menjadi 4,5 cm. Wow! Dan yang lebih wow lagi adalah satu di antara miom-miom itu ada dalam posisi antara dinding luar dan dinding dalam rahim. Dan miom yang satu inilah, karena posisinya, mulai mengganggu siklus haid saya.

Dokter saya bilang tidak diketahui penyebab munculnya miom di rahim selain murni karena faktor kerja hormon yang terlalu aktif. Bukan karena faktor makanan yang kita konsumsi atau yang lain.

O ya, soal faktor makanan atau pola makan ini saya yang tanya ke dia. Sebab kalau memang itu alasannya, tentu saya ingin mengusahakan mengubah pola makan saya. Siapa tahu bisa membantu menghilangkan miom yang sudah telanjur muncul, sekaligus mencegah munculnya miom-miom baru.

Miom yang muncul di rahim bisa dengan sendirinya hilang secara alamiah. Tapi ini hanya terjadi bila si perempuan (mulai) masuk masa menopause. Dengan terjadinya masa menopause, hormon-hormon reproduksi berhenti bekerja. Dan dengan sendirinya miom(-miom) yang sudah telanjur muncul tidak mendapat asupan protein dan makanan yang dapat mendukung keberlangsungan hidup si miom. Dengan begitu si miom berangsur-angsur akan mengecil dan kemudian hilang.

Tapi masalahnya di saya, saya masih dalam usia produktif. Setidaknya untuk beberapa tahun ke depan. Jadi cara alamiah ini tidak bisa diharapkan untuk terjadi pada saya. Apa boleh buat, kalau saya ingin miom-miom itu dihilangkan, harus diambil tindakan non alamiah.

Ada empat alternatif pilihan.

1. pil hormon
Pil ini harus diminum tiap hari selama tiga bulan berturut-turut tanpa jeda. Dan setelah siklus tiga bulan dijalani, si pasien stop minum pil selama satu bulan. Saat ini juga dokter akan melakukan kontrol apakah sudah terjadi perubahan, yakni penciutan ukuran miom. Syukur-syukur si miom sudah hilang tak berbekas. Bila belum, pil hormon harus kembali diminum setelah jeda satu bulan berakhir. Dan pil hormon harus kembali diminum setiap hari untuk periode tiga bulan berikutnya. Begitu seterusnya, hingga miom di rahim hilang total.

Yang menjadi masalah adalah pil hormon ini memberi efek sampingan. Sakit kepala. Dan dari hasil penelitian, sakit kepala yang diderita bisa cukup serius. Tapi untungnya bila tidak tahan dengan efek samping pil hormon ini si pasien boleh berhenti tanpa harus menyelesaikan periode tiga bulan tersebut.

2. alat kontrasepsi IUD/spiral
Informasi yang saya baca di berbagai situs kesehatan reproduksi perempuan yang saya kunjungi menyebutkan bahwa alat kontrasepsi yang satu ini adalah yang paling banyak memberikan keuntungan. Namun tentu bukannya bebas sama sekali dari efek samping. Dan efek samping IUD/spiral ini lebih dikarenakan masuk dan bersarangnya sebuah benda asing di dalam rahim. Untuk lebih jelasnya, saya berikan link dari dua situs kesehatan reproduksi perempuan yang berisi penjelasan tentang penggunakan IUD/spiral. Silakan Anda baca sendiri saja di sini dan sini.

Satu hal yang menjadi perbedaan mendasar pada hasil penerapan IUD/spiral di Indonesia dan di Belanda adalah alat KB IUD/spiral yang diterapkan di Indonesia tetap memungkinkan si perempuan penggunanya untuk mengalami haid secara teratur setiap bulan, seperti saat sebelum menggunakan IUD/spiral. Sedangkan jenis alat KB IUD/spiral yang diterapkan di Belanda adalah jenis yang setelah si IUD/spiral dipasang maka si perempuan penggunanya tidak akan mengalami haid lagi, layaknya perempuan yang sudah  memasuki masa menopause. Oleh sebab itu, alat KB IUD/spiral di dunia medis Belanda bisa digunakan sebagai salah satu alternatif penanganan miom di rahim. Namun demikian, bila alternatif ini yang dipilih untuk menangani masalah miom di rahim, tidak berarti tanpa efek samping IUD/spiral pada umumnya. Sebab, bagaimanapun, IUD/spiral tetap saja benda asing yang dimasukkan ke dalam tubuh dan sedikit-banyak tentu mempengaruhi kerja tubuh, dalam hal ini rahim.

3. operasi minor
Operasi jenis ini dilakukan untuk mengangkat miom(-miom) dari dinding rahim, tanpa mengangkat rahim. Jadi yang dihilangkan hanya miomnya saja.

Yang menjadi masalah bila alternatif ini yang dipilih sebagai tindakan penanganan adalah kerja hormon-hormon reproduksi si perempuan yang masih dalam usia produktif tetap memungkinkan munculnya miom-miom baru setelah operasi minor ini dilakukan. Jadi rasanya ya percuma saja. Apalagi bila hormon-hormon reproduksi memang punya kecenderungan bekerja ekstra aktif. Kemungkinan untuk dilangsungkannya operasi minor kedua, ketiga dan seterusnya cukup besar.

4. operasi mayor
Operasi jenis ini jenis operasi besar. Sebab yang diangkat bukan saja miom(-miom)nya, tetapi juga sekaligus rahimnya.

Dengan diangkatnya uterus/rahim, maka miom-miom yang muncul pada dinding rahim (luar dan dalam) otomatis ikut terangkat. Konsekuensi lebih lanjutnya adalah kemungkinan munculnya miom-miom baru juga ditiadakan. Sebab uterus/rahim sebagai pusat kerja/kegiatan hormon-hormon reproduksi sudah ditiadakan/diangkat. Konsekuensi lainnya adalah si perempuan tidak lagi mengalami haid. Tapi ini tidak berarti bahwa si perempuan (langsung) mengalami/memasuki masa menopause. Sebab selama indung telur si perempuan masih ada dan sehat maka si perempuan masih dalam kategori masa produktif. Hanya saja, karena rahimnya sudah diangkat, telur yang diproduksi indung telur setiap bulan tidak memiliki tempat persemayaman lagi. Dan akibatnya telur yang matang yang dilepaskan oleh indung telur itu raib, larut dan hilang tak berbekas di dalam tubuh.

Setelah mendapatkan penjelasan lengkap dari dokter, kami pulang untuk memikirkan dan mempertimbangkan alternatif penanganan mana yang akan kami pilih untuk saya jalani.

Saya sama sekali tidak mengalami kesulitan dalam melakukan pilihan dan memutuskan. Bahkan alternatif penanganan mana yang akan saya pilih sudah cukup jelas di benak saya pada saat saya dan suami masih duduk di ruang periksa si dokter. Tapi tentu saja saya tidak boleh gegabah mencetuskan pilihan dan keputusan tersebut secara serta merta saat itu juga. Tetap saja perlu waktu untuk yakin bahwa alternatif penanganan itulah yang memang ingin saya pilih dan jalani.

Seharusnya kami kembali ke dokter kebidanan saya itu kira-kira sebulan setelah kontrol terakhir. Tujuannya untuk memberitahu dia keputusan tentang alternatif penanganan yang kami ambil. Tapi kenyataannya kami baru kembali ke si dokter setelah lewat empat bulan. Saat itu januari 2016 sudah berjalan setengah bulan. Dan selama empat bulan itu pula cukup banyak yang terjadi pada tubuh saya berkenaan dengan urusan miom ini.

Saya mulai mengalami pendarahan. Pendarahan terjadi 1-2 hari setelah haid selesai. Awalnya cuma pendarahan ringan, bercak darah setetes dua. Kemudian menjadi lebih banyak dan lebih lama. Dan disertai rasa nyeri ringan di perut bagian bawah. Wah… seperti yang sudah saya ceritakan di atas, seumur hidup saya sejak menstruasi pertama, tidak pernah saya mengalami nyeri atau sakit, bahkan kram di perut akibat datang bulan. Jadi ketika nyeri ini terjadi, saya benar-benar jadi waspada dibuatnya. Dan membuat tekad saya dan suami semakin bulat akan alternatif pilihan penanganan urusan miom ini.

Akhir januari 2016 kami kembali ke dokter kebidanan langganan saya. Kami memberitahu beliau keputusan kami. Kami memutuskan untuk memilih alternatif penanganan keempat. Operasi mayor.

Si dokter sangat maklum dan sangat suportif. Hari itu juga prosedur operasi mayor dimulai. Dokter memasukkan saya dalam daftar tunggu operasi. Dan setelah itu saya harus menjalani beberapa tahap berikutnya. Cek darah, konsultasi dengan dokter anestesi, konsultasi dengan bagian perawatan inap rumah sakit dan lain-lain. Semua dilakukan di tiga tanggal yang berbeda.

Tidak seperti di Indonesia, di Belanda dokter dan pasien tidak punya kuasa untuk menetapkan tanggal operasi. Di Belanda yang punya kuasa untuk menetapkan tanggal operasi adalah pihak administrasi rumah sakit. Pasien yang akan atau harus menjalani operasi tertentu harus dimasukkan ke dalam daftar tunggu sesuai urutan, kecuali bila kondisi si pasien gawat dan butuh tindakan operasi sesegera mungkin.

Saat itu operasi saya dijadwalkan pertengahan april. Saya akan diberitahu lewat surat resmi dari rumah sakit. Tapi di suatu pagi hari jumat di awal bulan maret yang lalu saya mendapat telpon dari rumah sakit, mengabarkan bahwa operasi saya dijadwalkan tanggal 18 maret.

Semakin cepat semakin baiklah untuk saya. Jadi ketika tahu tidak perlu menunggu hingga april untuk menjalani operasi ya saya senang. Hanya saja, saya jadi “terpaksa” sedikit ngebut mempersiapkan segala sesuatunya. Maksud saya, saya mesti ngebut bebersih dan beberes rumah. Ini karena setelah operasi selesai dijalani saya harus istirahat total selama enam minggu. Istirahat total di sini maksudnya saya tidak boleh melakukan kegiatan-kegiatan berat, terutama yang menggunakan otot-otot perut. Dengan demikian saya juga tidak boleh mengangkat yang berat-berat. Dalam buklet berisi peraturan pasca operasi ini bahkan disebutkan bahwa si pasien tidak diperkenankan mengangkat beban yang lebih berat dari dua kilogram.

Maret di Belanda adalah bulan ketika musim semi tiba. Itu artinya mesti beberes taman dan kebun bagi mereka yang punya taman dan/atau kebun. Musim dingin selalu menyisakan daun, dahan dan ranting kering untuk dibereskan dan dibuang ke tong sampah hijau. Saya selalu melakukannya di akhir maret atau awal april. Tapi tahun ini saya tidak bisa membereskan taman dan kebun sesuai jadwal biasa. Sebab setelah operasi tanggal 18 maret saya tidak boleh bekerja/berkegiatan berat. Selain taman dan kebun saya juga harus membereskan rumah secara ekstra. Membersihkan kaca jendela depan dan belakang. Menyortir barang-barang dan membuang semua yang sudah tidak bisa/ingin dipakai. Ini semua harus terjadi agar ketika saya harus idle setelah operasi suami bisa menggantikan saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan cukup mudah. Sebab selain harus mengurus saya dan rumah, dia tetap harus bekerja di kantor seperti biasa. Dan kami, seperti semua manusia di bumi ini, hanya punya 24 jam sehari untuk melakukan semua hal.

Puji Tuhan, semua berjalan dengan baik dan lancar. Operasi terlaksana dengan lancar dan selamat. Dan berkat teknologi kedokteran Belanda yang sudah tinggi, saya cuma menginap satu malam di rumah sakit. Sehari setelah operasi saya sudah diperbolehkan pulang dan memulai masa penyembuhan di rumah. Dan sekarang masa penyembuhan sudah selesai saya jalani. Jumat minggu lalu saya sudah pergi kontrol terakhir ke dokter. Dia puas dengan hasil kerjanya. Puas dengan hasil proses kesembuhan saya. Saya tidak perlu datang kepadanya lagi untuk urusan miom ini. Dia bilang, kalau saya harus datang ke dia lagi, itu pasti untuk urusan lain. Hahaha… Siplah dokter. Semoga tidak perlu. Terima kasih banyak ya.

Dan sekarang saya hanya perlu kembali menjalani hidup saya secara normal.

Satu pesan saya untuk semua perempuan yang membaca postingan saya kali ini.

Bila anda mengalami masalah yang sama atau serupa dengan yang saya alami, atau mungkin lebih berat/serius dari yang saya alami, saya harap anda tidak ragu untuk memutuskan untuk memilih operasi mayor sebagai pilihan penanganan kesehatan.

Rahim adalah satu dari sekian organ yang diciptakan Tuhan untuk melengkapi tubuh manusia perempuan. Agar dengannya si perempuan bisa melakukan prokreasi tahap akhir, mengandung dan melahirkan manusia baru.

Ini tentu saja kalau si perempuan dalam kondisi sehat walafiat. Bila tidak, tentu lain ceritanya. Menurut saya, rahim yang dihiasi miom bukanlah rahim yang sehat. Walaupun di banyak kasus, kehadiran miom tidak mempengaruhi kesehatan reproduksi si perempuan secara umum. Dan di banyak kasus juga miom di rahim dalam kondisi tenang dan tidak membahayakan. Dan bila ini yang terjadi pada anda, hai perempuan, tentu anda tidak perlu khawatir. Yang perlu anda lakukan hanya pergi ke dokter kebidanan secara berkala untuk memeriksakan perkembangan kesehatan rahim anda berikut miom-miom yang ada.

Pada kasus-kasus tertentu, sayangnya, kehadiran miom di rahim mengganggu kerja rahim. Kehadiran miom yang mengganggu ini biasanya dalam bentuk pendarahan, ringan atau berat. Dan ini yang terjadi pada dan dialami oleh beberapa teman perempuan saya. Juga pada beberapa perempuan yang tidak saya kenal, tapi ceritanya sampai di telinga saya.

Mereka mengalami pendarahan. Dan kadang pendarahannya cukup hebat sampai membuat mereka tergeletak di tempat tidur berminggu-minggu lamanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka menjadi tidak berfungsi/produktif dalam artian tak mampu melakukan kegiatan hidup sehari-hari, sebab pendarahan yang mereka alami disertai rasa sakit yang mendera juga.

Yang paling parah terjadi pada satu teman perempuan masa kecil saya. Teman ini baru menikah ketika usianya memasuki medio 30-an. Sangat ingin punya anak. Sangat berusaha agar bisa punya anak. Lalu mendapati bahwa dia punya beberapa miom di rahim. Dia memilih operasi minor, tentu saja. Dan setelah itu beberapa miom baru bermunculan. Malas operasi lagi, dia memilih cara pengobatan alternatif. Tidak berhasil. Bukan cuma tidak berhasil, tapi miom-miom di rahimnya sudah mulai menjadi ganas.

Akhirnya, alih-alih mendapat keturunan, teman perempuan masa kecil saya itu meninggal akibat kanker yang  berasal dari miom d rahim yang kemudian menjadi ganas dan lalu menyebar ke ginjalnya.

Saya sedih bukan kepalang. Patah hati!

Cerita-cerita tentang pengalaman dari perempuan-perempuan, baik yang saya kenal maupun yang tidak saya kenal tapi ceritanya sampai ke telinga saya inilah yang menguatkan saya untuk membulatkan tekad memilih alternatif penanganan terakhir.

Fokus saya: menjaga dan memelihara kesehatan yang baik, dengan atau tanpa rahim, sungguh memudahkan saya dalam membuat dan mengambil keputusan. Sungguh-sungguh tanpa beban. Saya tahu saya tidak akan menyesalinya.

Saya tidak punya anak. Sebab saya dan suami memutuskan untuk tidak punya anak. Keputusan yang kami buat dan ambil dengan sadar. Tapi tentu bukan karena ini lalu kami bisa dengan enteng memilih alternatif penanganan keempat. Sebab, bagaimanapun, rahim, sebagai salah satu bagian dari tubuh yang adalah pemberian Gusti Allah, mesti dipertahankan sampai titik darah penghabisan bila mungkin.

Tapi ini hanya mungkin untuk dilakukan bila si rahim dalam keadaan sehat walafiat. Toh? Ketika si rahim mulai tidak sehat dan berpotensi memberi masalah yang lebih besar pada kesehatan saya secara umum, maka saya harus mengambil tindakan logis dan realistis agar kesehatan saya secara umum tidak mendapat dampak buruknya. Sebab, sepenting-pentingnya mempertahankan rahim, buat saya jauh lebih penting mempertahankan kesehatan yang baik secara menyeluruh. Tanpa kesehatan yang baik secara menyeluruh, apalah artinya hidup ini? Tanpa kesehatan yang baik, saya tidak bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik. Saya tidak bisa berfungsi dengan baik.

Itulah sebabnya, tulisan saya kali ini saya beri judul: Fokus.

Kita mesti bisa fokus pada inti dan akar masalah. Inti masalah di sini adalah menjaga keberlangsungan hidup. Dan itu yang paling penting. Sebab dengan atau tanpa anak, kita sudah memiliki hidup. Hidup adalah pemberian terbesar dan teragung Tuhan bagi kita. Dan kita harus merawatnya sebaik mungkin. Bila usaha memelihara dan merawat hidup harus berarti meniadakan kemungkinan untuk mendapatkan keturunan, toh kita tidak perlu putus asa berlama-lama. Sebab bagi yang ingin memiliki keturunan masih bisa memiliki keturunan dengan cara adopsi. Walaupun dengan cara ini, keturunan anda bukanlah keturunan langsung dari darah daging anda sendiri. Tapi kalau anda memutuskan untuk memiliki anak dengan cara adopsi, ketahuilah bahwa anda memberikan kontribusi kepada dunia. Anda sedikit meringankan beban dunia. Dan oleh karenanya anda patut berbahagia dan berbangga.

Salam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: