HUT RI ke-70 dan lain-lain

Hari ini, senin, 17 Agustus 2015, Indonesia merayakan hari ulang tahun kemerdekaan yang ke-70.

Selamat!

Bukan usia yang muda lagi. Bukan juga tanpa usaha dan kerja keras untuk mencapai usia berbilang 70. Tapi perjalanan masih panjang. Semoga Indonesia lestari sebagai sebuah negara yang merdeka. Dan semoga Indonesia bisa selalu merdeka — lahir dan batin — dalam merayakan keberagaman dalam bentuk apapun. Seragam mungkin hanya patut untuk murid sekolah dasar dan menengah. Itupun seharusnya tidak perlu dipaksakan. Terutama bila muridnya datang dari keluarga kurang beruntung secara finansial. Kan yang penting proses belajar di dalam kepala dan hati.

Merdeka!

(semoga)

Yang jelas saya selalu berterima kasih kepada para pahlawan bangsa. Terima kasih untuk hadiah terindah, Negara Kesatuan Republik Indonesia, ini. Saya selalu bersyukur menjadi manusia Indonesia. Negara yang kata banyak orang bobrok akibat korupsi di segala sudut, fisik dan mental. Tapi negara mana yang steril dari masalah yang satu ini? Hanya kadarnya saja yang mungkin berbeda.

O ya, sayangnya saya tidak punya bendera merah-putih. Bahkan yang terkecil sekalipun. Untuk dikibarkan, walaupun hanya di meja kerja. Jadi saya kibarkannya di dalam hati saja. Bismillah.

Hari ini juga, senin, 17 Agustus 2015, tempat di mana saya tinggal diguyur hujan. Tidak deras, tapi bukan pula gerimis. Untungnya hanya diiringi angin nan sepoi-sepoi belaka. Hmmm… sebenarnya hujannya sudah dari dua malam yang lalu. Terusan. Kadang-kadang berhenti sebentar sih… untuk rehat kopi. Di surga sana, walaupun kehidupan berlangsung kekal, tapi saya duga bukannya tak butuh istirahat yang pakai ngopi-ngopi. Para malaikat, walaupun tak butuh istirahat, tapi pastinya butuh bersosialisasi juga.

DSCF0146-edited 02

Saya dan suami sejak kemarin siang (menjelang sore) mulai sibuk membereskan rumah di lantai dasar. Ini rencana yang sudah setahun yang lalu dibuat. Baru sekarang bisa diwujudkan. Kami ingin mengecat ulang rumah. Tepatnya seluruh lantai dasar. Terakhir dicat ulang 13 tahun yang lalu. Kalau nggak salah September atau Oktober 2002. Menjelang kedatangan saya untuk yang pertama kali di Belanda sini.

Kemarin kami memulai rencana mengecat ulang ini dari dapur.

DSCF0138-edited 02

DSCF0140-edited 02

DSCF0141-edited 02

Kerja mengecatnya belum dimulai sama sekali. Sebab selain mengecat ulang, kami juga berniat sekalian membersihkan, menyortir dan membereskan rumah secara besar-besaran. Disadari atau tidak, setiap hari manusia menumpuk barang. Entah itu yang diperlukan ataupun yang tidak. Kalau tidak disortir secara berkala, sebenarnya rumah kemudian berubah fungsi. Dari tempat tinggal menjadi gudang. Dan inilah yang terjadi pada kami. Khususnya pada saya. Aha!

Kegiatan menyortir barang yang terakhir kali saya lakukan pada rumah ini terjadi kalau tidak salah 5-6 tahun yang lalu. Dan sejak saat itu rumah lambat laun menjadi gudang. Keinginan untuk menyortir lagi selalu ada. Tapi barang yang makin menumpuk dan menggunung, kebanyakannya sih “sampah” bikin otak saya kram mendadak. Tak tahu mesti mulai dari mana. Dan akhirnya memilih untuk duduk di sofa depan teve, merajut.

Ternyata merdeka itu adanya cuma di bibir. Sebab niat baik dan positif masih terpenjara dalam tubuh yang malas dan mudah menyerah.

Dan saya memilih merajut syal musim dingin yang niatannya untuk dijual. Syal musim dingin ini saya rajut dengan teknik brokat. Istilah kerennya lace knitting. Baru dimulai kemarin pagi. Berhenti sejenak berkali-kali di siang menjelang sore saat suami saya akhirnya mengambil inisiatif untuk memulai kerja membereskan dan mengecat ulang rumah. Tapi di saat-saat ketika tenaga saya sedang tidak dibutuhkan untuk membereskan dapur saya bisa lanjut dengan kegiatan merajut syal brokat ini. Sambil multitasking nonton teve, tentu saja. Well, time is monkey, honey!

DSCF0131-edited 02

Kalau lelah merajut sambil nonton teve, tapi masih menunggu giliran membersihkan dan membereskan dapur, saya menggunakan waktu untuk membujuk kelinci titipan yang merajuk sejak pagi. Merajuk karena sejak pagi tidak mendapat jatah sarapan sayuran organik dari kebun belakang kami. Percaya atau tidak, si kelinci tompel ini tampaknya bisa membedakan daun wortel yang saya peroleh gratis dari penjual sayuran di pasar Arnhem dan daun wortel yang saya petik dari kebun belakang. Dan setelah merajuk seharian dari pagi, si Tompel makin hebat merajuknya ketika akhirnya mendapat jatah sayuran cuma selada keriting. Si daun selada itu dia ambil dengan moncongnya dengan galak, lalu dilepeh ke arah samping. Habis itu dia ngeloyor, balik masuk ke dalam gua kayu imutnya itu.

DSCF9607-edited 02

Ih… yang mestinya illfeel siapa coba? Dia atau saya?

Anyway, di hari ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-70 ini saya merayakannya dengan melanjutkan kerja rajutan syal brokat biru tua. Juga melanjutkan membersihkan lemari dapur. Nanti kalau lemari dapur sudah selesai dibersihkan dan masih ada waktu sebelum suami pulang dari kantor, saya akan menggunakan waktu untuk mengelus-elus Tompel, si kelinci titipan nan bete itu. Siapa tahu dia mau berdamai dengan saya. Dan kami bisa akrab berteman lagi. Tapi pastinya bukannya tanpa sajen sayur organik dari kebun belakang.

DSCF9875-edited 02

 

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: