indahnya mengajar

Tak terasa waktu berlalu dan bulan Juli sudah hampir separo jalan. Dan akhirnya saya mampir menengok rumah saya, Hujan Tengah Hari.

Banyak yang terjadi. Banyak yang ingin saya ceritakan. Tapi tentu harus satu per satu. Yang jelas kegiatan mengajar untuk musim kursus 2014/2015 sudah selesai. Ini untuk kursus tari. Terakhir tanggal 26 juni yang lalu. Tapi belum selesai untuk kursus Bahasa Indonesia dan kursus Yoga.

Iya. Sejak awal februari 2015 lalu saya mengajar Bahasa Indonesia juga.

Murid saya dua orang anak laki-laki — kakak beradik — yang berangkat remaja. Anak Baru Gede atau ABG istilah Jakartanya. Mereka anak-anaknya teman perempuan Indonesia saya yang tinggal di kota tetangga. Si ibu selama ini merangkap sebagai penerjemah pribadi kedua anaknya setiap mereka pulang berlibur menengok keluarga di Indonesia. Dua tahun yang lalu, saat mereka terakhir mudik, si ibu sudah mulai keberatan. Sebab saat itupun kedua anak ini sudah mulai beranjak besar. Dua tahun lebih muda dari mereka tahun ini. Tapi toh… sudah lebih berani untuk memulai percakapan. Bertanya ini dan itu. Dan dua tahun kemudian, tahun ini, mereka sudah lebih besar lagi. Beranjak remaja. Cepatnya waktu berlalu! Dan tentu saja kosa kata mereka sudah lebih banyak. Rasa ingin tahu juga berlipat ganda. Sudah berani ngomong lebih banyak juga. Dan si ibu tambah kewalahan.

Sebenarnya tak lama sejak mereka kembali dari Indonesia dua tahun yang lalu itu si ibu sudah mulai membujuk saya untuk mau membimbing anak-anaknya belajar Bahasa Indonesia. Saya wegah. Waktu itu saya baru mulai merintis kelas tari. Masih belajar mengajar tari. Butuh konsentrasi. Untuk hal-hal serius semacam ini, saya agak sulit berbagi konsentrasi. Jadi saya menolak. Dia kecewa. Tapi tak putus asa. Tiap kali bertemu saya — kami jarang bertemu — kembali dia membujuk saya. Kembali saya menolak. Begitulah seterusnya. Setiap kali.

Sampai akhirnya tahun 2015 menjelang. Entah untuk urusan apa kami bertemu. Tapi kami bertemu. Dan, lagi-lagi, dia membujuk saya. Dan kali ini saya menyerah. Mulailah kedua anak laki-laki ABG ini rajin datang ke rumah saya untuk belajar bahasa ibu mereka. Bahasa Indonesia. Ada rasa bahagia dan bangga menyelinap ke dalam hati saya. Mengetahui bahwa pengguna bahasa tercinta ini akan segera bertambah dua orang.

Mengajar anak remaja tentu berbeda dari mengajar orang dewasa. Apalagi anak remajanya berjenis kelamin laki-laki. Pilihan kata-katanya, suasana yang mesti dibangun, materi pengajaran, kecepatan mengajarnya. Semuanya. Yang jelas saya beruntung. Kedua remaja ini anak-anak yang cerdas, jujur, berani bicara dan berani mengajukan pendapat pribadi. Ini menguntungkan buat saya.

Mereka datang seminggu sekali. Jam kursus mereka pukul 16.00. Itu berarti setelah mereka pulang dari sekolah. Saya sangat bisa memaklumi kalau sesekali mereka malas-malasan mengikuti kelas Bahasa Indonesia ini. Pastinya lelah setelah seharian belajar di sekolah. Habis itu masih harus kursus pula. Apa boleh buat. Ini keinginan ibu tercinta yang tak bisa mereka tolak. Tapi kalaupun mereka sedang malas-malasan kursus, toh mereka tidak asal bilang “sudah mengerti” setiap kali saya selesai menjelaskan sesuatu. Kalau mereka merasa belum memahami penjelasan saya, walaupun nggak bersemangat mengikuti kelas, ya mereka akan bilang “saya belum mengerti”. Dan jadilah saya putar otak, mencoba menjelaskan ulang dengan cara dan kata-kata yang lebih mudah untuk dimengerti.

DSCF7892-edited 02

IMAG0762-edited 02

Di sana-sini saya selingi dengan canda agar mereka tak mudah bosan.

Ternyata yang paling menarik bagi mereka adalah ketika di suatu hari kursus, saat sedang menjelaskan sebuah materi, saya bilang bahwa mereka boleh mengoreksi kata-kata yang saya tulis dalam Bahasa Belanda. Dalam proses belajar mengajar ini saya menggunakan papan tulis untuk menulis berbagai kosa kata, penjelasan, contoh kata atau kalimat dan lain sebagainya. Kadang dalam Bahasa Indonesia. Kadang dalam Bahasa Belanda. Tergantung apa yang sedang kami bahas. Bahwa mereka boleh mengoreksi saya membuat kelas tidak pasif. Kegiatan belajar tidak mereka rasakan terjadi satu arah saja. Dan oleh karenanya mereka jadi lebih proaktif. Sebab mereka boleh mengoreksi saya. Boleh menjelaskan sesuatu kepada saya. Kegiatan belajar ini tidak hanya untuk mereka. Tapi juga untuk saya. Mereka belajar Bahasa Indonesia. Dan saya belajar Bahasa Belanda.

Materi pengajaran saya pilih sesuai dengan kebutuhan mereka. Dan kebutuhan mereka sebenarnya mirip kebutuhan berbahasa asing untuk seorang turis. Tapi tentu saya sesuaikan dengan usia mereka. Pengenalan huruf dan angka beserta cara melafalkannya dalam Bahasa Indonesia adalah materi di hari pertama mereka datang. Kemudian, secara bertahap, pengenalan kata-kata sederhana yang paling banyak atau paling dibutuhkan untuk digunakan dalam hidup sehari-hari di rumah. Setelah beberapa kali pertemuan, saya mulai memberi kosa kata yang lebih sulit. Ruang lingkup penerapan dalam hidup sehari-hari pun makin luas. Tapi tetap saya sesuaikan dengan usia dan alam pikir mereka yang masih beranjak remaja. Juga disesuaikan dengan jenis kelamin mereka. Suka atau tidak, jenis kelamin menentukan minat-minat tertentu seseorang, walaupun di jaman sekarang banyak hal sudah semakin tumpang tindih dan lintas jenis kelamin.

IMAG0879-edited 02

 

IMAG0880-edited 02

IMAG0939-edited 02

Minggu demi minggu dengan tekun dan tertib kedua murid saya setia datang. Dan kosa kata Bahasa Indonesia mereka tak terasa makin tak terhitung banyaknya. Hingga di suatu hari kursus, seperti biasa, saya memberi mereka beberapa kosa kata baru. Beberapa? Hmmm… Sebenarnya cukup banyak juga sore hari itu. Mereka dengan tekun mencatat. Sambil menunggu mereka selesai mencatat, saya pergi ke dapur. Kesempatan ini digunakan oleh satu anak untuk berbisik agak keras kepada saudaranya. Tentu saja dalam Bahasa Belanda. Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kira-kira dia bilang begini, “Kamu tahu, hari ini kosa kata yang kita catat sudah mencapai seratus kata. Wow!”

Padahal saya yakin dia tak pernah menghitung kosa kata yang sebelumnya telah saya berikan. Asal aja! :)

IMAG0942-edited 02

IMAG1084-edited 02

Saat saya mengetik tulisan ini kedua murid saya itu cuma harus datang satu kali lagi. Setelah itu mereka akan berangkat berlibur ke Indonesia. Sekaligus menengok keluarga dan handai taulan di sana. Saya bisa bilang bahwa bekal mereka untuk melakukan percakapan verbal sehari-hari sudah cukup. Saya juga bisa bilang bahwa sekarang saya tahu ke mana arah minat dan bakat masing-masing anak. Salah satu dari mereka sungguh berbakat dalam bidang ilmu pasti dan berminat pada seni panggung. Sementara yang satunya lagi memang punya bakat yang besar di bidang bahasa. Saya bisa melihat juga bahwa anak ini mulai menunjukkan minat yang lebih serius pada bahasa ibunya. Bahasa saya juga. Dan saya terharu.

Saat mereka berangkat ke Indonesia akhir pekan depan, setelah hari kursus terakhir, saya akan mulai dilingkupi rasa was-was dan sekaligus juga penasaran. Harap-harap cemas kedua murid belia saya itu akan bisa menerapkan bekal ilmu bahasa di Indonesia sana dalam percakapan sederhana sehari-hari dengan keluarga dan handai taulan. Dan saya sungguh penasaran, tak sabar, ingin segera mendengar cerita mereka, dan terutama ibu mereka, tentang pengalaman mereka berbahasa Indonesia di kampung.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: