Betty mulai malu telanjang

Di penghujung tahun 2006, tepatnya tanggal 3 desember 2006, berkumpul di rumah seorang kenalan Indonesia di kota tetangga. Berkumpulnya tentu dengan beberapa orang kenalan Indonesia lainnya. Kumpul-kumpul kali itu bukan tanpa tujuan. Uhmmm… Biasanya kalau kumpul-kumpul sih selalu ada tujuan. Masak dan makan bareng sambil ngobrol ngalor ngidul nggak karuan. Tapi tujuan kumpul-kumpul 3 desember 2006 itu sedikit lain. Tujuannya untuk membungkus berbagai mainan anak-anak. Mainan anak-anak yang mesti dibungkus bukan barang baru. Semuanya mainan tidak baru. Sudah pernah dipakai. Sudah tidak ingin dipakai oleh para pemilik lama mereka. Makanya kemudian disumbangkan. Disumbangkan untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu sebagai hadiah di hari Sinterklaas. Hari Sinterklaas di Belanda jatuh pada tanggal 5 desember.

Yang dibungkus terlebih dahulu tentu mainan-mainan yang menarik, tampak bersih atau baru dan ukuran fisiknya tidak terlalu besar. Sebab kertas kadonya ternyata terbatas dibandingkan dengan jumlah mainan yang saat itu berhasil dikumpulkan. Lalu ternyata masih tersisa beberapa mainan yang belum sempat dibungkus tapi kertas kadonya sudah habis. Akhirnya si pemilik rumah yang merangkap seksi sibuk di acara bagi-bagi kado untuk anak-anak di Hari Sinterklaas itu memutuskan untuk membagi-bagikan mainan yang tak kebagian kertas kado kepada peserta pembungkus kado. Berarti termasuk saya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERASetiap disodori sebuah mainan, saya berusaha menolak. Lah buat apa? Saya nggak punya anak. Tidak juga berniat dan berencana untuk punya anak. Keponakan suami saya saat itu masih sekolah. Baru putus dari pacarnya pula. Jadi ketika itu saya tidak berharapan untuk cepat-cepat punya cucu keponakan. Jadilah setiap mainan yang disodorkan kepada saya akhirnya ditampung oleh peserta lain. Satu per satu. Sampai akhirnya yang tersisa dan belum dibagikan kepada siapapun tinggal sebuah boneka beruang. Boneka beruang ini adalah mainan sumbangan yang ukurannya paling besar. Ditawarkan kepada para peserta lain, tidak ada yang mau. Selain karena semua sudah kebagian sesuatu, juga karena si boneka beruang ukurannya lumayan besar. Akhirnya si pemilik rumah memaksa saya dengan garangnya untuk mau mengadopsinya. Akhirnya saya menyerah. Dan dia saya bawa pulang ke rumah naik sepeda. Tentu saja dia, si boneka beruang yang belum bernama itu, saya masukkan ke dalam tas sepeda di bagian boncengan.

Sesampai saya di rumah, suami saya sudah duluan sampai di rumah. Dia membelalak heran melihat saya masuk rumah dengan sebuah boneka beruang dalam pelukan. Saya nyengir. Lalu mulai bercerita. Dia manggut-manggut. Lalu mengambil boneka beruang itu dari saya sambil mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung dalam keluarga kami kepada si boneka. Lalu mendudukkan si boneka di satu pojok sofa tua kami.

Sejak saat itu si boneka beruang menjadi bagian dari anggota keluarga kecil kami. Suami saya, saya dan si boneka beruang. Kocak juga.

===================================

Beberapa hari kemudian suami saya tanya begini ke saya, “Namanya siapa?” Lah, maksudnya namanya siapa tuh siapa? Begitu saya tanya balik ke dia. Ya namanya boneka beruang ini. Masa nggak dikasih nama? Kan nanti bingung kalau mau nyebut dia. Saya melongo. Lalu mulai mikir, cari-cari nama yang kira-kira pas buat si boneka beruang. Entah kenapa kok tiba-tiba yang terlintas di benak saya film jadul dengan pemeran utama Benyamin Sueb yang berjudul Betty Bencong Slebor. Kontan saya bilang ke suami, “Nama dia mulai sekarang Betty!”

Suami saya: “Kenapa kok Betty?

Saya: “Soalnya dia keliatan feminin ketimbang maskulin. Pasti dia beruang perempuan. Dan nama yang terlintas di otak saya adalah Betty” (sambil senyum-senyum sendiri).

Suami saya (kepada saya): “Oh, oke. Iya ya, dia keliatan manis.”

Suami saya (kepada Betty): “Hallo! Mulai sekarang namamu Betty *****.

Tanda bintang lima biji di belakang nama Betty itu adalah nama keluarga suami saya. Jadi mulai hari itu si boneka beruang benar-benar resmi menjadi bagian dari keluarga kami. Sebab bahkan sudah mendapat nama keluarga segala. Uffhhh…

Betty selalu duduk menempati sebuah pojok di sofa tua kami. Ketika kami membeli sofa baru, Betty segera mendapat pojoknya sendiri juga. Sesekali dia menemani saya tidur sore di sofa. Sesekali juga dia menemani suami saya tidur sore di sofa. Menemani? Tepatnya ikut tidur… dalam pelukan saya atau pelukan suami saya. Ini biasanya terjadi di musim dingin.

Boleh percaya boleh tidak. Memeluk boneka beruang saat tidur, terutama di musim dingin, ternyata memberi kehangatan ekstra bagi tubuh. Bahkan kalau kita tidur sudah berselimut cukup tebal, suhu musim dingin di luar masih mampu bikin tubuh di dalam rumah yang hangat gemeletar kedinginan. Apalagi kalau kita sedang tidak/kurang enak badan. Selain itu, sekali lagi boleh percaya boleh tidak, tidur juga menjadi lebih nyenyak.

Kalau menurut saya sih ide tidur sambil memeluk boneka beruang ini mirip dengan ide tidur sambil memeluk guling bagi kebanyakan orang Indonesia. Setiap pulang ke Indonesia untuk menengok keluarga, saya kembali tidur sambil memeluk guling. Kembali? Iya, sebab saya tidak punya guling di rumah di Belanda. Tidak juga berusaha untuk membawa. Jadi baru akan tidur sambil memeluk guling kalau saya pulang ke Indonesia. Tidur sambil memeluk guling atau boneka beruang ini ternyata memberi perasaan nyaman dan aman. Ini kan ide dasar dari berpelukan ya. Sebab tubuh kita merindukan rasa nyaman dan aman itu tadi.

Tidak hanya mendapat nama keluarga, Betty juga selalu ikut serta setiap kali kami pergi menginap di Center Park, sebuah taman luar biasa besar yang menyewakan sejumlah besar cottage. Selain menyewakan cottages, Center Park juga difasilitasi dengan taman hiburan, kolam renang indoor berair hangat, beberapa restoran besar dan kecil dan farmhouse kecil tempat anak-anak kecil belajar bergaul dengan beberapa jenis hewan. Kami pergi menginap di sana beberapa kali. Setiap kali juga Betty pasti ikut. Bahkan mendapat dua anak asuh yang kami adopsi dari mesin pancing boneka.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

========================================

Sejak beberapa bulan yang lalu saya makin giat dengan kegiatan merajut. Merajut dengan dua jarum yang dalam bahasa Inggrisnya knitting. Saya mulai mencoba membuat pola sendiri untuk merajut ini dan itu. Entah kenapa suami saya mulai usil. Dia bilang Betty kepingin pakai baju. Ih…

Beberapa hari kemudian, saat menemani suami nonton teve saya mengambil jarum dan benang rajut dan mulai merajut. Saya tidak bilang kepadanya apa yang sedang saya coba buat. Saya terus merajut sampai tiga hari berikutnya. Suami saya bukannya tidak mengamati. Dia mengamati. Tapi tidak bertanya apapun. Tapi ternyata dia penasaran. Mengamati kerjaan rajutan saya di dalam diam. Sampai akhirnya di malam keempat terhitung dari saat saya mulai merajut sesuatu itu kerjaan rajutan saya mulai menampakkan bentuk masa depannya. Tiba-tiba saja suami saya bertanya, tanpa ba-bi-bu padahal lagi asyik nonton teve. Lebih tepatnya menebak. “Hei, kamu lagi bikin baju untuk Betty ya?!”

Huahahahaa…. ketauan deh!

DSCF7656-edited

DSCF7659-edited

DSCF7661-edited

Saya senyum-senyum sambil manggut-manggut. Dia ketawa ngakak. Lalu dia bilang gini, “Tau nggak? Saya tuh sebenarnya penasaran banget sebenarnya kamu sedang sibuk bikin apa. Tapi saya mencoba untuk nggak bertanya. Saya cuma berusaha menebak aja. Sampai kemarin saya belum berhasil menebak, soalnya hasil rajutanmu sampai dengan kemarin belum menunjukkan bentuk apapun. Nah sekarang ini kamu sedang merajut bagian ini (dia menunjuk bagian rajutan yang akan menjadi bagian pundak/kerung lengan)! Makanya saya bisa menduga.”

Saya cuma menyahut: pintar!!!

Dia nyengir puas dan bangga sambil bilang ke Betty, “Sebentar lagi kamu nggak akan kedinginan lagi!”

Buat saya mengerjakan proyek rajutan baju untuk Betty ini menjadi sebuah batu loncatan penting. Saya jadi mulai mengerti bagaimana harus membuat atau merancang sendiri pola rajut untuk membuat sesuatu. Daya imajinasi visual saya di awang-awang yang selama ini tidak jelas, bahkan sama sekali absurd, mulai tampak jelas. Banyak hal yang berkenaan dengan kerja merajut ini mulai menempati kotak logikanya masing-masing.

Ini sebuah pencapaian besar buat saya. Sebab itu berarti saya bisa mulai membuat sesuatu dengan teknik rajut dua jarum dengan membuat pola sendiri. Saya tidak perlu lagi setiap kali membuat sesuatu dengan menggunakan pola yang diciptakan oleh orang lain.

Setelah mengerjakan sekitar 10 hari, maka jadilah baju pertama Betty. Sederhana saja. Off-white dengan pinggiran merah tua. Tidak sempurna. Tapi untuk usaha pertama kali, saya sangat puas. Yang jelas saya tahu apa yang mesti saya lakukan untuk memperbaiki bola baju Betty ini kalau lain kali saya ingin membuat lagi. Tentu dengan warna, jenis benang dan desain rajut yang berbeda.

DSCF7803-edited

==========================================

Empat malam setelah Betty mulai berpakaian, suami saya bilang ke saya. Begini katanya, “Buncis kepingin juga dibuatkan baju.”

* * * * * *

Advertisements

2 comments

  1. Mbak Retno, bolehkah saya minta nomor kontak, PIN BB, WA atau apapun??? Terima kasih. Untuk segala kebaikannya…

    1. silakan kontak saya di retnopudjiastuti@yahoo.com.

      salam,
      Retno

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: