Harapan di Tahun Baru

Walaupun agak terlambat saya tetap ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU untuk pengunjung dan pembaca Hujan Tengah Hari. Semoga tahun 2015 ini membawa kebaikan dan perbaikan untuk kita semua. Amin.

Sudah lama…sekali saya tidak membuka dan menengok-nengok blog saya ini. Kesimpulannya saya gagal total memenuhi resolusi 2014. Ternyata menulis dan mengunggah tulisan setiap hari di Hujan Tengah Hari bukan urusan yang mudah. Bukan karena tidak punya bahan untuk ditulis dan diceritakan. Tapi proses menulis butuh waktu. Buat saya minimal 2 jam. Kalau sedang tidak banyak kegiatan, hal ini bisa terwujud. Tapi kalau tiba-tiba harus pergi untuk sebuah urusan, atau sedang banyak kegiatan di rumah, duduk tenang di depan komputer selama 10 menit saja jadi urusan yang mustahil. Belum lagi saya sempat mudik ke Indonesia selama 3 bulan. Selama 3 bulan itu juga nggak ada kesempatan untuk bermesraan dengan komputer. Apalagi sebagian waktu dari 3 bulan itu saya habiskan di desa kelahiran ayah saya di satu pojok di kaki Gunung Dieng tanpa akses internet. Saya menyerah kalah dan memutuskan untuk menikmati udara segar pegunungan sambil membantu ayah-ibu saya mengurus taman depan dan belakang rumah mereka di desa sana. Nikmat banget.

Hari ini adalah hari yang saya tunggu-tunggu untuk kembali aktif menulis di Hujan Tengah Hari. Boleh percaya, boleh juga tidak, saya rindu menulis di blog ini. Senang rasanya bisa kembali duduk tenang dan membiarkan jari-jari tangan saya menari-nari di atas tuts keyboard komputer. Banyak sekali yang ingin saya ceritakan. Bingung mau mulai dari mana. Yang jelas sedang nggak bisa cerita tentang kegiatan bercocok tanam di kebun belakang. Sebab di Belanda saat ini sedang musim dingin. Kebun belakang tampak lengang. Nyaris tak ada kegiatan di situ, selain beberapa tanaman bumbu dapur Italia yang memang tahan hawa dingin dan beberapa lajur bawang putih. Iya, keluarga bawang-bawangan memang juga tahan dingin.

Di dalam rumah saya disibukkan dengan kegiatan membuat komposisi tari, merancang-rancang kostum baru untuk murid-murid, membaca, merajut, menjahit, memasak dan tentu saja membersihkan rumah.

Membaca adalah satu kegiatan favorit yang sempat terhenti cukup lama. Mungkin sekitar 1,5 tahun. Seminggu yang lalu saya masuk ke ruang penyimpanan perkakas bertukang milik suami saya. Di lantai dekat pintu teronggok sebuah dus berisi buku-buku saya. Yang teratas adalah The Tagore Omnibus, volume 1. Melihat sampul buku itu, entah kenapa, tiba-tiba saya rindu membaca. Saya pungut dan bawa turun. Dua hari yang lalu saya sudah selesai membaca cerita pendek pertama yang termuat dalam buku itu. Sekarang saya bisa bilang, saya benar-benar rindu dengan kegiatan yang satu ini.

DSCF7492-edited

Suatu hari, beberapa tahun yang lalu, saya terlibat dalam obrolan ringan dengan suami kakak ipar saya. Obrolannya tentang buku. Dia tanya mana yang lebih saya pilih, membaca buku dengan cara lama (membeli atau meminjam buku dengan bahan dasar kertas) atau membaca buku dengan teknologi masa kini yang menggunakan e-reader atau yang sejenisnya.

Tanpa ragu saya menjawab, saya pilih cara lama. Ketika dia tanya mengapa, saya bilang, ketika membaca, saya tidak sekadar menyalurkan hobi. Tidak pula sekadar menyerap informasi dari apa yang saya baca. Hal yang juga penting untuk saya dapatkan saat membaca adalah sensasi ketika membalik halaman demi halaman, sensasi saat memegang si buku dan mengelus kertas dari halaman yang sedang terpampang di depan mata. Lebih dari itu, dan ini yang paling penting bagi saya, membaca sesuatu dari sebuah buku biasa, menenangkan mata saya. Sebab dari secarik kertas biasa tidak ada cahaya elektronis apapun yang terpancar ke mata saya. Mata saya tidak lekas lelah dan saya bisa tahan membaca lebih lama.

Namun pemenuhan hasrat membaca saya yang caranya kuno ini memang berdampak pada alam. Sebab kertas butuh pohon pinus, atau beberapa jenis pohon lainnya, sebagai bahan dasar pembuatannya. Untuk satu hal ini saya terpaksa kurang bersahabat dengan alam. Juga pundak saya tetap terbebani karena sebab buku bikin tas saya tambah berat. Apa boleh buat. Sensasi sebuah buku dari kertas sederhana memberi ketenangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hal ini tak saya dapat dari membaca informasi yang sama dengan media e-reader atau komputer atau yang sejenisnya. Saya masih sangat membutuhkan sensasi-sensasi yang berkaitan erat dengan nilai rasa ketimbang mendapat pencerahan informasi dan/atau ilmu semata.

Demi kesukaan saya membaca dengan cara kuno dengan alasan yang sangat mementingkan diri sendiri ini, saya berharap semoga bisnis percetakan buku-buku bacaan dengan bahan dasar kertas bisa tetap bertahan untuk waktu yang lama. Maafkan saya wahai pohon-pohon pinus. Maafkan saya hai pundakku.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: