murid yang menginspirasi

Tahun ajaran 2014/2015 ini saya mengubah jadwal kelas tari Kathak. Kalau sebelum tahun ajaran ini saya mengajar satu minggu sekali, setiap jumat petang, selama satu jam, maka tahun ajaran ini saya memperjarang kekerapannya. Sekali dalam dua minggu. Bukan satu jam, melainkan dua setengah jam.

Jadwal yang baru ini memberi beberapa keuntungan buat kami, murid-murid dan saya. Murid-murid saya datang dari kota-kota tetangga. Makan waktu untuk datang ke lokasi tempat saya mengajar. 30-40 menit berkendara. Itu sekali jalan loh. Dan tahun ajaran di Belanda sini lebih banyak melintasi bulan-bulan dingin. Oktober adalah bulan ketika musim gugur sudah berdiri di ambang pintu. Dan untuk sampai di bulan April, saat musim semi tiba dan hari-hari mulai lebih banyak jam terangnya ketimbang gelap, tentu harus melewati November, Desember, Januari, Februari dan Maret. Brrrrr….

Buat mereka, murid-murid saya itu, sungguh menguntungkan tidak tiap awal akhir pekan harus berkendara lumayan jauh hanya untuk mengikuti kelas tari selama satu jam! Belum lagi kalau pakai terlambat segala. Belum lagi harus melintasi jalanan yang lumayan licin kalau pas atau sehabis turun salju. Sekali dalam dua minggu mereka bisa menghabiskan akhir pekan dengan nglungker saja di rumah yang hangat. Atau berhandai-handai dengan keluarga. Mana suka.

Saya juga mengenyam beberapa keuntungan. Sekali dalam dua minggu bisa menghabiskan awal akhir pekan (jumat petang kan sudah terhitung akhir pekan) dengan santai bersama suami tercinta. Biasanya sih hanya menghabiskan malam di depan teve. Menonton acara apa saja yang menarik. Atau menyetel sebuah film yang menarik. Selain itu saya jadi punya waktu ekstra panjang untuk mempersiapkan materi.

Tahun ajaran ini saya ingin jauh lebih produktif. Ingin memberi (mengajarkan) materi yang jumlahnya lebih banyak. Tapi untuk itu saya harus lebih produktif juga dalam menghasilkan komposisi-komposisi tari. Jadwal mengajar yang menjadi sekali dalam dua minggu ini memungkinkan saya untuk lebih lega bernapas dalam usaha menjadi produktif ini. Saya jadi punya lebih banyak waktu untuk duduk di depan komputer, mencari musik-musik yang menginspirasi untuk dibuat komposisi tarinya. Juga mencari teks liriknya. Tentu kalau musiknya pakai lirik juga. Dan yang sering terjadi, musik yang saya pakai adalah musik tradisional India. Liriknya tentu dalam bahasa Hindi atau campuran Hindi-Urdu. Mumetlah pokoknya. Biasanya jadi lebih mumet lagi kalau walaupun liriknya bisa saya temukan di internet tapi artinya atau terjemahannya (biasanya dalam bahasa Inggris) tidak bisa saya temukan.

Pingin nangis.

Ini yang terjadi sejak akhir oktober yang lalu. Saya menemukan sebuah komposisi musik tradisional India Utara (musik Hindustani) yang liriknya menggunakan puisi dari seorang suci India. Kabir. Saya menemukan di internet, komposisi musik ini ternyata ada beberapa versi. Masing-masing punya variasi atau modifikasi liriknya sendiri-sendiri. Walaupun intinya tetap sama, mengambil dari puisi asli ciptaan Kabir. Modifikasi ini dibuat karena komponis ingin menekankan suatu hal atau sebuah nuansa rasa yang sedikit berbeda. Dan ini sah-sah saja dalam dunia musik tradisional India.

Jadi, kembali ke komposisi musik yang menggunakan sebuah puisi ciptaan Kabir ini (biasa disebut sebagai Bhajan Kabir), saya menemukan sebuah variasi dari Bhajan Kabir ini yang begitu mendengarnya pertama kali saya langsung jatuh cinta. Tentu saya langsung mencoba mencari teks liriknya di internet.

Wow!! Jangankan liriknya. Penyanyinya saja saya nyaris tidak menemukannya di dunia maya. Aneh bin ajaib.

Saya cuma bisa menemukan dua buah tulisan yang menyebutkan nama penyanyinya. Dan kedua tulisan itu tanpa foto si penyanyi. Saya cari lebih lanjut, tidak ketemu juga. Penasaran banget.

Okelah. Nggak penting foto wajah pemilik suara indah itu. Teks lirik komposisi Bhajan Kabirnya jauh lebih penting. Setelah bersusah payah mencari akhirnya berhasil juga menemukan. Cuma satu situs. Dan teksnya dalam huruf Devanagari. Itu huruf yang digunakan dalam bahasa Hindi. Puyeng mendadak. Toh saya copas juga di file word document.

Setelah bersusah payah selama tiga minggu penuh, akhirnya jumat siang kemarin ini saya berhasil menerjemahkan teks lirik yang aslinya dalam huruf Devanagari itu. Tentu dengan pertolongan mbah Google dan kamus lengkap Hindi-Inggris keluaran Webster milik saya. Kerja yang bagi penari lokal bisa diselesaikan dalam 1-2 jam, saya selesaikan dalam waktu hampir satu bulan. Berarti hampir satu bulan juga saya duduk di depan komputer selama 5-8 jam. Berasa konyol.

Tapi dari 5-8 jam duduk di depan komputer itu sesekali saya selingi dengan berdiri, mencoba mencari gerakan-gerakan yang pas untuk satu baris tertentu. Tentu baris-baris lirik yang artinya sudah saya dapatkan.

Dan kemarin malam saat mengajar, saya mulai mensosialisasikan nomor baru ini kepada murid-murid saya.

Pertama-tama saya bercerita serba sedikit siapa Kabir. Kemudian beranjak ke liriknya. Interpretasi lirik. Lalu saya mulai mengajarkan beberapa gerakan yang digunakan dalam nomor ini. Yang jelas sih, kepada murid-murid itu saya bilang, “Nomor ini adalah kerja yang belum selesai. Work in progress dalam bahasa kerennya. Saya baru berhasil mendapatkan gerakan-gerakan untuk lirik di bait pertama. Dan gerakan-gerakan itu sudah lumayan final. Walaupun masih ada kemungkinan diubah sedikit di sana-sini. Sementara bait-bait seterusnya, walaupun saya sudah menemukan ide-ide gerakannya, tapi masih berupa ide kasar. Masih perlu dipikirkan, direnungkan dan diolah habis-habisan.” Mereka manggut-manggut dengan senyum dikulum. Berasa excited karena akan mempelajari hal baru. Hahaha… This kind of excitement rings a bell to my ear. I was once like they are now. Kenangan masa lalu yang masih saya ingat dengan sangat jelas.

Yang lebih menarik dan menantang lagi buat mereka adalah karena nomor ini menggunakan gerakan-gerakan yang sebelumnya tidak mereka kenal. Mereka mulai memasuki tahap pelajaran yang lebih serius lagi tentang ekspresi. Yup. Ini artinya mereka belajar lebih mendalam tentang tari Kathak ini.

Pendek kata, kami menghabiskan satu jam terakhir hanya untuk mendiskusikan materi baru ini dan mempelajari 5 gerakan dalam tempo yang sangat lambat. Lima gerakan itu jumlah yang sedikit. Lalu pulanglah mereka.

Saya tetap tinggal di kelas, menghabiskan jam sewa ruangan yang masih tersisa satu jam itu. Awalnya saya agak kram otak, hendak apa. Sebab sebenarnya saya sudah lumayan capek. Kegiatan mengajar jumat malam kemarin itu terasa menguras tenaga dan emosi yang lebih  besar daripada biasanya. Jadi awalnya saya cuma duduk saja. Istirahat sejenak. Lalu sambil duduk saya menyetel lagi musik Bhajan Kabir itu.

Sambil duduk sambil mendengarkan musik tersebut. Sambil melakukan gerakan-gerakan ringan perwujudan ide-ide kasar yang ada di benak saya. Saya menyetel musik tersebut berulang-ulang. Jadi berulang-ulang juga saya melakukan gerakan-gerakan tersebut. Dengan perubahan di sana-sini, mengikuti perkembangan ide dalam benak. Entah dari mana datangnya ilham. Menjelang suami datang menjemput, tiba-tiba komposisi Bhajan Kabir ini hampir jadi. Masih ada beberapa bagian yang “bolong” sebab saya belum menemukan ide gerakan yang sesuai dengan melodinya. Tapi bisa saya bilang 80 persen bagian komposisi itu sudah nyaris final.

Oh wow! Ingin rasanya menepuk-nepuk pundak sendiri. Tapi yang lebih pantas untuk diberi pujian adalah murid-murid saya itu. Sebab merekalah, yang tanpa mereka sendiri sadari, telah menginspirasi saya. Tepatnya menginspirasi hormon adrenalin saya untuk bekerja mencipta dengan lebih cepat.

Kemarin malam itu, ketika awalnya komposisi tari ini baru selesai 20 persennya, saya beberapa kali bilang kepada mereka. “Dalam pertemuan/kelas berikutnya, dua minggu lagi, mudah-mudahan komposisi ini sudah bisa selesai. Saya punya waktu dua minggu. Harusnya sih cukup untuk menyelesaikan komposisi ini. Mereka cuma ber-ya-ya saja. Ternyata di malam yang sama saya berhasil membuat kemajuan yang pesat. Berkat mereka.

Iya, berkat mereka. Murid-murid saya itu. Mereka sangat menginspirasi saya. Senantiasa memberi tenaga positif, walaupun tidak mereka menyadarinya.

Tapi di kelas berikutnya, dua minggu lagi, saya akan bercerita kepada mereka tentang hal yang saya ceritakan di atas ini. Sebab mereka pantas mengetahuinya. Pemberi semangat yang setia. Terima kasih ya.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: