disleksia dan pintar-bodoh

Sebelum tinggal di Belanda saya tidak pernah mendengar istilah yang satu ini. Disleksia. Pertama kali mendengarnya saat R dan saya bertandang, main, ke rumah seorang kolega lama. Si kolega dan istrinya cuma punya satu anak. Perempuan. Ngobrol punya ngobrol lalu saya tanya apa nantinya anak mereka akan meneruskan sekolah ke universitas. Dengan mantap pasangan tersebut menyahut, “tidak.”

Oh.

Kenapa nggak?

Saat itu juga baru saya tahu bahwa di Belanda tidak semua anak usia sekolah boleh melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebelum mereka menyelesaikan jenjang pendidikan dasar, dalam hal ini sekolah menengah pertama, seorang murid harus mengikuti tes nasional yang di negara ini dikenal dengan nama CITO toets. CITO test. Ini semacam tes IQ yang hasilnya digunakan untuk menentukan ke jalur mana seorang murid bisa melanjutkan pendidikannya.

Kolega R menjelaskan bahwa berdasarkan hasil CITO toets anak perempuannya tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Dia dan istrinya sendiri juga berpendapat bahwa anak mereka tidak perlu sekolah setinggi itu. Alasan utama mereka adalah karena si anak perempuan memiliki masalah disleksia.

Oh. Apa lagi itu?

Secara umum disleksia (Ingg.: dyslexia) didefinisikan sebagai gangguan dalam perkembangan seorang anak dalam usaha belajar membaca dan menulis secara lancar dan dengan pemahaman yang tepat walaupun anak tersebut memiliki tingkat kecerdasan yang normal atau bahkan di atas normal.

Seseorang yang memiliki gangguan dyslexia ini tidak tampak tak normal secara fisik. Seorang penderita dyslexia mengalami ketidakmampuan untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik. Si penderita juga mengalami ketidakmampuan untuk menyusun berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, serta mengalami kesulitan untuk menerima perintah yang seharusnya diteruskan ke memori pada otak.

Informasi yang saya sajikan di alinea di atas tersebut berasal dari situs Wikipedia. Untuk informasi lebih lanjut anda bisa membaca sendiri penjelasan lengkapnya di Wikipedia versi Bahasa Indonesia (silakan klik di sini) atau di Wikipedia versi bahasa Inggris (silakan klik di sini).

Mengapa si penderita disleksia dikatakan tidak mampu menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik?

Coba perhatikan gambar di bawah ini. O ya, gambarnya saya ambil juga dari Wikipedia. Terima kasih.

Dalam gambar di atas ini terdapat 10 macam variasi tulisan “teapot”. Semuanya ditulis oleh para penderita disleksia.

Nah, pertanyaan yang kemudian muncul di benak saya adalah: apakah gangguan disleksia ini juga diderita atau diidap oleh sebagian anak Indonesia? Saya jadi ingat masa-masa sekolah saya. Khususnya di jenjang sekolah dasar. Ada beberapa teman sekolah yang mendapat cap “bodoh” dari guru.

Sekarang saya jadi mempertanyakan apakah mereka benar-benar bodoh dalam artian memiliki IQ yang di bawah rata-rata? Dan kemudian, apakah mereka yang IQ-nya di bawah rata-rata itu benar bodoh?

Apakah cap “bodoh” yang diberikan kepada seseorang diberikan sebegitu mudahnya? Hmmm…

Dengan mengetahui satu lagi gangguan belajar yang diderita oleh seorang anak, disleksia, mungkin saya harus makin hati-hati memberikan cap “bodoh” kepada seorang anak.

Dalam perjalanan waktu hingga hari ini saya belajar untuk tahu bahwa pada umumnya mereka yang menderita gangguan disleksia adalah orang-orang yang cerdas dan berbakat. Namun pada umumnya mereka memang mengalami kesulitan, bahkan kegagalan, dalam menyelesaikan jenjang pendidikan dasar dan/menengah.

Para penderita disleksia umumnya mendapat label “bodoh” dari pengajar mereka saat mereka duduk di bangku sekolah karena ketidakmampuan mereka dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas/sekolah yang sebenarnya disebabkan oleh disleksia atau oleh gangguan kemampuan baca-tulis lainnya.

Penutup:

Satu hal menggembirakan bagi para penderita disleksia. Christian Boer dari Belanda berhasil menciptakan huruf khusus bagi para penderita disleksia. Untuk lebih jelasnya, silakan anda baca sendiri tulisan tentang huruf khusus hasil ciptaan Christian Boer tersebut di sini. Selamat membaca!

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: