lupa rasanya

Jumat lalu saya pergi ke Utrecht bersama seorang murid untuk menonton pertunjukan tari Kathak. Kebetulan pas ada. Kebetulan lagi, penarinya, sepasang suami istri, adalah orang yang saya kenal. Hari dan Chetana (baca: Chetna). Kami bertiga pernah tampil menari di panggung yang sama di Denpasar, Bali, pada 21 Juni 2008.

Hari dan Chetana datang dari Bangalore sebagai bagian dari satu grup sendratari dikirim oleh Indian Council for Cultural Relations (ICCR). Kala itu saya dikirim oleh Pusat Kebudayaan India Jakarta. Juga dikenal sebagai JNICC (Jawaharlal Nehru Indian Cultural Centre) Jakarta. Namun demikian, saya menjadi bagian dari delegasi ICCR India. Sebab JNICC Jakarta (dan JNICC di seluruh dunia) adalah bagian dari ICCR. Kami, saya dan grup tersebut, mengisi acara Bali Art Festival 2008. Saya menampilkan 3 nomor tari Kathak: Sarasvati Vandana, sebuah Thumri dan sebuah Tarana. Grup sendratari tersebut, saya lupa nama grupnya, menampilkan sendratari India dengan judul Bali Yatra.

Ketika mendapati bahwa Hari & Chetana akan tampil di Utrecht saya mendadak girang. Pertama, jarang-jarang ada pertunjukan tari Kathak yang lokasinya lumayan terjangkau dari tempat saya tinggal. Kedua, saya sempat berkenalan dengan pasangan penari ini. Bahkan berbagi panggung ketika tampil beberapa tahun yang lalu itu. Ya, tentu saya mesti datang menonton mereka menari. Sekalian update berbagai hal. Ilmu, semangat, gairah. Semua.

Saking semangatnya pergi menonton, saya lupa beberapa hal remeh tapi buat saya maha penting. Cuaca! Sekarang sudah November. Hari ini tanggal 11. Di Belanda hawa dingin sudah makin menusuk. Nggak mungkin lagi keluar rumah tanpa mengenakan jaket. Setidaknya buat saya yang notabene mahluk tropis 200%. Jumat petang lalu saat pergi meninggalkan rumah sih saya memang pakai beberapa lapis pakaian. Juga jaket winter. Tapi saya tidak membawa topi winter. Muts dalam bahasa Belanda. Yang paling umum muts terbuat dari rajutan benang. Tapi juga bisa didapat yang terbuat dari materi bahan tebal, semisal kain flanel yang tebal.

Aiiihhh… Hari itu angin bertiup lumayan kencang. Dan tau sendirilah. Belanda kan memang negara kincir angin. Artinya, produksi angin di sini memang ekstra banyak. Tidak hanya lumayan kencang tapi juga dinginnya itu loh. Buat saya angin dingin, khususnya yang menerpa telinga, benar-benar bencana. Tapi semangat buat nonton pertunjukan tari benar-benar bikin saya maju tak gentar dan bikin tubuh tak terlalu merasakan hawa dingin itu.

Long story cut short, pertunjukan selesai jam 22.30. Benar-benar menggugah semangat dan sangat menginspirasi. Sebelum pulang saya sempat mengucapkan selamat kepada Chetana dan Hari sekalian berkangen-kangenan sebentar. Lalu kembalilah kami ke Arnhem, saya dan murid saya. Jalan kaki 10 menit ke Stasiun Utrecht disambung 40 menit perjalanan dengan kereta yang datang terlambat 10 menit. Ufffhh… Untung suami saya menjemput di Stasiun Arnhem.

Sampai di rumah sudah 5 menit lewat tengah malam. Rasanya seperti…. hhhmmm… seperti Cinderella yang berkejaran dengan waktu, harus pulang sebelum jam 12 malam. Untung suami saya nggak berubah jadi tikus dan mobil kami nggak berubah jadi labu parang. Saya nggak doyan labu parang.

Rasanya seperti di awang-awang. Super excited sehabis update ilmu setelah sekian tahun tidak menonton pertunjukan tari Kathak secara live. Kepala penuh dengan ide dan inspirasi. Mata lebih sering menerawang ketimbang fokus melihat sesuatu. Senyum-senyum sendiri tanpa sebab yang jelas. Hahaha.. ngeri amat!! R cuma duduk pasrah dan memilih meneruskan nonton televisi. Entah apa acaranya. Mana saya ingat?!

Setelah haru biru mengawang-awang agak reda, yang muncul kemudian adalah lapar dan haus. Jadi saya pergi ke dapur untuk menyendok nasi dan lauk. Juga menenggak air putih sejuk segelas penuh. Nikmatnya hidup.

Dalam keadaan mengawang-awang seperti ini, apalagi dengan perut kenyang, mana bisa saya langsung pergi tidur. Jam 2 pagi baru saya berkangen-kangenan sama bantal. Saat itu baru saya mulai merasakan hal yang aneh mulai terasa di kepala. Pengeng. Untung saya bisa tidur. Dan saya baru bangun jam 11 siang. OMG! Dengan kepala yang terasa seperti balon yang diisi terlalu banyak angin. Kencang. Mata terasa sembab dan njendul. Nggak enaklah pokoknya. Ini semua karena kedua telinga yang tak terlindung oleh muts terterpa angin dingin sepanjang malam saat dalam perjalanan ke dan dari Utrecht. Muts oh muts. Tapi semua itu nggak mampu bikin saya mengeluh. Saya terlalu bersemangat untuk mengeluh. Walaupun kepala terasa berat dan kencang, saya menikmati sabtu dengan sangat pelan. Bergerak perlahan. Beraktivitas dengan perlahan. Hari sabtu yang lalu saya jadi orang Jawa. Alon-alon asal kelakon. Ah, akhir pekan memang mesti dinikmati dengan pelan supaya nikmatnya benar terasa.

Satu pelajaran berharga. Pepatah dalam Bahasa Indonesia: sedia payung sebelum hujan. Begitu hawa dingin mulai mengetuk pintu musim, harus langsung menyelipkan sebuah muts dalam tas. Berjaga-jaga, siapa tau angin bertiup kencang.

Hhmmm… :)

O ya. Saya tidak membuat foto saat menonton Hari dan Chetana. Saya lebih memilih duduk menonton, menikmati keindahan tarian mereka ketimbang sibuk memotret.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: