kapok

Saya hobi banget berkebun. Khususnya bertanam sayur mayur. Sebab hasilnya tidak hanya sedap dipandang, tapi juga sedap dimakan. Rasanya gimana gitu kalau mengkonsumsi sayur mayur hasil menanam sendiri. Sambil makan sambil tak habis kagum pada sayur mayur yang tumbuh subur di kebun belakang di sepanjang musim panas.

Di 2-3 tahun pertama tinggal di Belanda saya suka terkagum-kagum kalau sedang jalan-jalan melewati rumah-rumah yang taman samping atau kebun belakangnya dijadikan kebun sayur. Moestuin dalam bahasa Belandanya. Sesekali melewati rumah dengan taman samping atau kebun belakang yang ditanami labu parang aneka ukuran. Wuiihh… Saya langsung berangan-angan, kira-kira gimana kalau saya menanam labu parang juga. Apakah bisa? Apakah akan tumbuh subur dan menghasilkan buah? Tampaknya kok sulit. Angan-angan dan tanda tanya itu makin diperparah dengan kenyataan saya tidak suka labu parang. Jadi untuk apa menanam kalau nggak suka makannya? Tapi rasa penasaran makin lama makin memuncak.

Musim panas tahun 2008 akhirnya saya tak tahan. Saya pergi membeli sekantong benih biji labu parang varietas raksasa. Istilahnya di Belanda sini reuze pompoen. Giant pumpkin. Dan karena benihnya masih baru, cuma butuh 3-4 hari bagi si benih biji untuk berkecambah dan mengeluarkan bakal tunas sepasang daun pertamanya. Kebetulan saya menyemai 2 benih biji. Berjaga-jaga kalau yang satu gagal tumbuh. Ternyata tumbuh dua-duanya. Ya sudah. Saya tidak suka membuang bibit tanaman. Jadi kedua bibit labu parang itu saya tanam di lahan di kebun belakang. Untung juga saya melakukannya. Sebab ternyata satu tanaman labu pada akhirnya hanya memberi satu buah yang serius. Segitu seriusnya sampai-sampai saya kewalahan setelah kedua buah labu parang itu bisa dipanen.

pompoen collage

Bagaimana nggak kewalahan? Ingatkan varietas benih biji labu parang yang saya beli? Varietas raksasa. Tapi karena tanah lahan kebun belakang saya tidak terlalu subur, maka hasil buahnya juga tidak sebesar yang semestinya. Itu pun saya sudah sangat kewalahan. Yang satu sekitar 11 kg dan yang satunya lagi 14,4 kg.

Pusing tujuh keliling.

Untungnya kenalan-kenalan Indonesia saya di kota tetangga pada suka labu parang. Jadi akhirnya si labu saya bagi-bagi kepada mereka. Sudah saya potong-potong dari rumah. Biar adil. Lalu di tempat kami ngumpul saya distribusikan si labu yang sudah dipotong-potong itu. Saya menyisihkan satu potong untuk diri sendiri. Saya bikin cake labu parang. Ternyata enak sekali. Toh saya tidak berkeinginan untuk menanam labu parang raksasa lagi. Padahal benih bijinya masih tersisa lumayan banyak. Sampai akhirnya musim panas tahun lalu (2013) saya mencoba menanam benih biji labu parang raksasa yang masih tersisa. Tapi tidak ada yang berkecambah dan tumbuh. Mungkin karena benih bijinya sudah terlalu lama/kadaluwarsa. Untung juga sih. Coba kalau si benih biji tumbuh menjadi tanaman yang sehat. Bisa-bisa saya repot lagi mencari korban yang mau diberi labu parang hasil kebun belakang saya. Saya menyebutnya sebagai korban yang berbahagia. Hehehe…

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: