lupa

Saat saya dan suami pergi belanja ke supermarket biasanya kami membuat daftar belanja. Ini awalnya karena kami sering lupa apa saja yang mesti dan/atau ingin kami beli saat berada di supermarket. Terutama bila barang yang mesti dibeli lumayan banyak. Membuat daftar belanja memudahkan kami mengingat apa yang mesti/hendak kami beli.

Kami juga punya cara mencatat daftar belanja. Tidak menjelang berangkat ke supermarket. Melainkan menyediakan post-it yang khusus untuk mencatat daftar belanja dan sebuah pena di meja kerja R, suami saya. Lalu saya atau R akan menuliskan barang-barang yang perlu dibeli on the spot, begitu tahu ada satu hal/barang yang sudah (hampir) habis. Siapa saja yang lebih dulu mendapati sesuatu sudah/hampir habis. Menunggu waktu menjelang berangkat belanja untuk membuat daftar belanja memberi kami risiko yang sama. Lupa itu tadi.

Sesekali masalah baru muncul. Yakni ketika kami lupa (!) membawa kertas daftar belanja itu saat kami pergi ke supermarket. Yang kemudian terjadi adalah kami mencoba mengingat apa saja yang tertulis dalam daftar belanja yang tergeletak di meja di rumah. Ini terjadi misalnya tadi sore.  Tapi kali ini tadi untungnya kami sempat memeriksa sekali lagi kertas daftar belanja sebelum kemudian sibuk menyiapkan dus dan kerat botol bir untuk diangkut ke bagasi mobil sebelum kemudian kami mengenakan jaket winter dan berangkat. Tanpa daftar belanja, tentu saja. Karena kami sempat memeriksa daftar belanja sebelum melupakannya, kami cukup berhasil mengingat apa-apa saja yang mesti kami beli. Kecuali satu hal. Dan untungnya barang yang lupa kami beli itu bukan hal yang penting. Jadi bisa dibeli kapan kami ke supermarket lagi.

Sayangnya tidak setiap kali kami sempat memeriksa kertas daftar belanja sebelum berangkat ke supermarket Kadang bahkan tidak sempat memeriksa si daftar sebelum melupakan dan meninggalkannya di atas meja di rumah. Padahal ada barang(-barang) yang benar-benar penting untuk dibeli.

Lalu apa yang terjadi pada kami kalau situasinya seperti ini?

Suatu hari kami harus pergi ke supermarket untuk membeli 4 macam hal. Satu di antaranya, yang maha penting untuk hari itu, adalah bawang putih. Sebab bawang putih di rumah sudah habis..bis.. Sementara saya hendak memasak makan malam dengan bumbu utama bawang putih. Nah loh.

Jadilah kami pergi ke supermarket untuk membeli bawang putih dan 3 hal lain yang sekarang saya tidak ingat lagi apa. Dan ketika berangkat ke supermarket, kami lupa membawa kertas daftar belanja. Main pergi saja. Ya sudah. Mari belanja tanpa daftar belanja. Tiba kembali di rumah, kami membawa tiga hal yang memang tertulis dalam daftar belanja plus 3-4 hal tambahan yang tidak tertulis dalam daftar. Kami cuma lupa membeli satu hal. Bawang putih yang maha penting untuk memasak makan malam hari itu. Pffhhh…

Dan hari itu sekali lagi kami harus ke supermarket. Untuk membeli bawang putih, tentu saja.

Sekali pernah terjadi. Kami mesti bolak-balik ke supermarket sampai tiga kali dalam sehari. Menyaingi jadwal minum obat. Dan ini, sudah bisa ditebak, gara-gara lupa.

Bener deh. Lupa itu bikin capek. Sudah mencari cara untuk mengatasinya, tapi hmmm…

Cara saya mengatasi lupa:

1. membuat daftar belanja (dan kadang-kadang ceritanya seperti di atas itu)

2. menulis semua janji dalam agenda (tapi kemudian saya lupa menengok-nengok agenda. weekk…)

3. menulis catatan di fasilitas pengingat (reminder service) yang disediakan oleh telepon genggam. Tampaknya cara ini yang paling efektif sampai dengan saat ini.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: