Mbah Yem

Banyak kenangan indah sering melintas di ingatanku, kenangan indah masa kecil dulu. kenangan akan Mbah Kasiyem, atau Mbah Yem sebagaimana kami biasa memanggilnya, adalah salah satunya.

Mbah Yem ikut kami tak lama sejak kami pindah ke Jakarta. Ketika itu Mbah Yem masih lumayan muda, awal 50-an. Parasnya cantik khas desa. Mbah Yem berasal dari Desa Kuwu dekat Semarang. Bagiku Mbah Yem adalah perempuan yang kuat. Beliau mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah tangga di rumah kami seorang diri dan masih pula membantu ibuku mengasuh kami, kakakku, aku dan adikku. Pfffhhh… bukan hal yang mudah sama sekali! Namun menurutku Mbah Yem punya kharisma tersendiri dan membuat kami segan dan sekaligus sayang kepadanya. Sejak awal Mbah Yem telah menjadi bagian dari keluarga kami.

Lumayan lama Mbah Yem ikut kami, sejak aku duduk di kelas 2 SD hingga menjelang aku selesai kuliah, sekitar tahun 1995. Dan ketika akhirnya Mbah Yem memutuskan untuk pulang ke Desa Kuwu-nya untuk beristirahat, orangtuaku mengirimkan uang pensiun secara teratur lewat seorang budeku yang tinggal di Semarang. Namun akhirnya kiriman uang pensiun untuk Mbah Yem terpaksa distop karena budeku mengalami patah kaki akibat ditabrak motor dan sejak itu selalu sulit untuk berjalan jauh.

Setelah beberapa tahun hilang kontak dengan Mbah Yem, suatu hari kami berhasil menghubunginya via seseorang yang dikenal oleh budeku. Kami minta Mbah Yem untuk datang ke Jakarta dan tinggal bersama kami supaya kami bisa merawatnya. Seorang cucunya membawanya ke Jakarta. Mbah Yem tampak tua tetapi sehat dan segar. Kami sangat gembira bisa kembali bertemu dengannya. Mbah Yem juga sangat gembira bisa berada di antara kami lagi.

Namun setelah dua bulan tinggal bersama kami kondisi kesehatan Mbah Yem secara berangsur-angsur memburuk. Mbah Yem jadi sering masuk angin. Tampaknya tubuh tuanya tidak lagi bisa tahan dengan kondisi alam Jakarta yang sarat dengan polusi. Akhirnya dengan berat hati kami memutuskan untuk mengirimnya pulang ke Desa Kuwu, di mana ia bisa menghirup udara desa yang pasti jauh lebih segar dan sehat ketimbang udara Jakarta.

Sejak itu pula kami tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Mbah Yem. Beberapa kali ibuku mencoba mengirim surat, tetapi tidak pernah ada jawaban. Sayang sekali. Mungkin Mbah Yem tidak ada lagi. Entahlah. Tapi yang jelas Mbah Yem selalu dan akan selalu menempati salah satu sudut indah di hati dan ingatanku.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: