pulang

Hari minggu, pagi-pagi, bangun tidur saya dikejutkan dengan berita duka. Seorang teman masa kecil berpulang ke rumah Tuhan.

:'(

Teman saya ini sejak dua tahun terakhir menderita kanker.

Berawal dari kista di indung telur atau rahim, entahlah. Mungkin juga miom di dalam rahim. Saya tidak ingat pastinya. Tapi satu dari ketiga kemungkinan ini, yang kemudian berubah menjadi ganas dan menggerogoti dia dari dalam, sedikit demi sedikit.

Kalau tidak salah mengingat ceritanya, awalnya teman saya ini hanya menjalani operasi untuk melenyapkan kista atau miomnya. Tapi menurut informasi yang saya baca dan dengar dari sana-sini, kalau kista atau miom yang bersemayam di dalam rahim hanya dibuang tanpa mengangkat rahimnya, si kista atau miom itu akan muncul lagi, lagi, lagi dan lagi. Dan awalnya teman saya tidak mau rahimnya diangkat. Sebab dia belum punya anak. Jadi masih hendak berusaha untuk punya anak. Nah, katanya lagi, kalau sukses bisa hamil, kista atau miom ini akan hilang dengan sendirinya. Tapi teman saya tidak kunjung hamil. Dan kista atau miomnya kembali muncul. Lagi. Dan banyak. Dan besar-besar. Walaupun dia sudah pergi berobat. Ke dokter maupun ke pengobatan alternatif. Hingga akhirnya ketahuan si kista, atau miom, entahlah, kemudian menjadi ganas. Bahkan ketika ketahuan menjadi ganas itu dalam bentuk kanker, sudah mulai menyebar ke ginjal juga.

:'(

Tapi untungnya teman saya ini langsung sadar dan mengambil langkah tepat. Dia langsung setuju menjalani operasi untuk mengangkat rahimnya. Kemudian dia menjalani prosedur kemoterapi. Dan yang membuat dia jadi merasa cukup ringan menjalani semua ini sebab suaminya sangat mendukung keputusannya. Bahkan suaminya yang mendorongnya untuk menjalani operasi pengangkatan rahim. Dia bilang, “Saya lebih memilih untuk tidak punya anak tapi kamu sehat.” Angkat topi untuk suami teman saya ini.

Yang saya suka dari teman saya ini adalah optimismenya. Pikiran dan sikapnya demikian positif. Membuatnya tampak begitu ringan hati menjalani operasi dan prosedur kemoterapi yang saya tahu pasti sangat tidak mudah. Penuh dengan rasa sakit.

Saya sempat menelponnya suatu hari tahun lalu. Suaranya itu loh. Riang gembira. Penuh harapan. Sangat positif. Senang mendengarnya. Saat itu dia bilang dia tinggal menjalani dua kali kemoterapi lagi. Dan setelahnya tinggal pemeliharaan saja. Untuk menjaga agar sel-sel kanker tidak kembali untuk mengganas lagi. Saya ikut lega mendengarnya. Saya terus mengikuti perkembangan kabarnya lewat Facebook. Itu terjadi hingga november. Sesudah itu dia menghilang dari media sosial tersebut. Dan itu tidak saya sadari. Kesibukan rutin setiap desember membuat saya lalai mengikuti perkembangan kabar teman saya ini. Dan itu terus berlangsung hingga tadi pagi, saat bangun tidur, saya mendapat kabar duka dari beberapa teman kami. Sesama teman masa kecil. Teman-teman dari masa Sekolah Dasar.

:'(

Selamat jalan, teman. Perjuanganmu sudah selesai. Segala kesakitanmu sudah lenyap. Selamat beristirahat dengan tenang dan senang di surga sana.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: