tiga hari terakhir 2013

Sebenarnya saya ingin berbagi cerita tentang tiga hari terakhir 2013 ketika tahun 2014 belum sampai lewat 5 hari. Tapi ternyata baru kelakon hari ini.

Tiga hari terakhir bulan desember 2013 saya lewatkan dengan cara dan kegiatan yang agak luar biasa. Seorang teman lama datang berkunjung ke Belanda. Itu terjadi tanggal 27 desember. Lalu dia menginap di rumah kami selama 2 malam, 29 dan 30 desember. 31 desember dia melanjutkan perjalanan menuju Belgia.

Teman lama ini seorang perempuan Jepang. Dulu kami bertetangga kamar di rumah bapak kos kami di Delhi. Itu terjadi awal 2003 hingga menjelang saya selesai studi tari, medio 2005. Dulu, ketika bertetangga di rumah kos di Delhi, kami jarang berkomunikasi. Dia sibuk. Saya ya sama saja. Tapi sesekali kami saling menyapa bila kebetulan berpapasan. 1-2 kali kami saling berkunjung untuk minum teh bersama. Di tempat dia kami minum teh hijau Jepang. Di kamar saya kami minum teh melati Indonesia. Tentu dengan cemilan seadanya.

Kedatangan teman Jepang saya ini direncanakan dengan lumayan mendadak. Cuma kurang dari 3 minggu sebelum Natal. Tapi saya selalu senang bertemu teman lama. Apalagi yang datang dari Delhi. Apalagi yang berbagi begitu banyak kenangan yang sama. Kenangan akan rumah kos dengan segala kenyamanannya. Ah… Dengan senang hati!

2013-12-29 10.38.53-edited

Tanggal 29 desember saya menjemputnya di sebuah kafe di stasiun Amsterdam Slotterdijk, dekat hotel tempatnya menginap selama 2 malam. Kami ngobrol lumayan lama di kafe tersebut sebelum akhirnya berangkat naik kereta menuju Arnhem. Sesampai di Arnhem saya membawanya berjalan-jalan melihat dan menikmati pusat kota Arnhem menjelang tahun baru. Saya ajak mencicipi oliebollen dan appelbeignet, gorengan khas Belanda setiap menjelang pergantian tahun. Juga stroopwafel khas negara kincir angin ini. Lalu kami makan malam yang sedikit kepagian di sebuah kafe di bagian belakang pusat perbelanjaan Arnhem. Dia begitu menikmati. Syukurlah!

2013-12-29 14.41.24-edited 03

Hari sesudahnya, 30 desember, kami menghabiskan pagi di rumah. Kemudian pergi ke pasar tradisional di Nijmegen siang harinya. Di sana saya ajak dia mencicipi ikan goreng tepung khas. Gebakken kibbeling.  Oh…. nyaamm… Dan ketika sedang asyik menikmati ikan goreng tepung ala Belanda ini dia melihat baki penuh dengan ikan tanpa kepala dijejer rapi. Ikan haring yang difermentasi dengan menggunakan garam. Seorang bapak tua membeli seekor. Penjualnya membubuhkan bawang bombay yang dicacah. Si bapak tua menyantap ikan haring tersebut dengan cara tradisional. Mengangkat si ikan di bagian ekor tinggi-tinggi hingga bagian tubuh menjuntai, lalu mengemplok dari bagian lehernya (bagian kepala sudah dibuang).

2013-12-30 13.43.46-edited

2014-01-10 11.50.12-edited 02

Teman Jepang saya melihat dengan takjub, lalu minta ijin memotret si bapak tua ketika sedang beraksi melahap ikan haringnya. Si bapak tua baik itu dengan senang hati dan bangga pasang pose. Hahahahaa… Terima kasih ya, Pak.

Selesai sesi motret teman saya tanya, itu ikan apa sih? Dan kenapa cara makannya begitu? Lalu saya jelaskan tentang ikan haring yang difermentasi itu dan cara menyantapnya secara tradisional. Lalu saya tawari dia untuk mencicipinya. Dia mengangguk senang. Lalu saya beli satu dan minta dipotong jadi empat. Dibubuhi bawang bombay cacah. Teman Jepang saya bilang, “Enakkk!!!” Ahahahaaa.. syukurlah.

Petang harinya R dan saya membawa dia pergi makan panekuk khas Belanda di sebuah restoran panekuk di sebuah pojok Arnhem. Dan malamnya, di rumah, kami makan bakmi goreng buatan R sambil ngobrol santai bertiga.

2013-12-30 17.20.01-edited 03

2013-12-30 17.22.10-edited 03

2013-12-30 17.25.01-edited 02

Lalu tibalah 31 desember pagi. Setelah selesai menyiapkan sangu makan siang untuk Ron dan sarapan roti dengan lapisan keju iris, kami bersiap menuju stasiun Utrecht. Teman Jepang saya mesti melanjutkan perjalanannya menuju Brussel, Belgia, di hari terakhir 2013. Dari terminal bis di stasiun Utrecht dia menumpang bis Euroline.

Ah…teman, walaupun kenyataannya 2 malam tapi kunjunganmu terasa hanya beberapa jam.

Setelah bis Euroline yang dia tumpangi berangkat saya berjalan menuju pusat Nijmegen. Saya ingin makan siang di sebuah kedai Indonesia yang terkenal di sana. Sari Rasa. Sesampainya di kedai Sari Rasa kok saya jadi ragu-ragu. Urung masuk ke kedai, saya berjalan ke luar, menyeberang jalan dan melangkah menuju Gereja St. Agustinus. Walaupun tidak mengecek jadwal misa sebelum berangkat, saya sok yakin bakal ada misa di sana. Misa tutup tahun.

2013-12-31 12.17.01-edited

2013-12-31 13.40.38-edited

Dan saya memang beruntung. Misa tutup tahun di gereja itu benar ada. Mulai jam 12 siang. Yang datang tidak banyak. Dipimpin dua orang pastor, misa tutup tahun di Gereja St. Agustinus, Utrecht, begitu syahdu. Terima kasih, Tuhan.

Selesai misa saya kembali menuju kedai Sari Rasa. Kali ini saya mantap masuk untuk makan siang di situ. Tahu petis dan es cendol adalah menu yang saya pilih. Nyaaamm… Setelah selesai menyantap makan siang terakhir saya di tahun 2013 saya pulang ke rumah naik kereta.

2013-12-31 14.03.04-edited

Sesampai di rumah saya tidak ambil waktu untuk beristirahat. Saya malah bergegas ke dapur dan mulai menimbang dan menakar. Bikin oliebollen. Ini bola-bola goreng khas Belanda yang biasanya disajikan dalam empat variasi. Tawar/tanpa campuran, dicampur kismis, dicampur potongan-potongan apel atau dicampur sukade. Kalau saya sih selalu bikin yang dicampur kismis. Ini yang paling banyak dikonsumsi rakyat Belanda saat merayakan malam pergantian tahun. Selesai membuat adonan oliebollen barulah saya duduk di sofa untuk bersantai. Istirahat sejenak sambil menunggu adonan dibiarkan mengembang selama satu jam.

DSCF4402-edited

2014-01-01 00.07.12-edited

Malamnya, R dan saya pergi ke rumah ibu mertua saya sambil membawa bola-bola goreng kismis khas Belanda. Di sana selain ibu mertua saya sudah ada juga kakak ipar saya dan suaminya. Sudah dua tahun ini kami merayakan malam pergantian tahun berlima. Kami datang untuk menemani ibu mertua saya yang memang sudah janda. Dan yang jelas, memang paling asyik merayakan malam pergantian tahun di rumah beliau. Sebab beliau tinggal di apartemen khusus untuk orang-orang usia lanjut. Dan apartemen beliau terletak di lantai 9. Saat jam berdentang 12 kali dan orang-orang satu kota menyalakan mercon, petasan dan kembang api kami bisa melihat dan menikmatinya dengan jelas. Dengan catatan kalau malam pergantian tahun tidak diselubungi kabut. Dan perayaan pergantian tahun 2013-2014 yang baru lalu kami beruntung. Langit begitu cerah. Dan kami menonton mercon, petasan dan kembang api itu dengan nikmat.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: