upacara kematian dengan undangan

Di Indonesia bila seseorang meninggal dan kita kenal maka biasanya kita akan datang melayat. Kecuali kalau kita berhalangan. Misalnya sedang di luar kota/negeri atau sedang sakit. Berita tentang kematian inipun biasanya kita terima dari mulut ke mulut. Per telepon atau sms atau pesan lewat media sosial yang sekarang banyak ragamnya. Begitu mendapat berita tentang kematian secara lengkap dan bisa pergi melayat lalu kita bisa berangkat. Sendiri atau janjian bersama teman/kenalan/saudara yang juga ingin pergi melayat. Tempat melayatnya bisa beragam. Rumah tinggal atau di rumah-rumah duka yang disediakan oleh beberapa rumah sakit.

Di India pun sama saja. Walaupun sampai saya menyelesaikan studi tari saya tidak pernah berkesempatan melayat seseorang di sana. Puji Tuhan! Orang-orang yang saya kenal di sana sehat walafiat. Saya tahunya cuma berdasarkan cerita teman-teman India saya berdasarkan pengalaman mereka melayat orang meninggal. Jadi saya pikir, “Oh… ternyata di sini (India) sama seperti di Indonesia.”

Rasa heran muncul ketika saya mulai tinggal di Belanda sini.

Dua tahun pertama saya tinggal di Belanda tidak ada berita kematian. Semua orang sehat dan baik-baik saja. Syukurlah. Lalu suatu hari saya ditelpon oleh seorang kenalan Indonesia yang tinggal di kota tetangga. Sebut saja A. A mengabarkan berita duka. Ibu mertuanya berpulang. Ah… saya turut berduka ya. Yang tabah.

Lalu saya menyampaikan berita duka ini kepada dua kenalan Indonesia lainnya. Sebutlah B dan C. Saya tanya kepada mereka apakah akan pergi layat. B, yang sudah lebih lama tinggal di Belanda, minta saya untuk menyampaikan kepada A bahwa kami ingin pergi melayat ibu mertuanya. Sebelum menelpon A, saya menyempatkan menelpon C. C, berdasarkan penjelasan dari suaminya yang orang Belanda juga, bilang, “Kata suami gue kalau kita nggak dapat undangan ya kita nggak pergi layat. Cuma ngucapin turut berduka aja kalau pas ketemu atau lewat telpon.” Hmmm… Di situ saja saya sudah mulai merasa aneh. Saya tanya R, suami saya. Dia kan orang Belanda. Jadi mestinya tahu bagaimana kebiasaan yang berlaku di Belanda tentang kematian. Jawabnya, siapapun boleh datang melayat orang yang meninggal kalau mereka merasa kenal dengan orang yang meninggal itu atau setidaknya kenal dengan keluarga langsungnya. Okelah. Lalu saya menelpon A. Dan saya pun lumayan terhenyak ketika A bilang, “Kalau kamu mau melayat ibu mertuaku silakan saja. Sebab kamu pernah menengok ibu mertuaku ketika beliau dirawat di rumah sakit. Tapi aku rasa B tidak perlu. Sebab dia tidak pernah mengenal ibu mertuaku.” Saya terdiam membisu dan akhirnya cuma bilang, “Oh, gitu ya. Okelah kalau begitu.” Dan saya menutup telpon. Saya menceritakan hasil pembicaraan di telpon kepada R. Dia merasa sangat heran. Apalagi A, B, C dan saya saling kenal. Walaupun dalam hal ini yang pernah bertemu ibu mertua A memang cuma saya. Tapi B dan C kenal baik dengan A.

Aduhhh.. ingin ikut mendoakan dan mengantarkan orang yang meninggal ke tempat peristirahatan terakhirnya saja kok rumit amat ya?! Berasa dipersulit banget.

Akhirnya yang datang melayat ibu mertua A memang cuma saya dan R. Kami datang ke gereja di Arnhem, tempat misa requiem diselenggarakan. Di sana kami bertemu dengan adik perempuan A yang juga tinggal menetap di Belanda. Ketika melihat saya seusai misa requiem dia menghampiri saya dan bilang, “Aduh, terima kasih ya, Ret, kamu mau datang. Saya menghargai atensimu.” Saya cuma tersenyum sambil bilang, “Sama-sama, mbak.” Tapi duuhh.. sebenarnya saya ingin… sekali bilang sama dia bahwa sebenarnya teman-teman yang lain juga sangat ingin datang. Tapi… hhmm…

Itu gegar budaya pertama yang saya alami di Belanda yang berkenaan dengan kematian.

Kalau tidak salah tahun 2008 suami kakak perempuan ibu mertua saya meninggal dunia. Beliau memang sudah sepuh dan selama setahun terakhir sebelum meninggal beliau sakit-sakitan. Dua hari setelah beliau meninggal R dan saya menerima sepucuk kartu. Isinya informasi standard tentang paman ipar kami ini. Tanggal lahir, tanggal meninggal, tempat disemayamkannya jenasah beliau dan tempat/tanggal/waktu diselenggarakannya upacara kematian sebelum jenasah beliau dimakamkan. Kartu inilah yang dimaksud oleh C seperti yang saya ceritakan di atas tadi.

Sebenarnya, kalau ditilik lebih jauh, ide dasar kartu kematian ini sama persis dengan kartu undangan pernikahan yang biasa kita terima di Indonesia. Yang membedakan hanyalah tanggal lahir dan tanggal kematian. Kartu undangan pernikahan tidak mencantumkan dua hal ini. Jelas tidak yang kedua itu. Ahahahahaa…

Buat saya ketika itu, bahkan sampai sekarang, tradisi Belanda yang satu ini tidak bisa saya terima dan cerna. Saya sempat beberapa kali melontarkan kritik kepada R. “Kok mau layat orang meninggal seperti mau datang ke pesta nikah, mesti diundang segala. Lah datang layat orang yang meninggal itu kan sebenarnya niat baik, sebab ingin ikut mendoakan dan mengantarkan ke peristirahatan terakhir. Semakin banyak orang yang datang mendoakan dan mengantar kan semakin baik. Kenapa orang yang tidak dapat kartu tidak boleh datang? Orang Belanda tampaknya nggak suka didoakan oleh orang banyak ya!” Hahahaa.. ini kritik yang bercampur rasa kesal sambil nggak habis pikir plus nggak bisa menalar tradisi yang satu ini. R cuma diam seribu bahasa.

Di medio 2013 yang lalu partner seorang kenalan R meninggal. Kami menyebut kenalan Belanda ini E. Kami juga mengenal partner E dengan cukup baik. Orang baik. Walaupun cuma ketemu dia setahun sekali di acara barbeque tahunan tapi saya sedih ketika mendengar berita dia berpulang. Bahkan sempat menitikkan air mata sambil mikir, ah saya tidak akan pernah bertemu lagi dengannya di acara barbeque atau acara lain apapun. Kami anggota acara barbeque kehilangan seseorang yang selalu mampu menghidupkan suasana dengan tawanya yang renyah dan cerita-ceritanya yang selalu penuh semangat.

Kamipun menunggu-nunggu kartu kematian partner E. Sampai hari ini kartu itu tidak pernah sampai. Sebab memang tidak pernah dikirim oleh E. Kami mengetahui jadwal misa requiem dan upacara kremasi partner E (tempat, tanggal dan waktu) dari status yang dipasang E di facebooknya.

Di status itu selain menulis informasi lengkap misa requiem almarhum partnernya, E juga menulis: everybody is welcome.

Aha! Yang ini cara baru… setidaknya untuk ukuran Belanda. Dan beberapa orang kenalan E menganehi caranya. Termasuk R, suami saya. Tapi setelah pulang dari misa requiem almarhum partner E saya jadi maklum mengapa E melakukan hal itu (menyampaikan informasi misa requiem almarhum partnernya lewat status facebook). Sebab yang datang buanyaaakk sekali. Pastilah jumlah kartu kematian yang dicetak oleh pihak asuransi kematian tidak mencukupi. Dan yang diutamakan ya pasti keluarga dan kenalan dekat.

Buat saya pribadi sih kartu yang berfungsi sebagai kartu undangan kematian (begitu saya menyebutnya) tidak penting dan tidak perlu. Kalau saya tahu seorang kenalan meninggal tentu saya ingin datang melayat, tidak peduli ini di Belanda. Juga tidak peduli apakah saya mendapat kartu kematian atau tidak.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: