buku-buku masa kuliah

Semasa kuliah dulu sebisa mungkin saya memiliki buku-buku teks yang digunakan. Kalau buku-buku itu bisa dibeli di toko buku, pasti saya beli. Kalau bukunya tidak dipublikasikan di Indonesia, maka sebisa mungkin meminjam untuk difotokopi satu buku utuh. Biasanya kemudian saya minta untuk dijilid dengan hard cover juga. Ini tentunya kalau sedang punya uang cukup banyak. Maklum, sebagai anak kuliah dan anak kos pula keuangan saya kembang kempis.

Saat akhirnya lulus (pfffhhh…) saya mendapati bahwa ternyata koleksi buku-buku teks cukup banyak. Ini sangat terasa ketika saya membereskan buku-buku tersebut dan menyimpannya di dalam dus. Kamar saya yang maha mungil di rumah orangtua tidak mampu menampung semua buku-buku itu. Jadi mesti dibikin ringkes, dimasukkan ke dalam dus. Tiga dus besar. Tapi yang masuk dalam tiga dus itu bukan hanya buku-buku kuliah. Berkas-berkas fotokopian bahan kuliah dan kertas-kertas ujian juga ikut memenuhi ketiga dus itu.

Sampai tiga tahun yang lalu saya masih selalu berpikir, atau tepatnya berharap, akan bisa membaca lagi beberapa -kalau tidak semua- buku-buku teks itu. Sebab saya selalu merasa, semasa kuliah saya tidak benar-benar memiliki kesempatan untuk membaca buku-buku itu dengan nikmat. Semasa kuliah saya membaca buku-buku itu dengan tingkat tekanan yang tinggi. Entah itu karena akan ujian atau karena mesti membuat berbagai tugas yang diberikan oleh dosen. Tapi semakin lama semakin saya menyadari mustahilnya harapan itu.

Minat saya beralih. Kesibukan kerja menyita waktu dan tenaga. Kalaupun saya kemudian membaca, saya memilih bacaan-bacaan yang ringan dan yang bisa mengalihkan beban pikiran tentang pekerjaan. Dan ketika kemudian saya mendapat kesempatan untuk menjalani studi tari di New Delhi, maka harapan itu makin tampak muskil. Buku-buku tetap tinggal di Jakarta dan saya di Delhi. Apalagi disambung dengan pernikahan dengan R yang membuat saya pindah tinggal di Belanda sini. Segitu-gitu saya masih berusaha membawa beberapa buku teks semasa kuliah. Saya memilih yang paling saya minati. Yakni yang berkaitan dengan pendidikan. Namun, buku-buku itu cuma menjadi penghias rak buku tanpa saya buka dan baca.

Tiga tahun yang lalu akhirnya saya menyerah dan berhenti berharap. Saya pikir, lebih baik waktu dan tenaga saya pakai untuk menggeluti hal-hal yang kini saya minati. Tapi buku-buku yang jumlahnya lumayan ini mesti dikemanakan?

Seorang teman baik masih berkarya di kampus. Ya, setelah lulus dia bekerja di kampus. Lalu saya mengontaknya, menyampaikan niat untuk menyumbangkan buku-buku teks koleksi saya. Dia meminta saya membawa buku-buku itu ke kampus. Sayangnya tahun 2011 ketika saya mudik bersama R akhirnya saya tidak bisa melakukannya. Niat ini baru bisa saya penuhi di mudik yang terakhir, oktober-november 2013 kemarin.

Beberapa buku yang dulu saya bawa ke Belanda, saya bawa pulang lagi ke Jakarta. Isi tiga dus besar saya sortir habis-habisan. Duh… debunya!! Saya sampai mesti mengenakan sarung tangan karet selama melakukan penyortiran. Segala hal yang menurut saya sudah tidak berguna lagi saya buang. Berkas-berkas yang ada nama dan atau alamat seseorang saya musnahkan. Sedangkan berkas-berkas yang bisa diloakkan saya sisihkan untuk kemudian diikat rapi. Ini untuk memudahkan orang rumah dalam menyimpan berkas-berkas yang akan diloakkan, menunggu tukang loak langganan muncul. Juga agar tukang loak mudah menimbangnya saat terjadi transaksi nantinya. Buku-buku yang sudah selesai disortir saya ikat menjadi beberapa kelompok. Beberapa hari kemudian akhirnya saya antar ke kampus, diterima oleh teman saya itu. Oh… rasanya lega sekali.

Lega karena:

1. buku-buku itu masih memberi guna bagi orang lain, khususnya para mahasiswa yang sekarang aktif kuliah;

2. saya menggurangi kepadatan ruang dalam rumah orangtua saya. Bayangkan saja. Tiga dus besar!

3. saya memenuhi janji kepada diri sendiri untuk membereskan buku-buku dan semua berkas yang termuat dalam tiga dus tersebut plus buku-buku yang masih memenuhi rak buku dalam kamar saya di rumah orangtua.

Kepulangan saya yang berikutnya sudah saya jadwalkan untuk membereskan lemari pakaian. Ya, kegiatan selanjutnya saat mudik adalah menyortir lemari pakaian… :)

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: