mengolah kemarahan dan kesedihan

Percaya nggak kalau saya bilang kemarahan itu sumber tenaga yang besar sekali? Kalau tidak, percayalah!

Kemarahan adalah sumber tenaga yang sangat besar. Layaknya pembangkit listrik tenaga air atau tenaga angin dan lain-lain. Dan itulah sebabnya menagapa kalau kita sedang marah maka pelampiasannya seringkali berupa menutup pintu dengan cara dibanting, bukan pelan-pelan seperti kalau kita sedang tenang. Atau kadang berupa teriakan-teriakan yang meledak-ledak. Sebab ketika marah tenaga kita mendadak berlimpah ruah dan butuh penyaluran segera.

Dulu saya juga begitu. Yang paling saya ingat adalah ketika saya masih kuliah. Entah kenapa, saya lupa, saya berangkat dari kos-kosan menuju kampus dengan hati kesal. Marah. Baru di tengah perjalanan, itu sudah separo jalan, saya tiba-tiba menyadari, kok saya tiba-tiba merasa lelah sekali. Padahal rute yang saya lewati itu setiap hari saya tempuh. Kadang 2-3 kali, kalau ada jeda waktu agak panjang di antara mata kuliah yang satu dan yang lain. Sontak saya berhenti. Napas saya terengah-engah. Welehh…

Kemudian saya sadar. Ternyata separo perjalanan dari kos ke kampus itu saya tempuh dengan cara berjalan sangat cepat. Hahahaa… Dan tau sebabnya? Karena marah itu tadi. Kemarahan saya menjadi tenaga pembangkit tubuh yang mesti segera disalurkan. Dan saat itu tanpa sadar saya menyalurkannya dengan cara berjalan kaki ngebut sekali.

Setelah menyadari itu saya segera menghela napas panjang beberapa kali untuk menenangkan diri. Entah kenapa, menghela napas panjang beberapa kali itu bikin saya jadi lebih tenang. Lalu saya kembali mulai melangkah, meneruskan perjalanan menuju ke kampus, dengan lebih tenang. Dengan melangkah perlahan. Sesampai di kampus, saya sudah kembali tenang.

Ini berlaku juga saat sedang sedih. Kesedihan juga sebenarnya sumber tenaga yang berlimpah. Tapi lebih tidak terasa bila dibanding dengan kemarahan. Tapi ini menurut saya loh.

Sejak beberapa tahun terakhir ini saya berusaha untuk bisa mengolah kemarahan dan kesedihan dengan lebih baik. Ini tentu setelah saya menyadari hal yang saya katakan di atas tadi. Bahwa kemarahan dan kesedihan butuh disalurkan. Dan penyalurannya sebaiknya ke hal-hal yang baik dan positif.

Jadi sejak menyadari hal ini saya melatih diri untuk tetap menutup pintu dengan pelan dan tenang walau amarah sedang menggelegak sampai ke ubun-ubun. Kalau sedang sedih, saya mengalami kesulitan yang lebih besar untuk mengolah tenaga yang dihasilkan oleh kesedihan itu. Sebab bila sedang sedih saya cenderung tidak ingin melakukan apa-apa. Padahal tidak melakukan apa-apa malah bikin kesedihan itu jadi makin terasa dan berlarut-larut. Untuk yang terakhir ini saya masih harus sangat memaksa diri untuk menyalurkan tenaga yang dihasilkannya.

Cara yang saya lakukan untuk menyalurkan tenaga yang berlebih akibat marah atau sedih biasanya dengan berlatih menari. Berlatih menarinya juga bukan yang rumit-rumit. Bukan dengan melakukan gerakan yang beraneka ragam. Sebenarnya juga tidak bisa saya katakan sebagai berlatih menari. Sebab yang saya lakukan sebenarnya hanyalah melatih basic footwork. Footwork ini tidak ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Jadi saya tetap menggunakan bahasa Inggris. Basic footwork ini adalah pelajaran pertama yang saya pelajari dulu ketika mulai belajar tari Kathak. Semua penari Kathak mempelajari basic footwork yang sama sebagai pelajaran pertama ketika dulu mulai belajar tari ini. Sangat dasar. Sangat mendasar. Setiap kali berlatih, yang pasti dilakukan pertama kali pasti basic footwork. Bahkan ketika seseorang sudah menjadi penari Kathak kawakan. Basic footwork ini dilakukan tidak hanya sebagai pemanasan. Namun juga untuk melatih sensitivitas terhadap ritme, melodi, tempo.

P3040153-gungru-edited 02 B-edited

Setiap kali saya sedang marah atau sedih dan melampiaskannya dengan melakukan basic footwork, belum sampai 3 menit melakukannya ketenangan saya mulai pulih. Dan setelah 5 menit pertama lewat, saya tidak lagi mengingat kemarahan atau kesedihan yang tadi melanda saya. Yang ada kemudian hanyalah… hhhmmm.. apa ya? Yang ada kemudian adalah tidak ada. Saya tidak lagi ada. Menyatu dengan apa yang sedang saya lakukan. Trans? Mungkin ya.

Dan melakukan basic footwork sebagai penyaluran kemarahan atau kesedihan itu kemudian menjadi satu latihan tari yang punya nilai lebih. Sebab saya berlatih menari. Saya juga menyalurkan tenaga negatif menjadi satu hal yang positif, berlatih tari itu tadi. Dan ketika saya selesai berlatih, saya menjadi manusia yang baru dengan pemahaman yang baru tentang hal yang membuat saya marah atau sedih. Saya jadi lebih mengerti, sekaligus lebih mengenal, diri sendiri. Saya jadi kembali tenang. Dan setelah selesai berlatih tari itu saya merasa menjadi manusia yang baru. Yang siap menjalani sisa hari dengan sikap dan cara berpikir yang positif.

Basic footwork ini bukan satu-satunya cara saya menyalurkan kemarahan atau kesedihan. Cara lain yang kadang saya lakukan adalah beberes. Atau menjahit. Atau merajut. Apa saja yang bisa menjadi penyaluran tenaga negatif yang sedang membludak. Dan sudah sejak lama saya sudah bertekad walaupun marah dan sedih itu memberi tenaga negatif yang begitu berlimpah, sebisa mungkin saya harus menyalurkannya dengan cara yang positif. Hasilnya bisa diduga. Lemari pakaian jadi kembali rapi. Pakaian kotor yang menggunung tergantung wangi di jemuran. Kalau disalurkan dengan menjahit atau merajut, ya ada hasil jahitan atau rajutannya.

Kadang saya menenangkan diri tidak dengan melakukan kegiatan fisik. Kadang saya cuma duduk, menonton teve. Atau membaca buku sambil menyetel musik yang saya suka. Kadang juga memasak. Tapi yang terakhir ini biasanya saya hindari. Sebab hasil masakannya sih memang ada, tapi dapur kok jadi lebih berantakan dari biasanya. Ufffhh… Nggak banget deh. Malah jadi bete lagi.. Hahaha…

Eh, jangan salah ya. Masih sering juga kok saya gagal mengolah kemarahan atau kesedihan dengan cara yang positif. Namanya saya ini ya manusia biasa. Tapi cepat atau lambat, kesadaran dan ketenangan saya pulih. Dan saat itulah saya mulai mengolah mental. Untuk melakukannya perlu tekad dan usaha yang terus menerus. Setiap kali harus selalu mengingatkan diri sendiri untuk tetap berpikir, bersikap dan bertindak positif. Yang penting tetap semangat dan tetap berusaha.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: