pakaian bukan baru dan niat baik

Menjelang kepulangan saya dan R ke Indonesia medio oktober-november 2013 yang lalu saya mendapat sumbangan pakaian bayi lumayan banyak dari keponakan R. Anak perempuannya sudah semakin besar. Bukan bayi lagi. Oleh karena itu keponakan R memberikan sebagian pakaian bayi yang sudah tidak muat dikenakan anak perempuannya kepada kami. Tujuannya untuk kami bawa ke Indonesia untuk disumbangkan.

Jelas pakaian-pakaian bayi ini bukanlah pakaian baru. Namun masih sangat layak pakai. Sayangnya sudah tidak muat dikenakan oleh anak dari keponakan R. Makanya hendak disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. Saya terpikir untuk menyumbangkannya kepada panti asuhan balita. Dan karena saya dan R berencana untuk berlibur ke Yogyakarta selama satu minggu maka saya berencana untuk menyumbangkan pakaian-pakaian bayi tersebut kepada salah satu panti asuhan balita yang ada di sana.

Panti asuhan balita yang saya tahu berlokasi di Yogyakarta adalah sebuah panti asuhan balita yang awalnya berpusat di Jakarta. Namun sejak satu dekade terakhir memindahkan pusat kegiatannya di kota gudeg ini.

Sayangnya saya tidak sempat mengontak pengurus yayasan panti asuhan balita tersebut sebelum berangkat ke Jakarta. Juga tidak sempat melakukannya saat saya masih di Jakarta, sebelum berangkat ke Yogya. Bahkan saya baru sempat mencari alamat dan nomer telpon salah satu pengurusnya dari internet saat saya telah berada di Yogya. Saya cuma nekat membawa pakaian-pakaian bayi itu ke Yogya. Sok yakin. Lalu saya menelpon ibu pengurus yayasan panti asuhan balita tersebut dari hotel tempat saya menginap.

Hasil pembicaraan per telepon itu sungguh mengagetkan. Ibu pengurus yayasan panti asuhan balita tersebut menolak sumbangan baju bukan baru yang masih sangat layak pakai itu. Alasan si ibu:

1. yayasan menerima terlalu banyak sumbangan pakaian dari berbagai pihak

2. pakaian-pakaian balita yang dimiliki oleh yayasan bagi bayi-bayi asuh mereka tidak dibawa serta oleh orangtua angkat si bayi saat si bayi diadopsi. Para orangtua angkat itu meninggalkan pakaian-pakaian tersebut di yayasan. Alhasil pakaian-pakaian bayi tersebut bisa dialihkenakan oleh bayi-bayi yang lain.

3. bahkan beberapa jenis sumbangan lain seringkali juga disumbangkan kembali kepada pihak-pihak lain. Misalnya susu formula. Sebab banyaknya pihak penyumbang yang menyumbangkan susu formula kalengan. Sementara susu formula kalengan, seperti halnya semua produk makanan, ada masa berlakunya. Kelebihan stok susu formula kalengan ini seringkali disumbangkan ke posyandu-posyandu yang dekat lokasinya dengan yayasan panti asuhan balita tersebut.

Ibu pengurus yayasan tersebut lebih lanjut bilang ke saya bahwa kalau saya berniat menyumbang, sebaiknya dalam bentuk uang saja. Agar pihak yayasan bisa menggunakan uang sumbangan tersebut untuk menggaji para karyawan yang jumlahnya sekitar 60 orang. Uang sumbangan juga bisa digunakan untuk membayar tagihan listrik, telpon dan lain sebagainya.

Walaupun ibu pengurus yayasan tersebut tidak bisa melihat, namun saya tersenyum mendengarkan semua penjelasannya. Senyum saya itu senyum memaklumi sekaligus juga kecewa. Tentu saya memaklumi penjelasan ibu pengurus yayasan itu. Namun tak bisa saya elakkan, saya kecewa. Niat baik yang saya angkut jauh-jauh dari Belanda bertepuk sebelah tangan. Apa boleh buat.

Dengan sopan akhirnya saya cuma bilang bahwa saya mengerti semua penjelasannya. Namun kemudian saya juga bilang bahwa saya akan mencoba mencari panti asuhan balita lain yang mau menerima sumbangan pakaian-pakaian bayi itu. Setelah mengucapkan terima kasih atas waktu yang dia luangkan, saya  mengakhiri pembicaraan telpon tersebut.

Lalu bagaimana? Pakaian-pakaian bayi itu telanjur kami angkut jauh-jauh dari Belanda, lewat Jakarta dan Pekalongan, sampai ke Yogyakarta. Kalau tidak ada yang bersedia menampungnya di Yogya maka kami akan harus membawa pakaian-pakaian mungil itu setidaknya kembali ke Jakarta. Untunglah kami memutuskan untuk tinggal selama satu minggu di Yogya. Jadi ketika itu masih banyak waktu untuk memikirkan mau apa dengan pakaian-pakaian itu.

Suatu hari kami pergi menengok seorang bude dan keluarganya. Bude ini kakak sepupu ibu saya. Beliau dan keluarganya memang tinggal di Yogya. R dan saya ke rumahnya naik becak. Pak becak yang becaknya kami tumpangi itu selalu mangkal di mulut gang tempat hotel kami berada. Dalam perjalanan menuju ke rumah Bude, saya sempat ngobrol sedikit dengan pak becak. Ternyata pak becak yang belum terlalu tua ini sudah punya cucu. Cucunya laki-laki. Usianya dua tahun.

Sehari setelah itu saya pergi mengambil pesanan peralatan menari titipan kakak saya di Pasar Beringharjo. Kali ini saya naik becak yang lain. Lebih tepat saya panggil mas becak. Karena pengemudi becak yang ini masih muda. Agak funky pula. Hobinya mendengarkan musik dari telpon genggamnya dengan menggunakan earphone. Kerenlah pokoknya. Dia tidak hanya mengantar saya ke Pasar Beringharjo tapi juga ke beberapa tempat lainnya. Lalu setelah semua urusan selesai, dia mengantar saya kembali ke hotel.

Dalam perjalanan pulang ke hotel itu saya sempatkan ngobrol sedikit dengan si mas becak. Saya tanya apakah dia sudah nikah. Sudah. Apakah sudah punya anak. Sudah juga. Usia anaknya berapa? Usianya tujuh tahun dan dua bulan.

Cakep!!

Akhirnya saya memberanikan diri bertanya apakah si mas becak mau diberi pakaian-pakaian bayi. Tentu saya menginformasi dia tentang kondisi pakaian-pakaian itu. Dengan amat senang si mas becak bilang mau. Ah… leganya saya. Lega sebab pakaian-pakaian itu tidak sia-sia melakukan perjalanan jauh melintasi benua dan samudra. Lega sebab pakaian-pakaian itu akhirnya akan sampai di tangan mereka yang benar-benar membutuhkannya. Juga saya merasa lega sebab orang yang akan menerima pakaian-pakaian itu benar-benar bergembira dan bersukur menerimanya.

Maka, sesampainya kami di hotel tempat saya dan R menginap, saya minta si mas becak menunggu. Tentu setelah saya membayar tarif becak yang sudah kami sepakati. Saya bergegas masuk ke kamar. Di sana ada R yang sedang asik main game di ipad. Melihat saya masuk kamar dengan tergesa-gesa R bertanya. Serba cepat saya menceritakan kejadiannya. Dia sontak tersenyum lebar banget. Ikut senang. Ikut lega. Dia ikut saya ke depan hotel membawa sekantong plastik besar penuh pakaian bayi. Saya menunjukkan beberapa potong pakaian bayi tersebut kepada si mas becak. Dia mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum lebar. Jelas gembira. Saya lebih gembira lagi sebab saat itu saya yakin dia mengatakan mau menerima pakaian-pakaian bayi itu bukan demi sopan santun. Tapi karena benar-benar mau.

Setelah si mas becak berlalu, tiba-tiba saya teringat pembicaraan dengan pak becak yang satunya lagi. Yang selalu mangkal di mulut gang hotel tempat kami menginap. Pak becak itu kan punya cucu umur 2 tahun. Saya cukup yakin cucunya berbadan kecil. Sementara beberapa potong pakaian bayi yang kami bawa itu pasti muat dikenakan cucu si pak becak. Sebab beberapa potong pakaian yang masih ada ukurannya lumayan besar. Untuk balita berusia 1-2 tahun. R yang sudah tadinya mulai beranjak hendak kembali ke kamar lalu mengikuti saya yang berjalan menuju ke mulut gang sambil bertanya. Saya jelaskan. Dia mengangguk setuju.

Benar saja. Pak becak itu sedang mangkal di mulut gang. Lalu saya tanya apakah dia mau diberi beberapa potong pakaian balita. Tanpa ragu-ragu pak becak bilang mau sambil tersenyum lebar. Saya dan R tersenyum lebih lebar lagi. Kalau tidak malu ingin rasanya saya berteriak senang. Dan kami bertiga pun berjalan menuju hotel. Saya masuk kamar sementara R dan pak becak menunggu di luar sambil ngobrol. Beberapa potong pakaian balita yang ukurannya cukup besar itu saya masukkan ke dalam sebuah kantong plastik besar juga. Seperti halnya saya lakukan kepada mas becak muda tadi, saya pun menunjukkan pakaian-pakaian balita itu kepada pak becak kami. Dia mengangguk-angguk dengan senyum senang nan lebar. Dan setelah kami bertiga saling mengucapkan terima kasih, kembalilah pak becak ke tempatnya mangkal sambil menenteng tas plastik berisi beberapa potong pakaian balita. Saya dan R kembali ke kamar. Senyum lebar tak hilang dari wajah kami sampai kami berangkat tidur malam itu.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: