setir kanan, jalur kemudi kiri

29-31 desember 2013 yang lalu saya kedatangan seorang teman Jepang. Dia teman satu rumah ketika saya studi di Delhi, India, dulu. Kami kos di rumah yang sama. Kamarnya satu lantai di atas. Tapi di Delhi dulu kami jarang sekali ketemu. Dia sibuk bekerja. Saya sibuk dengan studi tari. Tapi sesekali yang sangat jarang terjadi kami bertemu, saling bertukar sapa, bahkan saling bertukar cerita walaupun serba sedikit. Kalau tidak salah 1-2 kali kami saling kunjung, sekadar minum teh. Paling banyak 3 kali. Namun yang paling saya ingat adalah ketika suatu hari tiba-tiba dia mengetuk pintu kamar saya. Ketika saya buka, dia menyapa ramah sambil menyodorkan sesuatu. Sesuatu ini bisa dimakan. Makanan Jepang. Dua buah kantong dari kulit tahu yang berisi nasi ketan Jepang berbumbu. Sejenis sushi. Saya melongo, surprised dengan rejeki nomplok pemberian teman serumah di suatu pagi. Saya tersenyum senang, berterima kasih sambil menerima pemberiannya. Tentu sambil bertanya, apa nama penganan tersebut. Dia menyebutkannya. Tapi tentu saya tidak ingat. Barusan saya googling. Ternyata nama penganan itu inari sushi. Saya coba. Enaakk sekali… :)

Saya tidak ingat lagi apakah saya sempat pamit pada dia ketika hendak meninggalkan Delhi, kembali ke Jakarta, seusai studi. Sebab dia sudah pindah ke kos-kosan lain. Tapi saya ingat saya pernah mampir ke tempat kosnya yang baru, sambil membantunya mengangkut beberapa barang yang masih tertinggal di rumah kos yang lama, tempat saya tinggal. Mungkin saat itulah saya sekalian berpamitan, khawatir tidak sempat bertemu lagi dengannya.

Ketika saya kembali mengunjungi India di awal 2012 saya tidak sempat mengontak teman Jepang ini. Saat masih di Jakarta saya lupa-lupa terus mengirim kabar lewat pesan di facebook. Dan ketika di Delhi nyaris tidak pernah bisa mengakses internet. Nyaris tidak ada waktu untuk ke warnet. Jadwal kursus tari saya padat. Enam hari seminggu, senin s/d sabtu. Dan sialnya, saya tidak punya nomer telpon dia. Parah bener.

Tiba-tiba, 7 desember 2013 yang lalu dia mengontak saya lewat pesan di facebook. Menanyakan kabar saya. Sambil menginfo saya tentang rencananya mengunjungi Inggris dan Belanda dari tanggal 23 desember 2013 s/d 4 januari 2014. Dia minta saya untuk meluangkan waktu supaya kami bisa bertemu untuk saling upadate dan bertukar cerita. Ah… tentu!!! Sesibuk apapun saya mempersiapkan Natal dan Tahun Baru, pasti saya akan menyediakan waktu untuk ketemu dia.

Teman Jepang saya ini akhirnya setuju menginap 2 malam di rumah kami. Saya menjemputnya di sebuah cafe di stasiun Amsterdam Sloterdijk, dekat hotel tempatnya menginap selama berjalan-jalan, melihat-lihat Amsterdam. Sesampai di Arnhem kami jalan-jalan di pusat perbelanjaan supaya dia bisa menikmati suasana kota besar dekat tempat saya tinggal. Suasana hari raya. Sebab saat itu tanggal 29 desember. Dia sibuk foto sana foto sini. Saya sibuk menikmati dia motret-motret. Juga sibuk menikmati suasana sekitaran yang indah dengan lampu kelap-kalip warna-warni dalam hawa dingin.

Setelah puas melihat-lihat dan juga makan malam yang kepagian, kami pulang naik bis. Lalu, ketika di bis itulah dia mengatakan sesuatu yang bikin saya jadi teringat dengan pertanyaan yang sejak lama ada di benak tanpa pernah ada jawabnya.

Dia bilang begini: “Waktu saya sampai di Amsterdam tanggal 27 desember yang lalu saya merasa ada sesuatu yang aneh. Awalnya saya tidak tahu apa. Tapi kemudian saya tahu.”

Saya: “Apa itu?”

Teman Jepang: “Setir kiri! Di Belanda sini setirnya di sebelah kiri dan jalur kemudi di sebelah kanan. Saya berasa aneh. Berasa salah.”

Saya: “Hah?? Bukannya Jepang setirnya di kiri juga dan jalur kemudi di kanan?”

Teman Jepang: “Nggak. Di Jepang setirnya sama seperti di India dan Inggris, sebelah kanan. Jalur kemudi di kiri.”

Saya: “Oh?? Jadi sama juga seperti di Indonesia ya. Sebab Indonesia juga seperti di India dan Inggris.”

Teman Jepang: “Oh… gitu ya?”

Saya: “Iya. Selama ini saya kira Jepang pakai setir kiri dan jalur kemudi kanan. Wah, berarti kita sama dong ya?”

Teman Jepang: “Iya. Makanya di hari pertama saya sampai di Amsterdam saya merasa aneh sekali. Merasa salah jalur.”

Saya: “Ha ha ha ha… Iya!! Saya juga dulu begitu waktu pertama kali datang ke Belanda. Merasa aneh sekali.”

Lalu kami tertawa ngakak bareng. Sebab kami berdua tahu betul bagaimana rasanya rasa aneh sekali itu.

Nah, anda mau tau apa pertanyaan yang sejak lama nyantol di benak saya? Pertanyaan ini muncul sejak saya datang ke Belanda pertama kali di akhir tahun 2002 dulu. Saya ingat, dulu pernah mengajukan pertanyaan ke R. Pertanyaannya adalah “apakah sisi setir Belanda dulu di kiri atau dari dulu di kanan?” R bilang sih dari dulu sejak mobil pertama meluncur di Belanda sisi setirnya sudah di kanan.

Oohh…

R waktu itu bertanya balik ke saya. Kenapa memangnya?

Saya bilang, sebab Indonesia kan dijajah lama sekali oleh Belanda. Lalu kenapa bisa sisi setir Indonesia berbeda dengan sisi setir Belanda? Di mana letak missing link-nya. Tapi waktu itu saya kemudian mencari penjelasan sendiri. Penjelasan ala saya itu adalah karena Indonesia juga pernah dijajah Inggris. Dan ketika dalam masa penjajahan Inggris itulah sisi setir di Indonesia dibakukan. Makanya, walaupun setelah dijajah Inggris Indonesia kembali dijajah Belanda, tapi sisi setir di Indonesia tetap mengikuti sisi setir Inggris. Halah banget nggak sih?

Penjelasan ala saya ini sangat nggak ada bukti sejarahnya. Sebab ketika Indonesia dijajah Inggris, teknologi prototipe automobil seperti bentuk yang sekarang ada bahkan belum diciptakan. Walaupun cikal bakal automobil telah muncul jauh sebelum itu. Prototipe automobil seperti bentuk yang sekarang baru muncul sekitar tahun 1930-an. Saat itu Indonesia sudah kembali dijajah Belanda. Dan itu berlangsung hingga setidaknya tahun 1942 ketika kemudian Indonesia dijajah Jepang. Jadi, sebenarnya pemerintah penjajahan Belanda punya banyak waktu untuk membakukan sisi setir mobil di Indonesia. Tapi apa yang terjadi sehingga sisi setir di Indonesia justru terbalik dari sisi setir di Belanda.

Jawabnya, dan ini lagi-lagi hanya dugaan dan kira-kira saya sendiri saja, mungkin terletak pada cerita teman Jepang saya itu tadi. Mungkin justru pemerintah kolonial Jepang yang membakukan sisi setir di Indonesia selama masa penjajahan yang hanya seumur jagung itu. Sebab walaupun setelah Jepang menyerah kalah dalam PD II Belanda mencoba kembali menguasai Indonesia namun Belanda tidak menguasai Indonesia. Belanda hanya mencoba/berusaha untuk kembali menguasai dan menjajah Indonesia. Jelas Belanda tidak punya kesempatan untuk menetapkan peraturan ini-itu. Dan dipertegas dengan kenyataan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Jadi, kalau benar sisi setir di Indonesia sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu ditetapkan oleh pemerintah kolonial Jepang, entah secara formal entah tidak, maka setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia hanya meneruskan menggunakan sisi setir yang sama. Hingga sekarang.

* * * * * * *

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: