teman

Saya sedang asyik mengedit beberapa foto untuk diupload di blog kuliner sebelah. Tiba-tiba telpon rumah berdering. R yang menjawab. Dari memberi salam dalam bahasa Belanda R mengganti bahasanya menjadi bahasa Inggris. Oh! Lalu saya menduga teman saya yang tinggal di Amerikalah yang menelpon. R tidak kunjung menyebut nama sampai saat dia menyerahkan gagang telpon ke saya. Dia bilang: M. M ini teman saya yang sejak 2008 berdomisili di Jerman. Woww… surprise!

Mulailah saya berhalo, bersiap mendengar suara M di seberang sana. Lah… ternyata suara di seberang sana bukan suara M, tapi suara D. D ini teman SD saya yang sejak 2010 (atau 2011 ya? Lupa saya) tinggal menetap di Canada.

Waduuhh… Saya sampai lupa kalau berjanji akan menelpon D. Untung dia menelpon saya. Hey.. saya telpon balik ya. Dan saya menelponnya dari sebuah fasilitas provider menelpon dari internet. Belanda — Canada : gratis.

Begitu tersambung kami langsung cekikikan. Aahh.. betapa kangennya saya ngobrol ngalor-ngidul sama D. Dia pun sama saja. Dan obrolan kami mulai dari hal-hal yang tidak jelas, soal politik, candaan yang nggak jelas juntrungannya, saling cela, sampai hal-hal pribadi dari hati ke hati. Tak terasa obrolan ngalor-ngidul kami mencapai durasi 1 jam 15 menit. Dan kami pun menutup telpon.

Teman dekat, mungkin lebih tepat dibilang teman sejati, masuk dalam kategori anggota keluarga tapi ada di cabang yang berbeda. Tak ada hubungan darah. Tak ada hubungan karena pernikahan. Tapi begitu dekat di hati. Bisa mengatakan apa saja tanpa khawatir ada pikiran buruk dan pikiran negatif. Juga tak perlu khawatir tersinggung atau bahkan sakit hati. Kalaupun ada pihak yang tersinggung atau sakit hati, tak khawatir untuk mengungkapkannya. Yang jelas tak dipendam berlama-lama di dalam hati. Teman sejati itu selalu berpadan dengan kejujuran. Sebab hanya kepada teman sejati kita bisa jujur dan terbuka. Tidak takut memperlihatkan keburukan dan segala borok. Tidak perlu selalu tersenyum. Tidak perlu juga selalu mengeluarkan kata-kata yang berbunga-bunga. Tidak perlu khawatir akan diomongin di belakang punggung. Walaupun lama tidak berkabar, tapi tetap lekat di hati. Dan, percaya atau tidak, ketika sesuatu yang tidak/kurang baik terjadi pada teman sejati, kita bisa merasakannya.

Teman sejati tidak bisa dicari. Dia muncul dengan sendirinya dengan sukarela. Kita hanya perlu menyambutnya dengan hati terbuka. Juga dengan kesukarelaan yang sama. Dengan tulus.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: