nasib baik dan rejeki

Bisa dibilang saya bernasib baik dan banyak mendapat rejeki. Tapi kalau anda pikir saya kaya, anda salah. Secara finansial saya biasa saja. Saya tidak bekerja. Ibu rumah tangga tanpa anak. Yang bekerja suami saya, R.

Lah, kalau tidak kaya bagaimana bisa bilang banyak rejeki?

Iya, bisa.

Begini ceritanya.

Lumayan sering saya mengalami keberuntungan. Misalnya nih kalau sedang membeli sesuatu, seperti biasa saya selalu memperhatikan harga yang tertera. Sebab kadang ada potongan harga. Nah, sesekali tidak tertera potongan harga di label harga si barang. Tidak ada juga pemberitahuan bahwa kortingnya akan diberikan di meja pembayaran. Tapi ketika saya membayar si barang, saya diminta membayar lebih sedikit dari harga yang saya kira harus saya bayar. Harga yang tercantum pada label yang menempel di barang. Walaupun harga yang harus saya bayarkan jadi berkurang 50 sen euro, tapi 50 sen euro itu tetap saja rejeki kan?! Saya harus membayar 50 sen kurang dari yang seharusnya. Alhamdulillah!

Contoh yang lain.

Sampai dengan tiga tahun yang lalu sistem transportasi umum di Belanda menggunakan strippenkaart. Kartu cap. Penumpang mesti membeli kartu cap ini. Tempat membeli kartu cap ini di kantor pos atau toko buku atau kedai rokok. Ada yang 10 strip, ada yang 20 strip. Kalau ingin membeli ketengan di dalam bis atau tram bisa juga, tapi harganya lebih mahal. Kartu akan dicap oleh sopir bis saat kita naik. Banyak-sedikitnya kolom strip yang dicap tergantung banyaknya zone yang akan kita lalui hingga sampai ke tempat tujuan + satu kolom strip dasar. Lalu, penumpang yang sama berhak menggunakan cap tersebut untuk kembali ke tempat asal/berangkat selama masih dalam batas waktu yang berlaku. Misalnya cap untuk sampai dengan 3 zone berlaku selama 1 jam. Jadi kalau saya pergi tidak sampai satu jam, saya bisa kembali ke rumah naik bis tanpa harus membayar lagi.

Nah, sejak tiga tahun yang lalu transportasi umum di Belanda sini menggunakan sistem kartu yang menggunakan teknologi chip magnetik. Seperti kartu pulsa. Saldonya mesti diisi ulang setiap kali. Misal saya naik bis umum. Naik dari pintu depan, saya mesti scan kartu di mesin scan dekat sopir. Nanti, kalau hendak turun, saya mesti scan kartu lagi di mesin scan dekat pintu keluar di bagian belakang. Kerugiannya, sistem kartu ini tidak bisa digunakan untuk pergi dan pulang dalam batas waktu tertentu, selain harga dasarnya. Itupun hanya berlaku selama 30 menit pertama. Tapi harga dasar yang tidak perlu dibayarkan dalam 30 menit pertama setelah turun dari bis atau tram itu tidak hanya berlaku untuk perjalanan kembali ke tempat asal, tapi juga untuk meneruskan perjalanan ke tempat lain.

Keuntungan dari sistem kartu chip magnetik ini adalah… ini dia… Sesekali mesin scan di dalam bis rusak. Tapi bis tetap digunakan. Mungkin karena tidak ada armada bis pengganti yang mesin scannya berfungsi. Alhasil, para penumpang yang kebetulan naik bis dengan mesin scan yang rusak itu beruntung. Tidak perlu scan. Saldo pulsa di kartu tidak berkurang. Alias numpang naik bis umum gratis!

Dan ini sudah saya alami beberapa kali. Memang jumlahnya tidak seberapa. 2 euro. Tapi tahun 2013 yang baru berlalu saja saya mengalami hal ini 4-5 kali. Bahkan pernah sekali terjadi, saya tidak hanya pergi naik bis yang mesin scannya rusak, tapi ternyata pas pulang kebetulan naik bis yang sama. Dan mesin scannya masih juga rusak. Jadi pergi dan pulang gratis! Nah ini apa namanya kalau bukan rejeki?!

Contoh yang paling gres.

Tadi siang R dan saya pergi ke pusat perbelanjaan di Arnhem, ibukota propinsi Gelderland, untuk membeli kado ulang tahun bagi cucu keponakan R yang besok akan berusia 3 tahun. Karena saya juga mesti mengembalikan buku pinjaman ke perpustakaan propinsi, maka kami memarkir mobil di area parkir mobil di bagian belakang pusat perbelanjaan. Di area parkir tersebut bayar parkirnya pakai mesin otomatis. Masukkan koin lalu akan keluar kartunya. Lamanya parkir ditentukan oleh banyak-sedikitnya uang logam yang kita masukkan. Tapi tarif per 1 jam = 2 euro 70 sen. Sesampainya di tempat parkir, kami sudah ambil ancang-ancang untuk bayar parkir di mesin otomatis tersebut. Tidak bisa. Sebab mesin otomatisnya rusak. Jadi parkir gratis! Padahal kami pergi berbelanja dan lain-lainnya selama dua jam. Itu sejumlah 5 euro 40 sen!

Ketika keberuntungan-keberuntungan ini saya ceritakan pada ibu saat saya menelponnya, ibu mengusulkan untuk memasukkan uang keberuntungan tersebut ke dalam kotak pundi alias celengan. Ide brilian. Di akhir 2014 nanti saya akan bisa menghitung seberapa banyak rejeki yang berhasil saya kumpulkan selama 2014 ini.

Hal-hal ini pernah terjadi juga pada anda? Coba deh mulai dikumpulkan dan dihitung. Di penghujung tahun, ketika selesai menghitung mulut kita pasti ternganga. Banyak loh.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: