misa kudus internasional di Utrecht

Minggu, 24 november yang lalu saya ngedate sama seorang teman baik. Kami sepakat untuk bertemu di Utrecht. Ini karena Utrecht adalah kota yang terletak di tengah-tengah antara tempat tinggal dia dan tempat tinggal saya. Biar adil kan.

Beberapa hari sebelum 24 november itu dia mengirim pesan lewat media whatsapp. Isinya mengajak saya untuk mengawali pertemuan dengan ikut misa kudus. Auwww… ide cemerlang! Kebetulan saya sudah lama… sekali mangkir ikut misa. Jadilah saya googling, mencari gereja Katholik terdekat dari Utrecht CS (Central Station) yang jam misanya tidak terlalu pagi. Jam 10.30, misalnya, adalah waktu yang ideal untuk ikut misa.

Ternyata ada. Gerejanya juga cuma sejarak jalan kaki 5 menit dari Utrecht CS. Nama gerejanya: Gereja Katholik St. Agustinus. Di gereja yang sama bahkan ada juga jadwal misa internasional berbahasa Inggris. Sayangnya misa berbahasa Inggris itu dimulai pukul 12.30. Jadi kami memutuskan untuk ikut misa berbahasa Belanda pukul 10.30 saja supaya sesudah itu kami bisa punya waktu banyak untuk ngobrol tanpa harus terputus jadwal misa.

Sayang rencana ini tidak direstui oleh-Nya. Misa pukul 10.30 itu ternyata ditiadakan hari minggu itu, entah mengapa. Tidak hanya pintu gereja yang tertutup, bahkan pagar terkunci rapat. Tidak ada pengumuman apapun. Bahkan papan pengumuman di bagian depan gereja pun tak ada. Kami sampai berkeliling, mengitari kompleks, berharap ada pintu lain sebagai jalan masuk ke dalam gereja. Dan kamipun kecewa. Akhirnya kami memutuskan untuk nongkrong di sebuah kedai kopi di dalam Utrecht CS untuk makan pagi yang terlambat sambil menunggu pukul 12.30 tiba. Iya, kami masih keukeuh ingin ikut misa. Dan memutuskan untuk ikut misa berbahasa Inggris di gereja yang sama. Berharap-harap cemas, tentu saja, khawatir misa itu juga ditiadakan.

Untunglah misa berbahasa Inggris itu ada. Ketika kami tiba, pagar dan pintu masuk gereja sudah dibuka. Bahkan sudah lumayan banyak umat yang sudah duduk manis di dalam gereja. Dan masuklah kami dengan takzim. Tidak lupa mematikan volume telepon genggam masing-masing.

Aihh… gereja itu indah nian. Dibangun tahun 1839-1840 dan diresmikan penggunaannya pada 1840. Namun, yang lebih indah lagi dari itu adalah misa kudusnya. Tidak hanya indah, misa kudus siang itu menggugah kenangan manis dalam ingatan saya. Ingatan akan misa kudus-misa kudus yang saya ikuti di Katedral Hati Kudus Yesus di New Delhi sana.

2013-11-24 13.00.34-editedMisa kudus siang itu tidak hanya berbahasa Inggris, pastor yang membawakan misa juga seorang pastor India. Aha! anda tau nggak? Orang India punya aksen yang sangat khas saat berbicara dalam bahasa Inggris. Dan si pastor itu memiliki aksen itu. Aksen yang buat saya ngangenin banget.

Umat yang datang lumayan banyak walaupun tidak sampai memenuhi bangku-bangku yang ada. Lalu, koor-nya itu loh… ciamik. Anggotanya nggak banyak. Tapi mereka punya pelatih cum dirigen yang oke. Dan suara-suara mereka pun berpadu dalam harmoni. Membuat misa kudus siang itu jadi terasa tambah spesial. Sampai-sampai setelah koor selesai menyanyikan satu lagu, lagu pengiring komuni kalau tidak salah, saya kebelet bertepuk tangan. Tapi tentu saja ini kebelet yang mesti diampet.

Tapi, sungguh mati, jangan tanya saya tentang apa bacaan siang itu. Apalagi isi homili si pastor. Saya terlalu sibuk menikmati indahnya kesenduan gereja itu dan suasana yang ada. Terlalu sibuk terharu menyadari saya ikut misa kudus lagi setelah sekian lama mangkir. Saya sibuk berkata-kata di dalam hati…berulang-ulang, “Ah Tuhan, aku rindu!” Saking gegap gempita di dalam hati sampai-sampai kepingin nangis. Tapi malu sama teman baik saya itu. Hahaha…

Yang saya tahu, misa siang itu ditutup dengan sebuah lagu yang dibawakan oleh koor dengan indahnya. Dan tepuk tanganpun membahana. Ahahahaa… akhirnya… boleh tepuk tangan juga.

Selesai misa, kami tidak langsung pergi. Kami menyempatkan diri motret-motret sedikit. Pakai hp. Saya sedikit menyesal tidak membawa kamera. Tapi ah… :) Dan kamipun pergi, mengejar makan siang yang sedikit terlambat. Ngobrol ngalur ngidul pun berlanjut.

Terima kasih, teman. Kapan-kapan lagi ya.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: