pintu dan jendela

Hampir tiga bulan yang lalu seorang kenalan Indonesia tiba-tiba menelpon. Minta main ke rumah. Ah.. dengan senang hati tentu saya iyakan. Dan datanglah dia.

Seperti layaknya kebiasaan memberi salam di Belanda sini saat kita bertemu keluarga, teman atau kenalan baik, maka kami cipika, cipiki dan cipika. Iya, tiga kali. Lalu duduklah dia dengan agak terburu-buru. Bahasa tubuhnya yang bilang itu. Lalu saya ijin ke dapur sebentar untuk mengambil minuman. Juga cemilan yang sudah saya siapkan sebelum dia datang.

Lalu saya duduk dan mulai menanyakan kabarnya. Dan mulai berceritalah dia. Ah… benar saja. Pantas terburu-buru. Ternyata karena dia memang sedang punya cerita.

Beberapa hari sebelumnya rumahnya dimasuki maling. Malam-malam. Tengah malam, tepatnya. Wow!! Ngeri ah! Dan dia sedang ada di rumah. Tidur di kamar tidur di lantai atas. Wah.. tambah ngeri aja. Untunglah kenalan saya ini tidak kenapa-napa.

Si maling tampaknya sedang belajar menjadi maling. Pendatang baru. Ini tersirat jelas dari cerita kenalan saya itu. Barang-barang yang diambil tidak seberapa dan hampir semua remeh-temeh. Selain dompet, tentunya, yang kebetulan tergeletak di meja makan. Beberapa barang lain yang diambil ada yang bikin saya malah ingin ketawa ngakak. Antara lain: remote control televisi. Yak elaah. Televisinya nggak ikut diangkut. Kegedean kali. Atau tangan sudah penuh, lupa bawa kantong kresek. Hahaha.. kok jadi dibahas! Lalu, laptop nganggur di meja makan juga nggak ikut diangkut. Hoh?? Kunci mobil tergeletak di meja makan masih setia menggeletak. Dan ini berarti mobil yang diparkir di depan rumah juga masih di tempatnya. Hoh?? hoh??

Lalu bagaimana ceritanya si maling bisa masuk? Ah, kalau memang niat jahat sih pasti ada saja jalannya. Tapi ternyata kenalan saya ini punya kebiasaan kadang tidak mengunci pintu rumah di malam hari. Kadang dia kunci. Kalau ingat dan kalau mau. Kalau mau? Iya. Sebab, sebelum kejadian tersebut, dia selalu berpikiran, “ah, Belanda kan aman. Siapa sih yang mau masuk ke rumah untuk berniat jahat?”

“Ah, ya tentu ada saja!” begitu saya menyahut.

Dan kebetulan malam itu rumah dia yang dijadikan ajang praktek si maling. Masuk ke rumah kenalan saya itu mungkin dengan menggunakan kunci serba guna. Dan pintu rumah yang kondisinya cuma ditutup, tidak dikunci, bikin proses membuka jadi jauh lebih mudah.

Beruntung, sungguh beruntung, si maling ini masih pendatang baru. Sangat bisa jadi itu adalah malam pertama dia menjadi maling. Bagaimana kalau yang masuk maling yang jam terbangnya sudah tinggi? Jangan-jangan yang dijarah nggak cuma ruang bawah, tapi si maling juga naik ke lantai atas. Barang berharga pasti lebih banyak di lantai atas. Bisa-bisa kenalan saya ini jadi tidak selamat. Untungnya ini cuma andai-andai kami semata.

Hal yang paling bikin repot adalah dompet yang hilang itu. Uang yang ada di situ tidak banyak dia bilang. Tapi kartu-kartu yang terselip di dalamnyalah yang bikin dia harus menghabiskan waktu satu hari penuh menelpon ke segala penjuru. Bank, terutama. Dan tentu saja dia menelpon polisi untuk melaporkan kejadian malam itu.

Yang jelas, kejadian tersebut bikin dia nervous selama hampir sebulan penuh. Trauma.

Pelajaran baik yang dia petik setelahnya adalah mengunci pintu. Entah dia ada di rumah entah dia pergi.

Saya ingin berbagi cerita sedikit. Ini masih berkaitan dengan pengalaman kenalan saya ini.

Dulu, di tahun-tahun awal saya mulai tinggal di Belanda, saya dan suami juga termasuk cukup santai menyikapi keamanan rumah. Jendela kecil di ruang tidur tidak kami tutup kalau hendak pergi. Tujuannya sih supaya sirkulasi udara tetap bisa terjadi. Ini dibarengi dengan pikiran, “ah, siapa sih yang bisa masuk lewat jendela sekecil itu?”

Lalu, kalau sedang musim panas atau cuaca bagus, pintu dapur yang menuju kebun belakang saya buka blak. Juga supaya ada sirkulasi udara ke dalam rumah (ruang bawah). Dan dulu, kalau saya pergi mandi (biasanya sesudah R berangkat ke kantor), atau kalau saya sibuk membereskan lantai atas atau sibuk di ruang kerja di lantai atas juga, pintu dapur itu tidak saya tutup dan kunci. Iya, saya biarkan tetap terbuka.

Suatu malam kami duduk menonton teve. Program yang sedang ditayangkan adalah tentang keamanan rumah. Bintang tamu dalam acara itu adalah maling yang sudah bertobat. Wuih… Si mantan maling ini menunjukkan kepada pemirsa cara-cara untuk masuk ke dalam sebuah rumah dengan memanfaatkan celah, seminim apapun itu.

OMG! Percaya atau tidak, celah sebesar jendela kecil di ruang tidur saya pun bisa bikin mereka masuk ke dalam rumah loh. Dan proses mereka masuk itu… cepat sekali!!

Acara tersebut sempat menjadi acara yang ditayangkan seminggu sekali. Kami dengan setia menonton. Penasaran, ingin tau trik-trik para maling itu. Makin sering menonton makin berasa ngeri tapi juga takjub. Ternyata celah sekecil apapun mungkin!!

Sejak itu, setiap kami hendak pergi, biarpun cuma sebentar, semua pintu dan jendela kami tutup rapat. Nggak cuma itu. Setiap kali saya mesti berkegiatan di lantai atas, pintu dapur saya tutup dan kunci. Kalau nanti saya selesai berkegiatan di lantai atas, gampang pintu dapur saya buka lagi. Bahkan kalau saya mesti ke toilet di lantai bawah, pintu dapur saya tutup dan kunci. Sebenarnya cuma butuh kerepotan yang sangat minim untuk membuka dan menutup/mengunci pintu dan/atau jendela. Tapi sering diabaikan.

Prinsip kami kalau sampai suatu hari kemalingan (amit-amit! jangan sampailah), kalau cuma barang-barang yang diambil, ah ya sudah. Walaupun pasti menyesal tapi yang penting nyawa selamat. Juga walaupun pasti ada trauma yang mengikuti. Tapi kalau yang ikut diambil nyawa kita? Hmmm… Kalau boleh jujur, saya masih senang hidup. Masih ingin berbuat banyak. Walaupun kematian itu bisa datang kapanpun dan dengan cara apapun, tapi nggak salah kan kalau sebaiknya saya berhati-hati. Jangan sampai keteledoran membuat tahap itu datang lebih cepat.

Menurut saya sih keamanan dan rasa aman itu bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Keamanan dan rasa aman itu perlu diusahakan. Setiap saat.

Penutup

Medio oktober lalu saya dan R pulang ke Indonesia untuk menengok keluarga saya sekaligus berlibur. Medio november yang lalu kami kembali ke Belanda. Lalu R mampir di situs kepolisian kota kecil tempat kami tinggal. Dia mendapati laporan catatan kejahatan di sana. Selama 28 hari (!) kami pergi terjadi 10 (!!) kali kemalingan. Bukan di kota kecil yang berpenduduk sekitar 15 ribu jiwa tempat kami tinggal. Tapi di kompleks perumahan kami saja.

* * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: