siapa sih saya?

Saya hobi banget nonton teve. Acaranya apa saja. Dari yang film dokumenter sampai film kartun atau animasi untuk anak-anak. Dari acara musik klasik atau tari sampai film porno atau dokumenter tentang pornografi. Iklan pun saya tonton dan nikmati, walaupun tidak semua.

Ada beberapa acara teve dari beberapa saluran yang menjadi favorit saya. Saluran tevenya juga tidak sebatas di dalam negeri Belanda saja. Pokoknya semua saya intip, tengok, tonton.

Salah satu acara yang menjadi favorit saya berjudul Who Do You Think You Are? Dalam Bahasa Indonesia saya menerjemahkannya secara bebas sebagai Siapa Sih Saya? Ini program serial di saluran teve BBC 2, dan kemudian BBC 1, milik Inggris. Tapi kadang ditayangkan juga oleh saluran lain. Saya lupa nama salurannya. TLC dan EEN atau Canvas kalau tidak salah. Anyway, tidak penting.

Yang menarik hati saya, ternyata serial dokumenter genealogis BBC ini sudah ditayangkan sejak 2004. Lama ya. Dan ternyata ide dasar serial dokumenter ini juga dibeli oleh Canada (2007), Australia (2008), Irlandia (2009), Amerika Serikat (2010), Swedia (?), Denmark (2010) dan Republik Ceko (2013). Sukses lebih lanjut dari sederetan program teve produksi Inggris.

Beberapa malam yang lalu tiba-tiba saya kepingin nonton teve. Jadilah zapping. Sampai di BBC 2, ternyata program Who Do You Think You Are? baru satu menit dimulai. Jadilah saya nyangkut di situ.

Tentu saja bintang tamunya adalah celebritas Inggris. Buat saya tidak penting siapa bintang tamu yang sedang ditampilkan. Yang paling menarik adalah inti dokumenter itu sendiri.

Dokumenter ini dirancang dan dibuat untuk menelusuri jejak keluarga (genealogis) si bintang tamu hingga 4-5 generasi ke belakang. Kadang, kalau data dokumen/arsipnya memungkinkan malah bisa lebih jauh lagi penelusurannya.

Di sini ilmu pengetahuan tentang pohon keluarga yang dulu saya pelajari dalam mata kuliah Organisasi Sosial dan Sistem Kekerabatan jadi relevan untuk memahami alur cerita. Tampak nyata juga signifikansi pelajaran sejarah dan khususnya ilmu kearsipan. Para ahli yang turut andil dalam acara ini ya ahli arsip, ahli sejarah dan genealogi. Dan acara ini juga menunjukkan betapa catatan harian seseorang bisa punya nilai penting. Tidak hanya untuk si pemilik catatan harian, tapi juga untuk orang-orang lain.

Serial dokumenter genealogis ini sangat bersandar pada sistem pengarsipan dokumen tertulis yang rapi, tekun dan sistematis. Tidak hanya yang sifatnya tertulis seperti hasil sensus penduduk, tapi juga yang bersifat tergambar, misalnya cetak biru peta (gambar) sebuah gedung dan/atau tata kota. Dan kalau dipikirkan lebih lanjut, semua ini mungkin untuk terjadi bila sebuah masyarakat memiliki sejarah kebudayaan yang tertulis dan dituliskan. Tidak hanya sesekali, tapi secara terus menerus, konsisten, rapi, tekun, sistematis. Dan semua dokumen tertulis yang ada kemudian diarsipkan. Juga secara terus menerus, konsisten, rapi, tekun dan sistematis.

Yang saya cermati dari seringnya menonton serial ini adalah bahwa usaha menelusuri jejak genealogis adalah sebuah usaha yang membawa pencerahan batin bagi si peserta. Maksud saya: penguatan, peneguhan dan pembebasan. Sebab penelusuran jejak genealogis ini tidak semata-mata untuk mencari nama-nama dari individu-individu di masa lalu yang memiliki hubungan darah dengan si peserta yang hidup di masa kini. Penelusuran jejak genealogis ini juga mengungkapkan cerita-cerita terselubung yang melingkupi nama-nama yang ditemukan dari hasil penelusuran itu. Cerita-cerita terselubung ini dari beragam emosi. Bahagia, kagum, sedih, kecewa, prihatin. Dalam satu permen produksi Indonesia kita kenal sebagai nano-nano. Segala rasa ada dan menjadi satu. All in one. Bagi mereka sangat mengharu biru. Tapi juga menggairahkan.

Kembali ke tayangan beberapa malam yang lalu itu. Bintang tamunya seorang presenter perempuan senior Inggris. Namanya saya tidak ingat lagi. Si presenter ini tahu bahwa orangtuanya bukanlah orangtua biologisnya. Dia anak adopsi. Dia mengetahui kenyataan ini sejak masih kecil. Sebab orangtua angkatnya tidak pernah menutup-nutupi kenyataan ini. Tapi si presenter baru memberanikan diri untuk mengontak ibu biologisnya saat dia meninggalkan rumah orangtua angkatnya untuk hidup mandiri di awal masa dewasanya.

Dari keberanian mengontak ibu kandungnya itulah, dan juga mengontak dua adik perempuan ibu kandungnya, dia menemukan kenyataan bahwa ibu kandungnya sebenarnya tidak ingin menyerahkannya untuk adopsi. Si presenter terpaksa diserahkan untuk adopsi sebab ibu kandungnya hamil “kecelakaan” sebagai hasil hubungan di luar pernikahan. Ibu kandungnya punya suami dan beberapa anak. Saya lupa berapa. Dan ayah kandungnya punya istri dan dua anak, laki-laki dan perempuan. Ayah kandungnyalah yang mengusulkan, dengan agak memaksa, supaya si bayi diserahkan untuk adopsi.

Situasi dan kondisi yang sulit membuat ibu kandungnya tidak punya pilihan lain. Setelah proses adopsi selesai si ibu kandung menjalani tahun-tahun sulit untuk mengatasi penyesalan dan rasa bersalah akibat harus menyerahkan anak kandungnya, si presenter, untuk adopsi. Cerita inilah yang mengungkapkan kenyataan bahwa si presenter diserahkan untuk adopsi bukan karena dia tidak diinginkan. Setidaknya oleh ibu kandungnya.

Ini yang saya sebutkan di atas tadi bahwa serial dokumenter genealogis ini memberi kesempatan kepada si peserta untuk menyembuhkan luka batin. Dan sejak kontak pertama kali di awal usia 20-an si presenter, dia dan ibu kandungnya mampu membangun relasi dan komunikasi yang baik. Dan itu melegakan dia. Membebaskan si presenter dari segala pikiran dan prasangka buruk yang ada di benaknya sejak kecil.

Lanjut cerita.

Dari ibu biologisnya si presenter mendapat secuil petunjuk tentang siapa ayah biologisnya. Secuil petunjuk itu berupa nama lengkap. Bagi si presenter nama keluarga ayah kandungnya cukup aneh. Bukan nama keluarga yang umum untuk masyarakat Inggris. Nama keluarga ayah kandungnya itu kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti “sabar”. Ini memunculkan tanda tanya di benak si presenter. Tanda tanya lain yang muncul di benaknya adalah “mengapa si ayah kandung begitu tega memaksa ibu kandungnya menyerahkan si bayi untuk adopsi?”.

Telusur punya telusur, kakek buyut si ayah kandung adalah seorang yang sosial dan peduli pada anak-anak terlantar. Beliau mengadopsi beberapa anak terlantar dari sebuah panti asuhan ternama saat itu. Pemilik dan pengelola panti asuhan tersebut bahkan sampai memberi pujian sebagai orangtua angkat teladan.

Dan telusur punya telusur almarhum ayah kandung si presenter adalah seorang laki-laki yang cinta keluarga dan sayang serta peduli pada anak kecil. Ia adalah ayah yang sayang pada kedua anaknya dan kakek yang sangat dekat dengan para cucu. Jadi pasti ada alasan yang memaksanya menyerahkan si presenter untuk adopsi. Alasan yang dia bawa ke liang kubur. Sebab tidak ada satupun anggota keluarga yang tahu bahwa ayah kandung si presenter ini sempat punya hubungan di luar pernikahan. Apalagi sampai punya anak dari hasil hubungan tersebut.

Yang membuat si presenter sangat lega adalah kenyataan bahwa kedua kakak satu ayah kandung bersedia bertemu dan menjawab segala pertanyaannya. Pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa dan apakah. Walaupun kedua kakak seayah ini sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa ayah mereka pernah punya affair dan seorang anak dari hasil affair tersebut namun mereka menyambut si presenter sebagai anggota keluarga baru dengan gembira dan hati yang hangat.

Damainya dunia.

Lalu…

Si presenter berhasil membuat kontak dengan cucu dari seorang anak angkat kakek buyut ayah kandungnya. Terdengar rumit ya.. :)

Dan dia bahagia mendengar cerita dari si cucu bahwa setelah diadopsi, kakeknya yang awalnya adalah seorang anak kecil yang kurang sehat dan tidak percaya diri berubah menjadi seorang laki-laki sehat, penuh percaya diri dan mandiri. Semua ini berkat kakek buyut ayah kandungnya yang berjiwa sosial dan mengasuh semua anaknya, kandung dan adopsi, dengan penuh cinta.

Walaupun satu pertanyaan besar masih dan akan selalu menetap di benaknya (mengapa ayah kandungnya tega menyerahkannya untuk adopsi) namun si presenter akhirnya bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Bahkan dia mulai memiliki rasa bangga bahwa dia menjadi keturunan langsung dari kakek buyut ayah kandungnya, seorang yang berjiwa sosial tinggi dan sangat peduli pada anak-anak. Seorang yang mewujudkan nama keluarga pada penerapan hidup sehari-hari. Sabar.

Penutup

Dua hari setelah menonton Siapa Sih Saya? di saluran BBC saya menonton dokumenter yang sama di saluran TLC. Kali ini versi/produksi Amerika. Lagi-lagi akibat zapping.

Coba tebak siapa bintang tamunya!

Brooke Shields!!

Cerita panjang yang amat sangat dipersingkat, dari hasil penelusuran silsilah keluarganya dari garis ayah, si bintang film terkenal ini ternyata adalah sepupu jauh Raja Louis XIV dari Prancis. Oleh karena itu, dia adalah keturunan langsung Raja Henry IV. Lebih jauh, Brook Shields bahkan juga keturunan langsung Raja Louis IX, raja Prancis yang 27 tahun setelah kematiannya dinyatakan sebagai santo lewat kanonisasi oleh Paus Bonifasius VIII.

Tidak hanya menyembuhkan luka batin, hasil penelusuran jejak silsilah keluarga ternyata bisa sangat mencengangkan.

* * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: