secuil-secuil

Suatu hari, ketika saya masih menjalani studi tari Kathak di New Delhi, guru saya pernah bilang begini, “Ilmu atau keterampilan apapun selalu ada gunanya walaupun mungkin kita hanya berkesempatan mempelajarinya secuil-secuil.”

Beberapa bulan yang lalu saya membuktikannya.

Dulu saya pernah ikut kursus menjahit. Itu terjadi ketika saya kena PHK akibat krisis ekonomi tahun 1998. Untuk mengisi waktu sambil mencari dan melamar pekerjaan baru saya mengikuti kursus menjahit.

Alasannya sederhana. Saya selalu iri (dalam arti baik loh) pada kakak perempuan saya yang bisa menjahit. Dia tidak pernah mengikuti kursus menjahit. Pola pakaian yang dijahitnya selalu mengambil dari majalah wanita Femina. Saya selalu menggumun, kok dia bisa sih membaca pola jahit pakaian. Saya kok nggak bisa. Bagaimana cara membaca pola-pola itu? Saya minta dia mengajari membaca pola. Waktu itu diajari membaca pola yang sederhana. Nggak mudheng! Nggak bisa ngerti penjelasan dia. Dia sampai kesal dan akhirnya ngambek. Mogok ngajarin. Hahaha.. iya, muridnya bego banget. Maap deh.

Tapi keinginan untuk bisa belajar menjahit tetap ada. Malah makin besar. Saya makin penasaran. Makanya begitu ada kesempatan saya langsung mengambilnya. Blessing in disguise kata orang-orang. Di balik sebuah bencana (PHK) ada berkah tersembunyi (jadi bisa ikut kursus menjahit).

Kursus menjahit yang saya ikuti adalah kursus menjahit tingkat dasar. Yang dipelajari adalah pola-pola pakaian sederhana. Semuanya untuk perempuan. Di atas tingkat dasar itu ada kursus tingkat menengah dan tingkat terampil. Sayangnya kursus menjahit tingkat dasar itu akhirnya tidak berhasil saya selesaikan. Sebab saya keburu mendapat pekerjaan baru. Di awal menjalani kerja di kantor yang baru saya masih mencoba untuk datang ke tempat kursus, berusaha menyelesaikan pelajaran menjahit. Tapi akhirnya saya menyerah.

Semakin hari saya semakin sering pulang agak larut karena deadline pekerjaan. Dan tentu saja jadi tidak bisa datang ke tempat kursus. Sampai akhirnya melampaui batas waktu kursus yang ditetapkan.

Iya, sayang. Apa boleh buat.

Tapi waktu itu saya sempat menyelesaikan beberapa macam pola sampai menjadi baju. Dua macam rok terusan, satu kebaya kartini, blus dengan model kerah shanghai, rok setengah lingkaran, rok lingkar penuh, rok dengan model A line, kulot. Lumayan banyak juga ternyata. Modelnya, nggak mau rugi, selalu saya sendiri. Hahaha…

Setelah batas waktu kursus lewat, hangus, saya masih sempat menjahit beberapa potong pakaian. Tidak hanya untuk saya sendiri, tapi juga untuk ibu saya. Bahkan saya sempat menjahit untuk dua orang teman baik.

Tapi saya menyadari, ternyata menjahit baju tidak seasik yang saya harapkan. Apalagi kalau mesti menjahit bagian kerung lengan. Beuh! Jadi saya beralih ke menjahit home decor. Waktu itu saya coba-coba bikin bed set. Comforter lengkap dengan sarung bantal-guling. Wah, waktu mulai asyik bikin bed set ini saya jadi sering pergi blusukan ke pasar tekstil di Tanah Abang. Tapi benar-benar nggak rugi. Saya bisa dapat material yang oke, motif kain sprei yang bagus dengan harga yang murah. Ih, jadi ketagihan. Apalagi ketika ternyata hasil jahitan bed set saya juga nggak mengecewakan. Dan sempat laku terjual juga loh. Senengnya nggak karuan. Heboh deh.

Hasil karya jahit terakhir yang sempat saya hasilkan sebelum akhirnya berangkat ke New Delhi untuk memulai studi tari di sana berupa setumpuk popok bayi, selimut bayi dari kain flanel dengan motif-motif lucu dan kelambu boks bayi. Itu semua untuk persiapan kelahiran anak pertama kakak saya.

Selama di Delhi saya hanya pernah mencoba membuat dua buah lehenga. Lehenga adalah rok panjang tradisional yang dikenakan perempuan India di daerah Rajasthan, Gujarat, Madhya Pradesh, Uttar Pradesh, Bihar, Sindh, Haryana, Himachal Pradesh dan Uttarakhand. Saya suka sekali lehenga ini. Dan ada kaitannya dengan tari yang saya tekuni. Lehenga menjadi bagian dari kostum dalam tari Kathak. Tapi lehenga yang saya coba buat adalah versi sederhananya. Ukurannya tidak selebar yang seharusnya.

Di Delhi sih banyak tukang jahit. Tapi ketika menjalani studi tari di sana, saya miskin. Hidup hanya dari uang beasiswa yang jumlahnya minim. Jadi daripada membayar tukang jahit saya jahit sendiri saja. Pelan-pelan. Menjahitnya jelas pakai tangan. Nggak mimpi untuk punya mesin jahit di sana. Kepikiran untuk punya saja tidak. Wong saya ke sanakan untuk belajar tari, bukan belajar menjahit. Lagian saya miskin itu tadi. Jadi kalaupun sempat kepikiran untuk membeli, pasti tidak terbeli juga.

Satu per satu, kedua lehenga itu selesai separo jalan. Karena mengerjakannya mengambil waktu dan tenaga luang kalau pas ada, jadi selesainya juga lama sekali. Ketika libur musim panas yang sekaligus libur pergantian tahun ajaran si lehenga belum juga selesai. Akhirnya saya bawa pulang ke Jakarta. Di rumah satu lehenga saya selesaikan dengan menggunakan mesin jahit ibu. Lehenga kedua saya buat di tahun ajaran berikutnya. Baru separo jalan, penyelesaiannya saya kerjakan di Belanda. Begitu tahu bahwa saya bisa dan hobi menjahit, saya langsung mendapat warisan mesin jahit tua dari ibu mertua. Lumayan!

Setelah studi tari saya selesai dan saya mulai tinggal di Belanda sini, saya masih menjahit sesekali. Baju dan juga home decor. Sarung bantalan kursi, gorden, taplak sederhana. Tapi semua itu tidak membuat saya mampu melihat keuntungan dari memiliki keterampilan menjahit. Sebab hal-hal yang saya hasilkan dari menjahit itu menurut saya ya sudah seharusnya terjadi.

Suatu hari jumat petang di akhir bulan maret lalu saya pergi mengajar tari, seperti biasa. Jadwal mengajar saya memang jumat petang. Ketika tiba di tempat mengajar, pengelolanya menghampiri saya dan bertanya apakah saya berminat untuk berpartisipasi dalam acara multikultural yang akan dia selenggarakan pada tanggal 9 juni. Saya menjawab: ya, tentu saja.

Sesampainya di ruang kelas saya bertanya pada murid saya, apakah dia berminat untuk tampil menari. Dia menjawab ya dengan keyakinan diri yang sangat minim. Tapi saya artikan sebagai ya yang bulat. Dan mulailah kami melatih nomor yang akan dia pertunjukkan.

Tapi ada satu masalah. Kostum.

Ketika saya mulai mengajar awal oktober 2012 yang lalu saya membatin, “Nanti kalau murid-murid bisa mulai tampil menari mereka bisa mengenakan kostum saya.” Ini karena di Belanda sini saya kok tidak pernah lihat ada tukang jahit. Yang ada cuma tukang reparasi pakaian. Dan saya cukup yakin, kalaupun ada tukang jahit, pasti ongkosnya mahal sekali. Jadi pasti tetap tidak bisa mengorder membuat kostum tari. Lagian saya punya 9 kostum.

Ya ampun. Ketika mulai mengajar itu, tidak pernah terlintas di benak saya kalau bakal ada kemungkinan punya murid tinggi besar. Entah kenapa saya berasumsi mereka yang tertarik untuk belajar tari Kathak dari saya memiliki ukuran tubuh yang kurang lebih sama dengan saya. Betapa bodohnya… bodohnya… Dan tentu saja murid saya itu tidak bisa mengenakan kostum saya. Nggak muat.

Kesimpulannya saya harus membuat kostum untuk murid saya ini. Dan ketika itulah baru saya sadari sepenuhnya bahwa keterampilan menjahit yang dulu saya pelajari lebih untuk memuaskan keingintahuan saya, pun cuma saya jalani separo jalan, ternyata sangat menolong di saat yang sama sekali tidak saya duga. Untungnya kostum tari Kathak bisa dibuat dengan menggunakan pola sederhana.

Ketika mulai mengerjakan kostum tersebut entah kenapa kata-kata bijak guru saya tiba-tiba terngiang lagi di telinga saya. “Ilmu atau keterampilan apapun selalu ada gunanya walaupun mungkin kita hanya berkesempatan mempelajarinya secuil-secuil.”

Ah… Guru ji, saya rindu. Rindu menari di kelasmu. Rindu mendengarkan kata-kata bijakmu. Rindu melantunkan notasi-notasi tari. Rindu menari di bawah bimbinganmu. Rindu ngobrol ngalor-ngidul tentang tari denganmu sambil makan siang lesehan ala India di balkon depan rumahmu setelah kelas berakhir.

Akhirnya pengerjaan kostum yang tertatih-tatih itu selesai. Dua bulan penuh. Pfffhhh… Selama dua bulan penuh juga murid saya berusaha menguasai nomer tarian yang sepanjang 3,5 menit itu. Juga tertatih-tatih.

Buat saya semua tampak sebagai mukjizat. Awal oktober 2012 yang lalu dia datang kepada saya untuk belajar tari Kathak tanpa secuilpun pengetahuan tentang tarian ini. Belajar dari nol. Walaupun tubuhnya tinggi besar, si murid ternyata sangat pemalu. Suaranya saat berbicara atau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya atau ketika menyanyikan notasi-notasi tari sangat lirih dan nyaris tak berani menatap saya. Dan ketika ditawari untuk tampil menari di acara multikultural, dia bilang: saya tidak yakin akan berani tampil.

Alhasil, setelah 8 bulan belajar menari – 6 bulan mempelajari gerakan dan langkah dasar + 2 bulan mempelajari nomer yang akan ditampilkan — murid saya tampil penuh percaya diri, membawakan satu nomor sepanjang 3,5 menit dengan mengenakan kostum hasil keterampilan menjahit saya yang secuil itu.

Hari minggu tanggal 9 juni lalu adalah hari begitu cerah ceria. Tidak hanya di alam semesta, tapi terlebih di dalam hati dan jiwa saya. Terima kasih, Tuhan.

* * * * * * *

Advertisements

2 comments

  1. bintanghoward · · Reply

    Selamat ya, kawan :) ikut senang mbayanginnya.
    Memang tidak ada kata “percuma” untuk ketrampilan apapun yang kita pelajari.

    1. Bintang, sori baru sempat balas skrg. gw sdh lama gak ngurusin blog ini. thanks ya sdh mampir tengok2 dan baca2. bener bgt, Bin, ketrampilan apapun, biar cuma secuil, nggak akan pernah jd percuma. sekali lagi makasih ya sdh mampir. take care ya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: