sarapan

Kata lainnya adalah makan pagi.

Kata “sarapan” selain mengindikasikan kegiatan makan juga mengindikasikan waktu. Dan waktu yang diindikasikan tentu saja pagi hari. Jadi kalau sudah menggunakan kata “sarapan”, tidak perlu lagi diembel-embeli dengan kata “pagi”. Sebab tidak ada yang namanya sarapan siang dan sarapan malam. Sarapan itu ya selalu dilakukan di pagi hari.

Sudah lama saya kehilangan kebiasaan sarapan. Tepatnya menghilangkan. Sebab saya lakukan dengan sadar. Dan sebenarnya ini cara yang tidak sehat untuk memulai dan menjalani hari. Sangat tidak asik sarapan sendirian.

Sudah sebulan terakhir ini saya berusaha kembali membiasakan diri untuk sarapan.

Sulit.

Sebab tidak makan pagi sudah menjadi kebiasaan baru yang menetap dalam ritme hidup saya. Jadi saya harus berusaha keras untuk mengingatkan diri untuk berangkat ke dapur dan menyiapkan sarapan dan kemudian benar menyantapnya. Walaupun masih on and off, tapi sudah lebih sering on-nya ketimbang off-nya.

Dulu-dulu, saya selalu merasa harus menyediakan waktu khusus untuk menyiapkan sarapan. Padahal, kalau saya pikir-pikir lagi sekarang, saya bisa melakukannya berbarengan dengan kegiatan menyiapkan bekal makan siang untuk Ron, suami saya. Ini misalnya kalau saya sedang tidak punya nasi. Kalau ada nasi, lebih enak lagi. Saya tinggal menggoreng telur, lalu memanaskan nasi di microwave lalu menyantapnya dengan diberi kecap manis sedikit. Kalau masih punya tumis sayur lebihan malam sebelumnya, saya merasa beruntung. Sebab pagi-pagi bisa makan sayur juga.

Yang namanya sarapan atau makan pagi itu kan nggak perlu rumit. Tujuan utamanya menyuplai tubuh dengan bahan bakar. bahan bakar  ini yang lalu diolah tubuh menjadi tenaga supaya kita bisa melakukan kegiatan-kegiatan dalam satu hari dengan baik.

Kenapa tubuh butuh suplai bahan bakar baru di pagi hari dalam bentuk sarapan? Sebab tubuh diasumsikan “kosong” setelah kita tidur sepanjang malam. Tidur juga butuh tenaga loh. Dan selama kita tidur, tubuh tetap bekerja keras. Mengolah asupan makan malam menjadi tenaga. Dan tenaga ini digunakan tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak selama kita tidur. Jadi, ketika kita bangun di pagi hari, bahan bakar dalam rupa makan malam sebenarnya sudah (nyaris) habis terpakai. Dan tubuh tentu butuh asupan bahan bakar baru. Bentuknya ya sarapan itu tadi.

Nah, sebenarnya saya paham betul pentingnya sarapan.

Ehmmm… tidak pakai “tapi”.

Kebiasaan yang buruk tidak boleh terus dipelihara. Jadi, apapun halangannya, saya harus membangun kembali kebiasaan lama yang sempat hilang ini. Makan pagi. Sarapan.

Dan pagi ini saya sarapan setangkep roti yang dioles margarin dan diberi keju lembar plus satu mug teh panas dengan satu sendok teh madu. Sendirian. Ah ya… :)

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: