sirsak

Please click here for the english version of this post.

Setiap kali pulang ke Indonesia menengok keluarga, saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati buah sirsak. Dalam bahasa Inggrisnya soursop (Lat. Annona muricata). Buah yang satu ini memang salah satu favorit saya. Sayangnya tidak bisa diakses di Belanda. Bahkan tidak juga bila itu sekadar produk impor. Tidak ada perusahaan pengimpor yang berminat untuk mendatangkan sirsak. Sayang sekali!

pohon sirsak dan buahnya

Sirsak memang satu jenis tanaman yang khas daerah tropis. Berasal dari Meksiko, Cuba, Amerika Tengah, Kepulauan Karibia, Amerika Selatan bagian utara (Kolumbia, Brazilia, Peru dan Venezuela) dan negara-negara Afrika sub-Sahara yang masuk dalam area tropis. Tapi sejak lama sirsak juga tumbuh di kawasan Asia Tenggara. Diduga masuk ke kawasan Asia Tenggara dari Meksiko lewat Philipina. (Wikipedia: soursop)

Nama “sirsak” berasal dari bahasa Belanda zuurzak yang berarti kantong yang asam. Ini karena bentuk buah sirsak menyerupai kantong dan rasa daging buahnya yang putih itu memang manis keasaman.

daging buah sirsak

Mudik yang baru lalu, saya juga sempat membeli buah sirsak dari sebuah supermarket langganan yang letaknya tidak jauh dari rumah orangtua saya. Yang doyan makan sirsak tidak cuma saya, tapi juga ayah saya. Biasanya kami berduet. Hahaha… Sambil asyik makan sirsak, saya minta ayah saya mengumpulkan bijinya. Kepulangan kemarin ini memang saya berniat membawa beberapa biji buah sirsak ke Belanda. Tentu saja untuk ditanam. Tentu saja akan menjadi tanaman dalam rumah (indoor).

Bermimpi suatu saat si tanaman sirsak akan berbuah? Tentu saja. Kalau bisa menikmati buah sirsak di Belanda, apalagi berasal dari hasil menanam sendiri, kenapa tidak? Tapi saya jadi lebih tertarik lagi untuk menanam sirsak karena tanaman ini memberi banyak khasiat bagi kesehatan. Bahkan penelitian medis yang sedang dilakukan menemukan bukti-bukti awal yang menunjukkan bahwa senyawa-senyawa dan zat-zat kimia tertentu yang dihasilkan dari ekstrak buah, daun, biji dan kulit batang tanaman sirsak diduga berkhasiat membunuh sel-sel kanker tanpa membahayakan sel-sel tubuh yang normal/sehat. (Philipine Herbal Medicine)

Beberapa hari setelah tiba kembali di Belanda saya mulai beraksi. Tidak hanya satu atau dua biji, saya menceblokkan (ini Bahasa Jawa!) 6 biji sirsak!! Semua saya ceblokkan ke dalam tanah pot tanaman-tanaman dalam rumah. Ada yang saya ceblokkan dalam pot kamboja, ada yang dalam pot pandan dan ada juga yang saya ceblokkan dalam pot melati dan jambu biji. Ngenger kalau kata orang Jawa. Dan saya membuat istilah baru: ceblok ngenger. Tapi ceblok ngenger biji sirsak ini tidak saya lakukan dalam di satu waktu yang sama. Tiga waktu yang berbeda. Agak berjauhan jaraknya.

Tujuannya:

1. agar rumah saya tidak menjadi lebih penuh dengan pot ekstra tempat menyemai biji sirsak.

2. agar si biji terhindar dari bahaya busuk akibat tanah tempatnya bersemayam disiram dengan terlalu banyak air. Dan juga terhindar dari bahasa kekeringan akibat tanah disiram dengan terlalu sedikit air.

Satu dari sekian biji yang saya ceblokkan mulai bertunas hanya setelah sekitar 10 – 14 hari diceblokkan. Yakni yang ngenger di pot tanaman kamboja. Iih senangnya. Saya biarkan si bayi sirsak itu tumbuh sampai agak besar dan memunculkan 3-4 pasang daun permanen dulu sebelum akhirnya saya pindahkan ke pot tersendiri. Sekarang si bayi sudah menjadi calon remaja yang subur dan tumbuh dengan bangga dan penuh semangat. Bahkan di beberapa ketiak daunnya sudah mulai tumbuh tunas-tunas daun yang nantinya akan menjadi cabang tanaman.

Dari enam biji sirsak, ternyata semuanya bertunas. Sayangnya biji sirsak kedua yang bertunas sampai batangnya mencapai ketinggian sekitar 5 cm bakal daunnya masih terjebak dalam selongsong biji. Dan setelah berhari-hari si bayi sirsak berada dalam situasi yang sama, saya terlalu gelisah untuk tetap berdiam diri menjadi penonton belaka. Suatu hari saya tidak tahan. Saya mencoba menolong si bayi untuk mengeluarkan sepasang daun pertamanya dari dalam selongsong biji. Tapi yang terjadi malah tugel! Patah.

Ternyata pucuk batang yang menjadi landasan sepasang daun pertama itu berada dalam area ruas batang yang terpisah dari dan hanya menyambung dengan pangkal batang tanaman. Bukan sebagai satu kesatuan batang yang utuh.

Saya? Tentu saja sedih. Alih-alih menolong, malah membunuh.

Tapi saya tidak langsung mencabut batang tanpa daun. Saya biarkan si batang tetap ngenger di pot induknya. Di pot kamboja. Setelah beberapa hari didiamkan, kok batang tanpa daun itu sama sekali tidak menjadi kering. Tetap segar. Lalu, saya perhatikan di pucuk batangnya mulai muncul bintil-bintil. Kalau kata orang Jawa, pruntus-pruntus. Persis seperti jerawat batu. Kira-kira ada 5-6 bintil kecil. Aneh banget. Beberapa hari kemudian bintil-bintil itu makin gendut. Tapi karena saya pikir (mantan) bayi sirsak itu tidak akan bisa tumbuh lagi (wong daun pertamanya sudah tugel), walaupun si batang tanpa daun itu masih segar bugar, akhirnya saya cabut dari tanah pot tempat dia ngenger dan buang ke bak sampah. Maafkan saya.

Jauh sesudah kejadian itu tanpa saya sadari biji sirsak yang saya tanam dalam pot jambu biji juga bertunas. Kejadiannya mirip dengan tunas kedua yang akhirnya saya buang itu. Si biji bertunas dan bakal daunnya terjebak dalam selongsong biji. Tapi yang kali ini saya biarkan. Biarkan alam yang memberi pertolongan. Beberapa hari kemudian saya tilik lagi. Loh! Bagian pucuk dengan ruas yang terpisah itu sudah tugel sendiri. Dan lagi-lagi batang yang tersisa tampak tetap segar bugar perkasa. Kali ini saya biarkan saja. Tidak saya cabut dan buang. Saya ingin tahu, apa yang akan terjadi.

Sama seperti tunas biji kedua yang saya buang itu, pucuk batang tunas sirsak yang ikut di pot jambu biji ini mulai berbintil-bintil. Berpruntus-pruntus. Wah.. menarik. Kenapa gejalanya sama ya? Jadi tetap saya biarkan. Selang 7-10 hari kemudian dari bintil-bintil yang kian hari kian gendut itu muncul tunas-tunas daun.

Oalaaahh…. Ternyata begitu toh prosesnya. Saya jadi menyesal mencabut dan membuang tunas biji kedua itu.

Bedanya, kalau calon tanaman berhasil memunculkan sepasang daun pertama dengan selamat, pertumbuhan pasangan-pasangan daun berikutnya tertib dan teratur, maka calon tanaman yang sepasang daun pertamanya tugel terperangkap dalam selongsong biji pertumbuhan pasangan-pasangan daun berikutnya acak-acakan. Sebab tumbuh sebagai hasil keluar dari bintil-bintil di pucuk batang seperti tampak pada foto di bawah ini. Tapi kan tidak ada salahnya.

Satu hal yang sekarang menjadi keprihatinan saya adalah: apakah ruang di dalam rumah nantinya bakal cukup untuk menampung semua tanaman sirsak ini bila mereka sudah menjadi tanaman dewasa? Membuang tanaman yang tumbuh sehat bukan satu pilihan untuk saya lakukan. *cry!*

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: