basil 02

Kemarin saya menulis tentang anyelir. Untuk yang kedua kalinya. Anyelir 02. Sebagai kelanjutan dan update perkembangan stek anyelir yang saya lakukan awal April yang lalu.

Hari ini saya mau menulis tentang basil. Juga untuk yang kedua kalinya. Basil 02. Selain dimaksudkan sebagai kelanjutan dan update perkembangan, juga saya maksudkan sebagai informasi hasil temuan saya. Hhmmm.. saya sih cukup yakin bahwa temuan saya ini bukan temuan baru. Kalau saya googling pasti akan muncul banyak link situs dan/atau blog yang juga memuat informasi serupa. Akan saya lakukan setelah selesai menulis posting basil 02 ini nanti.

Tempo hari di posting basil saya, saya mengeluh tentang tanaman basil yang bibitnya saya beli dari supermarket langganan. Bibit tersebut saya pindahkan dan tanam di pot tanah liat besar di kebun belakang, berbagi ruang dengan seledri. Lalu, walaupun ditanam dalam pot, tapi si basil tumbuh di udara terbuka. Kebun belakang. Terpapar langsung oleh sinar terik matahari dan air hujan. Sialnya, tahun ini Belanda sering sekali hujan. Ugly summer! Dan daun-daun tanaman basil saya menghitam. Busuk sebab terpapar terlalu banyak air hujan. Jadi potnya saya pindahkan ke pojok di depan dapur. Pojok itu beratap. Air hujan tidak sampai ke situ, kecuali hujannya pakai angin kencang. Kalau hari-hari kering dan matahari bersinar cerah dan terik, pot berisi tanaman basil dan seledri itu saya pindahkan ke tengah-tengah kebun belakang. Daun-daun yang menghitam saya gunting dan buang ke dalam bak sampah hijau. Usaha memindah-mindahkan pot antara pojok depan dapur dan tengah kebun belakang saya lakukan terus, mengikuti perkembangan alam, hujan dan terik. Tidak percuma. Hanya dalam waktu 2 minggu, tanaman basil saya kembali sehat. Oh… senangnya..!! :))

setelah terpapar air hujan terus menerus.-

setelah dirawat.-

Ketika tanaman basil saya sedang sakit itulah kemudian penyesalan saya timbul. Kenapa bibit basil itu saya pindahkan ke kebun belakang. Tidak tetap saya pertahankan di dalam rumah. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli satu kantong kecil bibit biji basil. Saya semai dalam dua pot kecil. Dua-duanya tumbuh subur. Kemudian seorang teman baik yang tinggal di Rotterdam datang main ke rumah saya. Ketika hendak pulang kembali ke Rotterdam saya beri buah tangan satu pot tanaman basil hasil semaian saya. :))

Yang satu pot lagi tetap menjadi teman setia saya di ambang jendela dapur. Tanahnya sudah 2-3 kali saya ganti. Tanaman basil cepat sekali membuat tanah jadi kurus. Akar-akarnya tumbuh dengan ganas. Tapi memang hasilnya terlihat. Si basil pun tumbuh dengan ganas. Padahal saya tidak terlalu sering memasak menggunakan daun basil. Alhasil tanaman basil dalam pot di ambang jendela dapur saya jadi cepat gondrong. Jadi tampak terlalu padat. Dan layaknya rambut atau jenggot yang sudah terlalu gondrong, ya harus dipangkas. Agar tunas-tunas daun muda yang muncul di setiap ketiak pangkal daun bisa tumbuh dengan baik. Dan itulah yang saya lakukan.

Tapi lalu tangkai-tangkai daun basil hasil pemangkasan itu mau diapakan? Belum ada kebutuhan untuk memasak dengan menggunakan bumbu daun basil lagi. Kadang saya pakai untuk campuran salad selada mentah. Itupun cuma beberapa helai. Sisanya yang belum terpakai akhirnya saya taruh dalam gelas dan saya beri air. Tujuan saya sebenarnya cuma agar daun-daun basil itu tidak perlu disimpan dalam lemari pendingin dan tetap segar. Air dalam gelas saya ganti setiap hari. Ini penting. Air yang tidak diganti lama kelamaan akan keruh dan busuk. Ini akan bikin akar dan tangkai basil yang terendam air perlahan jadi ikut busuk. Ngomong-ngomong, ini kan ide dasarnya seperti menaruh bunga potong dalam vas berisi air untuk menghiasi satu pojok dalam rumah kita.

Lalu saya perhatikan, setelah lewat 4 hari berselang, kok tangkai-tangkai basil yang terendam air itu mulai mengeluarkan akar!! Waaaahhhahahaha… :))

Sampai tulisan ini dibuat sih si tangkai-tangkai basil yang sudah berakar di dalam air itu belum saya tanam dalam pot dengan tanah biasa. Tapi akan saya lakukan setelah selesai menulis posting ini. Penasaran, apakah bisa terus tumbuh dan subur. Kalau ya, ini satu alternatif memperbanyak tanaman basil tanpa harus menyemai biji. Kenapa tidak?

Kalau menanam basil dengan menyemai biji kan bijinya baru akan bertunas setelah 4-5 hari disemai. Lalu kita harus menunggu dengan sabar sampai sepasang daun pertama muncul dengan sempurna. Setelah itu Harus menunggu lagi dengan sabar sampai pasang-pasang daun selanjutnya muncul dan menjadi besar. Sementara itu kita harus tetap memperhatikan tanah tempat tumbuh si basil. Karena, walaupun masih kecil, akar-akar basil ganas juga. Bikin tanah cepat kurus dan kering. Jadi harus sering diganti.

Satu tip sederhana tapi penting. Semakin sering kita memberi perhatian dan cinta kepada si tanaman, apapun itu, dalam hal ini basil, si tanaman akan senang dan berterima kasih. Apalagi kalau kita ajak bicara juga sambil daun-daun basil itu kita elus-elus. Hhhmmm…. mereka makin bahagia. Dan mereka akan membalas budi dengan berlimpah ruah. Tumbuh dengan subur. Tidak percaya?? Coba deh. Tidak butuh ongkos kok. Cuma 1-2 menit sehari. Nothing to lose. Tidak ada ruginya. Malah untung. Karena kegiatan ini sangat relaxing. Dan kalau tanaman yang kita pelihara adalah tanaman yang hasilnya bisa dikonsumsi, untungnya jadi berlipat ganda. Stres hilang dan kalau butuh daun basil untuk masakan kita, ya tinggal petik. Tidak perlu beli lagi, lagi dan lagi. Ya kan?! ;)

* * * * * * *

Advertisements

4 comments

  1. Halo Retno, saya suka membaca blog kamu. Apakah kamu punya akun instagram? Ingin sekali rasanya berteman : )

    Salam kenal : )

    1. Halo Rere Retha.
      Terima kasih ya sudah mampir di Hujan Tengah Hari. Salam kenal juga.
      Sayangnya saya tidak punya akun instagram. Apakah kamu punya akun Facebook? Kalau ya, boleh saya minta nama akunmu?

      Salam, Retno.

      1. Waaah boleh. Kalau begitu saya saja yang minta akun facebook kamu, biar saya yang add duluan :D

        Terima kasih ya …

        Posting lebih banyak tentang berkebun ya… Hehehe

      2. aku saya pakai nama saya yg tercantum di blog ini.
        terima kasih utk sarannya memperbanyak postingan tentang berkebun.
        memang sudah lama saya tidak posting apapun di blog ini.
        nanti pasti saya akan mulai posting lagi. terima kasih ya, Rere Retha.
        senang dapat feedback positif darimu.

        salam, Retno.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: