melati

Saya punya 1 pot tanaman melati di rumah. Bibitnya saya bawa dari rumah orangtua saya di Jakarta dalam bentuk stek batang. Kalau sedang berbunga banyak sekali, wah, baunya semerbak. Bahkan kalau saya lewat di dekat pot melati itu, pasti mencium baunya yang menyebar.

Kira-kira tiga minggu yang lalu saya pergi ke rumah seorang teman Indonesia. Tujuannya membantu membereskan rumah sewaannya karena akan dikembalikan ke si pemilik. Mereka hendak pulang ke Indonesia untuk selamanya. Dan rumah harus dikembalikan dalam kondisi sebaik mungkin. Banyak hal mesti dibereskan. Tinggal di suatu tempat selama kira-kira 12 tahun tentu saja nyarang.

Ketika sedang berhenti sejenak untuk istirahat kami: saya, seorang teman Indonesia lain dan dua orang tante si teman yang hendak pulang itu, ngobrol-ngobrol di sekeliling meja makan. Jendela ruang makannya menghadap ke kebun belakang. Tanaman di kebun belakang banyak ragamnya. Ada satu yang tinggi, merimbun dan sedang berbunga lebat. Lalu tante yang satu berkata, “Tanaman yang itu tuh melati. Baunya harum sekali. Itu dulu saya yang kasih.” Wah… Tentu saja antena saya langsung menyala. Dan ternyata antena semua orang yang berkumpul di sekeliling meja makan juga menyala. Hahaha… ternyata kami semua penggemar tanaman. Jadi topik obrolan mendadak beralih ke si melati di kebun belakang itu.

Si tante bilang bahwa melati yang ada di kebun belakang teman saya itu asalnya dari stek tanaman melati di rumah dia. Ooo.. jadi melati yang satu ini bisa ditanam dengan cara stek batang juga toh. Wah… mau dong steknya. Teman saya bilang, “Ya ambil saja. Saya juga tidak bisa bawa tanaman.” Semua orang langsung beranjak dari tempat duduk masing-masing dan pergi ke kebun belakang, menyerbu si melati.

Si tante, dari siapa tanaman melati itu berasal, bilang batang yang hendak dijadikan stek sebaiknya adalah batang yang muda. Yang di pucuk tanaman. Hhmm… Saya memotongkan beberapa batang stek untuk tante yang satunya lagi. Saya ambilkan dari dua jenis batang. Batang muda yang masih lunak dan hijau, di pucuk tanaman. Dan batang yang agak tua, keras dan berwarna coklat agak di tengah. Semua daun saya buang. Jadi tinggal batang saja. Lalu saya juga mengambil tiga batang untuk saya sendiri. Saya mengambil 2 dari batang yang agak tua dan satu yang muda dari pucuk.

Hanya saja, saya tidak tahu melati jenis apa ini. Bentuk daun dan bunganya berbeda dari melati yang saya kenal selama ini. Saya coba googling tapi tidak menemukan nama si melati. Saya cuma menemukan beberapa fotonya. Saya menemukan satu yang tampak paling jelas. Fotonya bisa dilihat di sini.

Sesampainya di rumah saya menancapkan ketiga batang stek melati itu ke dalam tanah di pot kamboja. Kalau sedang punya bibit stek (dari tanaman apapun), biasanya saya tidak menaruh stek tersebut dalam satu pot tersendiri. Saya menancapkannya dalam pot tanaman lain yang sudah mapan.

Ini saya lakukan seturut pengalaman saya menanam bibit stek. Dulu saya selalu menanam bibit stek, tanaman apapun, dalam pot tersendiri. Hampir selalu mati. Biasanya karena tanah potnya terlalu basah atau terlalu kering. Susah sekali menjaga agar kelembaban tanah di pot bibit stek itu bisa pas.

Bibit stek batang kan tidak butuh banyak air. Sebab belum ada akar yang tumbuh. Si bibit stek hanya butuh sedikit air untuk merangsang pertumbuhan akar. Tapi kalau disiram hanya dengan sedikit air tanah dalam pot akan cepat kering. Ini juga tidak baik. Karena si bibit stek jadi kekurangan air. Dua-duanya mengakibatkan bibit stek mati. Busuk karena kebanyakan air atau kering karena kehausan. Kan serba bingung. Serba salah.

Suatu hari saya punya bibit stek. Entah apa. Saya mencoba menancapkan bibit stek di tanam dalam pot sebuah tanaman yang sudah mapan. Logikanya: bibit stek bisa mendapat cukup air tapi tidak ada kekhawatiran si bibit stek busuk karena kelebihan air. Bila tanpa sengaja saya menyiramkan air terlalu banyak, kelebihan air yang ada akan diserap oleh akar-akar tanaman yang sudah mapan  itu. Ternyata metode temuan saya ini jitu. Jadi sejak itu cara ini yang saya lakukan. Dan sekarang saya sedang menerapkannya pada bibit stek melati.

Seminggu yang lalu bibit stek melati itu mulai mengeluarkan tunas daun di ketiak-ketiak cabang bekas tempat daun tumbuh. Sekarang tunas-tunas daun itu sudah berubah menjadi bayi-bayi daun. Moga-moga akan terus hidup dan tumbuh dengan subur. Jadi nanti kalau sudah jadi tanaman melati yang mapan bisa dipindah, ditanam di salah satu sudut di kebun belakang.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: