anyelir

Atau carnation dalam bahasa Inggris. Bahasa Latinnya: Dianthus caryophillus. Diduga berasal dari kawasan Mediterania. Merupakan tanaman terna tahunan (Ingg. perennial) dan tumbuh merumpun. Warna bunganya beraneka ragam.

Saya suka sekali tanaman bunga yang satu ini. Bunganya tidak besar, tapi tidak kecil dan warnanya indah. Yang lebih penting lagi, anyelir ini tumbuh merumpun dan bisa sampai menutupi satu petak tanah di satu sudut taman. Pemeliharaannya pun sangat mudah. Nyaris tidak memerlukan penanganan. Hanya saja, bila lama tidak turun hujan dan hawa panas dengan suhu udara tinggi, tanaman anyelir perlu juga disiram.

Saya juga menanamnya di taman depan rumah saya. Bibitnya saya beli dari sebuah pusat tanaman di kota tetangga. Waktu itu yang ada tinggal 3 pot kecil. Masing-masing berisi satu bibit anyelir. Saya pilih satu yang paling sehat. Setelah membayar, saya pulang ke rumah naik sepeda. Sore harinya, ketika matahari sudah tidak garang bersinar, saya pindahkan bibit anyelir mungil itu di satu pojok taman depan rumah, di dekat pintu masuk. Tentu setelah itu saya siram air yang cukup banyak.

Itu terjadi 2 tahun yang lalu.

Tahun lalu bibit anyelir mungil saya sudah menjadi rumpun bagus yang selalu bergairah untuk menumbuhkan bunga. Rumpunnya rimbun sekali. Lalu saya memutuskan untuk membagi rumpun subur itu menjadi tiga rumpun kecil. Masing-masing saya tanam kembali berjejer, berdekatan, dengan jarak sekitar 2 jengkal tangan antara satu rumpun dengan yang lain.

Tahun ini, masing-masing rumpun kecil itu sudah beranak-pinak dan melebar. Sudah memunculkan banyak tunas bunga. Bahkan ada dua yang sudah mekar. Aahh.. senangnya. :)

Ketika orangtua saya datang menengok kami di tahun 2004, kami dihadiahi seikat bunga anyelir potong oleh ibu mertua saya untuk ditaruh di vas, menghiasi satu sudut ruang keluarga kami. Dua minggu kemudian, bunga-bunga anyelir potong itu layu dan tiba waktu untuk dibuang. Sayang ya.

Tiba-tiba ibu saya bilang agar tangkai-tangkai anyelir potong itu jangan dibuang dulu. Sebaiknya dipilah. Tangkai yang masih cukup baik dan segar bisa disisihkan untuk ditanam sebagai stek. Waahh.. Saya tidak tahu kalau menanam anyelir bisa dari stek batangnya. Sayangnya ketika itu, entah kenapa, stek anyelir yang kami tancapkan ke tanah tidak ada satu pun yang tumbuh. Lalu ide ini terlupakan begitu saja.

Awal april yang lalu saya kembali ke Belanda dari pulang menengok keluarga di Indonesia. Ibu mertua saya memberi seikat bunga anyelir potong dengan kartu ucapan “selamat datang kembali”. How sweet! Saya taruh dalam vas yang cukup besar. Saya ganti air vasnya sesering mungkin. Dan setiap 2-3 hari pangkal batangnya harus saya potong beberapa centimeter untuk membuka pori-pori baru agar si batang bisa menyerap air segar dengan lebih baik.

Ketika itu saya merenung, kenapa potongan-potongan pangkal batang yang sudah tidak terpakai lagi itu tidak saya coba tancapkan saja ke tanah. Siapa tahu bisa tumbuh. Dan itulah yang saya lakukan.

Saya pilih potongan-potongan yang memiliki mata atau ketiak cabang. Kemudian saya tancapkan di tanah di dalam pot yang agak lebar. Saya siram sampai sisa airnya mengalir dari lubang di dasar pot. Dan walaupun suhu udara di awal april masih cukup dingin, saya menaruh pot berisi stek batang anyelir itu di kebun belakang, di satu sudut yang cukup mendapat sinar matahari.

Dan ketika anyelir-anyelir potong itu tak bisa lagi dipertahankan untuk dipanjang di dalam vas karena sudah mulai membusuk, saya pilah-pilah lagi. Bagian tangkai yang masih cukup segar dan bisa saya jadikan bibit stek saya sisihkan. Selebihnya saya buang ke kontainer sampah.

Perlahan-lahan perubahan mulai tampak. Beberapa tangkai stek mulai mati. Beberapa lainnya mulai menumbuhkan sepasang tunas daun baru dari ketiak cabang. Ahaayy! :) Hingga akhirnya beberapa tangkai stek yang bisa bertahan hidup dan terus tumbuh memunculkan tunas-tunas bunga.

Saya takjub dan kagum pada alam dengan segala kekuatan dan rahasianya. Dan kadang kekuatan alam bisa disaksikan dari hal-hal yang begitu subtil. Halus.

Sebagian bibit stek anyelir di dalam pot sudah saya pindahkan ke tanah. Di pojok terjauh di kebun belakang. Sebagiannya lagi masih di dalam pot, menunggu hingga kondisi yang lebih baik untuk dipindahkan ke tanah. Mungkin di satu pojok lain di taman depan saya. Semoga bibit-bibit stek anyelir yang bertahan hidup itu bisa makin fit dan tumbuh subur, menghiasi taman depan dan kebun belakang saya. Sehingga saya bisa menambah koleksi tanaman tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Kenapa tidak? :)

* * * * * * *

Advertisements

2 comments

  1. saya baru mau nyoba nyetek anyelir, terimakasih postingan ini cukup memberikan informasi mba :)

    1. halo mbak Kusdania,
      terima kasih sudah mampir di blog Hujan Tengah Hari. Maafkan telat membalas.
      Semoga usaha stek anyelirnya berhasil.

      Salam.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: