bami- dan nasibal

Saya rasa makanan ini diciptakan oleh orang lokal sebagai hasil perpaduan antara daya kreativitas dan rasa malas. Mungkin awal-awalnya mereka ingin dan senang makan bakmi dan/atau nasi, tapi malas kalau harus selalu disantap dengan cara konvensional, dituang ke dalam piring dan menggunakan garpu dan pisau, bukan sendok dan garpu. Mungkin juga mereka ingin sekali-kali membawa bakmi atau nasi untuk bekal makan siang di tempat kerja atau di sekolah. Tapi repot. Maka lalu mencari akal agar tetap bisa membawa bekal bakmi atau nasi itu tapi membawanya dengan cara yang lebih mudah. Lebih praktis.

Bisa juga seperti versi yang saya baca di internet. Di tahun 1950-an nasi goreng dan bakmi goreng menjadi makanan pendatang baru yang eksotis. Mereka membuatnya. Tapi bila ada sisa, malas menyimpannya untuk disantap lagi keesokan harinya. Esok hari tentu makanan harus baru. Lalu timbullah ide membuat bola-bola nasi dan bakmi goreng. Direkatkan dengan tepung terigu, telur yang dikocok lepas dan tepung panir, nasi- dan bakmi itu dibentuk bulat. Lalu digoreng. Jadilah nasi- dan bamibal.

Pasti si pencipta bamibal dan nasibal itu melakukan ujicoba berulang-ulang hingga mencapai hasil yang sekarang ada. Menurut saya itu ide yang brilian. Saya ingin juga bisa bikin bamibal dan nasibal itu. Tapi itu soal lain.

Di salah satu pojok kota Velp di propinsi Gelderland ada sebuah kafetaria yang menjual bamibal dan nasibal enak. Kafetaria ini tidak besar. Dari luar kelihatan sempit. Tapi di dalamnya ada ruang dengan beberapa meja dan kursi untuk para pembeli yang ingin makan di tempat. Tidak ada yang istimewa dari tampak luarnya. Tapi kafetaria ini terkenal sekali, khususnya untuk mereka yang tinggal di Velp, Arnhem dan sekitarnya. Namanya “Automatiek Beursken”.

Ron juga tahu. Bahkan dia bilang, kafetaria ini sudah lama ada. Sejak dia masih kecil. Dulu orangtuanya sesekali juga membeli bamibal dan nasibal di situ. Kalau ibunya sedang sibuk dan tidak sempat masak. Jadi beli bamibal dan/atau nasibal untuk disantap sebagai makan malam. Jadi setidaknya kafetaria ini sudah dikelola oleh dua generasi.

Automatiek Beursken ini tidak pernah sepi pembeli. Apalagi kalau akhir pekan. Ada dua hal yang membuat kafetaria yang satu ini terkenal. Pertama, bamibal dan nasibal yang dijual di situ adalah bikinan sendiri. Homemade. Resepnya tentu resep keluarga dan rahasia. Harganya biasa saja. 1 euro 50 sen.

Faktor kedua yang bikin kafetaria ini terkenal adalah jam bukanya. Tidak umum untuk ukuran jam buka kafetaria dan restoran di Belanda sini. 7 hari dalam seminggu. Cuma di hari minggu si kafetaria tutup sebelum jam 12 malam. Selebihnya kafetaria ini tutup setelah lewat tengah malam. Tentu bukannya tanpa risiko keamanan. Silakan disimak sendiri di bawah ini.

Hari minggu yang lalu Ron mengajak saya pergi membeli bamibal dan nasibal di Automatiek Beursken itu. Yayy…! Dia bilang, “Kita sudah lama nggak ke sana. Ayo kita beli bamibal dan nasibal untuk makan siang.” Ah.. ah.. ah.. romantis kan?!

Ron memesan satu bamibal dan satu nasibal untuk saya. Dia memesan satu bamibal untuk dia sendiri. Catatan tambahannya ketika memesan adalah “untuk dibawa pulang”. Jadi pesanan kami dimasukkan ke dalam kantong kertas.

Selama menunggu Ron memesan dan membayar, saya menunggu di luar. Di trotoar depan pintu masuk kafetaria Automatiek Beursken ada tiga bangku panjang yang menghadap ke kafetaria. Saya duduk di salah satu bangku itu sambil menikmati hangatnya sinar matahari di awal musim panas.

Kalau biasanya kami harus menunggu cukup lama, kali ini Ron hanya sebentar di dalam. Ternyata ketika dia masuk untuk memesan, staf kafetaria sedang menggoreng bami- dan nasibal. Tentu saja dalam jumlah yang cukup banyak sekali goreng. Kami memutuskan untuk menyantap bami- dan nasibal itu sambil duduk di bangku depan kafetaria.

Saya memutuskan untuk memakan nasibal lebih dulu. Kalau Ron tidak ada pilihan selain memakan bamibal. Kami makan pelan-pelan dan hati-hati. Bami- dan nasibal itu masih sangat panas. Baru keluar dari penggorengan. Ketika akhirnya kami bisa mulai menyantap segigit, asap mengepul keluar. Wow!

nasibal

bamibal

Saya belum selesai makan ketika Ron sudah menamatkan riwayat bamibalnya. Lalu dia minta uang pas, receh 1,50 euro. Dia mau beli bamibal lagi. Tapi kali ini dari mesin penjual snack otomatis yang juga tersedia di kafetaria Automatiek Beursken itu. Hahaha.. Persis anak kecil.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: