seledri

Sekarang musim tanam sudah bisa dimulai. Sebab suhu udara sudah mulai menjadi hangat.

Jumat pagi yang lalu saya pergi ke pasar di Arnhem untuk berbelanja. Juga sekalian mengembalikan buku ke perpustakaan pusat propinsi sebab letaknya hanya beberapa meter dari pasar. Saya membeli paprika merah dan hijau dan sebengket seledri. Di kios sayuran langganan saya seledrinya dijual masih dalam bentuk bonggolan, lengkap dengan akar dan sedikit sisa tanah. Akarnya hanya dipapras nyaris habis.

Sebenarnya saya tidak sedang butuh menggunakan seledri untuk memasak makanan tertentu. Saya membeli seledri itu lebih dikarenakan ingin menggunakan pangkal bonggolnya untuk ditanam di kebun belakang saya. Tapi tentu seledrinya tidak akan saya sia-siakan. Menyimpan seledri di lemari pendingin selalu ada gunanya. Untuk hiasan taburan sop sayur (Engl.: garnish) atau yang lainnya. Citarasa masakan jadi lebih sedap.

Ya. Daripada menanam seledri dari bibit bayi yang dibeli di kios tanaman atau dengan terlebih dahulu menyemai benih bijinya, saya lebih suka menanam seledri dengan menanam pangkal bonggolnya. Lebih cepat tumbuh dan menjadi besar. Jadi bisa lebih cepat dipetik untuk digunakan bilamana perlu.

 

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: