ke pasar

Seperti biasanya hari jumat, tadi pagi saya ke pasar di kota. Maksud saya di Arnhem, ibukota provinsi Gelderland. Tidak ada hal tertentu yang ingin atau harus saya beli kecuali haring dan roti puntjes titipan Ron, suami saya.

Wooowww… hari ini, walaupun mendung dan berangin cukup kencang, pasar Arnhem penuh manusia. Kios-kios penjualan ikan dan seafood penuh sesak dijejali calon pembeli. Saya memilih satu kios yang kebetulan sedang tidak terlalu dijejali pembeli. Dan kebetulan pula langsung dilayani. Sip! 4 ekor haring €5,-. Pakai cacahan bawang bombay juga. Selesai.

Lalu saya berjalan tak tentu arah di pasar, menghampiri kios yang satu dan berikutnya, lalu berikutnya dan berikutnya. Lalu saya masuk ke satu kios sayur. Berjalan berkeliling untuk melihat-lihat apa yang bisa saya beli. Hmmm.. Satu pot daun ketumbar seharga €1,98 tampak menarik. Saya ambil satu tas plastik biru untuk mewadahi pot daun ketumbar itu. Setelah itu saya menghampiri keranjang berisi peterseli dan seledri. Berminat membeli sebonggol daun seledri. Sebonggol sebab dijual masih berikut akarnya yang hanya dipangkas nyaris habis.

Sedang memilih bonggol seledri yang akarnya paling segar – sebab saya berencana menanam pangkal bonggol seledri itu di kebun belakang – tiba-tiba datang seorang gadis cilik menghampiri keranjang berisi tomat ceri yang terletak di sebelah keranjang peterseli dan seledri. Tomat-tomat ceri itu ditata dalam kotak-kotak plastik berbentuk segitiga, tertumpuk cukup rapi.

Awalnya saya kira si gadis kecil hendak mengambil sekotak tomat ceri sebab disuruh ibunya yang tampak sedang sibuk memilih-milih sayuran tidak jauh di sebelah kiri saya. Tapi gerakan tangannya yang sangat sibuk jadi mengganggu konsentrasi saya. Saya menoleh sekilas ke keranjang tomat ceri. Saya melihat tangan mungilnya ternyata sedang berusaha meraup sebanyak mungkin butir-butir tomat ceri dari dalam sebuah kotak ceri.

Hahh?!!

Loh.. apa maunya nih anak? Mengambil tomat-tomat mungil itu untuk kemudian mengkonsumsinya tanpa bayar? Kontan saya mencegahnya dengan bilang, “Niet doen!” dengan suara pelan. “Jangan lakukan itu!” Si gadis cilik menoleh kaget ke arah saya, tidak mengira ada yang menegurnya. Lalu dia menghentikan kegiatannya meraup tomat ceri dan bergegas menghampiri ibunya yang masih saja sibuk memilih-milih sayuran tidak jauh di sebelah kiri saya tanpa menyadari perbuatan anaknya. Saya pun kembali pada kegiatan memilih-milih bonggol seledri yang paling segar walaupun akhirnya tidak jadi membeli apa-apa dari stand sayur tersebut. Sebab ketika akhirnya selesai memilih seledri, saya berjalan menuju ke tempat pembayaran dan ya ampuunn… antriannya panjang sekali. Malas ngantri, saya memilih mengembalikan pot daun ketumbar dan bonggol seledri ke tempatnya masing-masing dan saya berjalan keluar melenggang dari stand sayur itu dengan tangan hampa!

* * * * * * *

Advertisements

One comment

  1. tobytall · · Reply

    hahaha mungkin ga tau :)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: