ke pasar 02

Sebelum berkeliaran di pasar, saya menyempatkan diri mampir di perpustakaan pusat provinsi yang terletak di jantung kota Arnhem. Hanya beberapa langkah dari pasar. Bahkan kalau berjalan dari halte bis menuju pasar, saya pasti harus melewati perpustakaan pusat. Ada satu buku pinjaman yang hari ini tadi harus saya kembalikan kalau tidak mau didenda.

Setelah mengembalikan buku tersebut saya menuju ke lantai satu gedung perpustakaan pusat. Melihat-lihat display buku-buku di seputar tangga, saya memilih satu novel berbahasa Inggris untuk saya pinjam. Lalu saya menuju ke lantai dua. Setelah memanfaatkan fasilitas komputer katalog saya menuju rak buku untuk kategori resep. Yap! Apalagi kalau bukan buku resep roti. Never get enough of baking bread!

Saya pinjam tiga! Hahaha… *I was in a greedy mode :D

Jadi plus novel total saya pinjam 4 buku. Uffhhh…berat!!

Untung saya bawa tas belanja besar. Jadi saya tidak perlu menenteng-nenteng keempat buku yang berat tersebut. Setelah itu barulah saya menuju pasar untuk berbelanja.

Selesai belanja, saya mampir di kedai kopi plus-plus yang terletak di antara pasar dan perpustakaan pusat. Saya beli patat. Kentang goreng. Di kedai itu kentang gorengnya enak, lumayan murah dan porsinya cukup besar. Jadi bisa puas makan kentang goreng. Saya hobi banget makan kentang goreng. Saya pesan untuk dibawa pulang.

Dibawa pulang? Saya makan kentang gorengnya sambil jalan menuju Gereja St. Martinus di seberang pusat perbelanjaan Arnhem. Tiap jumat diselenggarakan misa kudus di Gereja St. Martinus. Dan hari ini adalah hari jumat pertama. Jadi kesakralannya dobel.

Sejak tiba kembali di Belanda baru tiga kali saya ikut misa. Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah. Keimanan yang minim! Hari ini kangen ikut misa jumat. Dan melangkahlah saya ke sana. Telat pula.

Waktu saya masuk gereja bacaan pertama baru mulai dibacakan. Saya memilih duduk di barisan agak belakang agar tidak mengganggu. Kepala saya penuh dengan kilatan-kilatan ingatan ini dan itu, mengganggu konsentrasi saya dalam berusaha untuk khusyuk. Apalagi misanya dalam bahasa Belanda. Jadi tambah sulit berkonsentrasi.

Lalu ibadat sabda selesai. Dan ibadat ekaristi dimulai. Ini juga pertanda piring kolekte mesti diedarkan. Tidak ada yang maju. Hhmmm.. Sudah saya duga. Dan bapak tua yang dulu biasa mengedarkan piring kolekte juga tidak berusaha celingak-celinguk, mencari orang yang mau mengedarkan piring kolekte. Aneh. Dulu biasanya dia celingak-celinguk loh. Dan kalau tidak ada yang maju untuk mengedarkan piring kolekte, dia akan maju. Tadi itu dia juga tidak bergerak maju untuk mengambil piring kolekte, apalagi mengedarkannya. Benar-benar aneh.

Saya berdiri, melangkah maju, mengambil piring kolekte dan mulai mengedarkannya.

Aneh!

Entah mengapa, selalu ada sebersit rasa sejuk setiap kali habis mengedarkan piring kolekte itu. Saya sok GR saja. Saya rasa Tuhan senang saya melayaninya walaupun cetek banget… :)

Ketika misa selesai, seperti biasa, saya menutup dengan doa pribadi. Orang-orang yang lain satu per satu beranjak keluar. Untuk pulang atau pergi entah ke mana. Ada satu perempuan yang melewati baris bangku tempat saya duduk ketika saya sedang membuat tanda salib, menutup doa pribadi saya. Dia melihatnya. Dia berhenti, berbalik dan menghampiri saya. Menyapa. “Hai. Kamu yang tadi mengedarkan piring kolekte. Kamu kan… kalimatnya menguap di udara. Hmm.. Siapa namamu?” “Retno,” jawab saya. Dia tersenyum mengangguk, seolah familiar dengan nama saya itu. Saya balik bertanya, “Kamu siapa?” Dia mengulurkan tangan, menyalami saya sambil menyebutkan nama lengkapnya.

(Lima menit kemudian saya lupa nama dia. Hhmm…)

Lalu dia berkata, “Kamu kan anggota lektor gereja ini kan?” Saya tersenyum lebar dan menjawab, “Iya. Tapi saya belum mulai lagi. Mungkin nanti, kalau jadwal berikutnya sudah keluar.” Dia mengangguk lalu bertanya, “Apa kamu sudah sempat ketemu dengan Marga? Atau kamu baru sampai lagi di Belanda dan belum sempat ketemu dia?”

Marga itu nama koordinator lektor Gereja St. Martinus.

“Oh, saya sudah sempat ketemu dia. Mungkin dua atau tiga kali.” Lalu saya tanya dia, “Kamu juga jadi lektor?” Dia bilang, tidak. Ternyata dia salah seorang pengurus Gereja St. Martinus.

Lalu kami menyudahi percakapan dengan saling mengucapkan selamat akhir pekan.

Tambah aneh! Bersit rasa sejuk itu jadi berlipat ganda.

Saya meninggalkan gereja, berjalan menuju ke halte bis sambil berbisik dalam hati. Terima kasih, Tuhan.

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: