paket dari aussie

Kemarin siang saya nyaris tidak mengerjakan apapun. Hanya duduk membaca di depan tv yang menyala dan menayangkan pertandingan snooker antara dua pesnooker favorit saya, Ronnie O’Sullivan dan Neil Robertson. Tiba-tiba saya melihat dari kaca jendela depan yang tertutup tirai tipis sekelebat bayangan menghampiri pintu masuk rumah. Hmmm.. ibu pos. Tukang posnya di sini banyak yang perempuan.

Saya dengarkan saja bunyi pintu kotak pos dibuka dan ditutup. Tapi kok yang kali ini lama sekali. Si ibu pos terdengar berusaha keras menyelipkan sesuatu, tentu benda pos, lewat lubang pos di pintu masuk, tapi mengalami kesulitan. Tapi tampaknya akhirnya dia berhasil juga. Saya melihat kelebat bayangannya pergi meninggalkan rumah saya.

Segera saya pergi menghampiri pintu depan untuk menengok apa yang baru saja terjadi dan diselipkan masuk oleh si ibu pos. Dua buah paket dalam amplop gelembung. Dua? Hhmm.. Saya pungut keduanya dari lantai. Saya teliti satu per satu. Yang satu benar untuk saya. Alamat tujuannya benar. Yang satu lagi ternyata salah. Cuma nomor rumahnya yang benar. Wah… si ibu pos ini gimana sih? Kok alamat tujuannya nggak dibaca yang benar. Kontan saya membuka pintu depan sebelum si ibu pos meninggalkan area rumah saya. Saya panggil dia. “Bu!” Dia menoleh dan melihat ke arah saya. Saya teruskan, “Paket ini salah alamat. Anda mengantarkan ke alamat yang salah. Nama jalannya salah walaupun no rumahnya benar.” Dia berjalan menghampiri dan saya menyodorkan paket salah alamat itu untuk dia periksa. Dan dia berkata, “Oh iya, salah alamat. Wah!” Dia bilang terima kasih sambil menertawai keteledorannya dan pergi. Saya menutup pintu rumah dan kembali ke dalam. Melihat-lihat paket dari Aussie sambil tersenyum senang untuk kemudian menaruhnya di atas meja komputer suami saya. Kami biasa membuka paket kiriman dari siapapun bersama-sama. :)

Jam 5 sore dan suami saya pulang dari kantor. Seperti biasa ritual dia: celingak-celinguk mencari saya. Ketika sudah menemukan di mana saya berada, dia menyapa dengan girang. Lega sudah sampai lagi di rumah dan berkumpul lagi bersama saya. Barulah kemudian dia menaruh tas makan siangnya, membuka jaket dan menggantungnya di kapstok atau menyampirkan di kursi terdekat sambil matanya berusaha menangkap hal-hal yang tidak biasa. Kali ini, tentu saja, paket dari aussie yang tergeletak di meja komputernya. Berseru, “Heyyy… apa ini??” sambil nyengir lebar. Lalu ke dapur untuk mencuci tangan.

Setelah selesai mencuci tangan, dia meraih paket itu dan membawanya ke sofa, duduk di sebelah saya dengan tatapan mata yang bertanya-tanya. Saya tersenyum dalam diam, membiarkan dia menebak sendiri. Dia meneliti paket itu. Tiba-tiba ingat! “Oohhh… saya ingat sekarang. Ini paket dari Titut dan Gita. T’shirt buatan Gita!!” Dia tertawa senang. “Kita buka?” tanya dia ke saya. Saya cuma mengangguk dan tersenyum, senang dia berhasil menebak isi paket itu.

Dalam sekejap amplop gelembung itu sudah terbuka dan dia menarik isinya keluar. Dua buah t’shirt dalam lipatan yang rapi. Dia bertanya yang mana yang untuk dia. Saya cuma bilang, tentu yang ukurannya besar. Dia buka lipatan kedua t’shirt itu. Voila! Desain warna melingkar seolah matahari yang berpendar-pendar.

Seperti yang selalu menjadi kebiasaannya, Ron melihat-lihat kedua t’shirt itu dengan teliti. Menghabiskan waktu beberapa menit untuk mengagumi sambil senyum-senyum senang. Kok mirip anak kecil yang dapat kado atau oleh-oleh tak terduga. Hehehe… Lalu dia menyerahkan kedua t’shirt itu kepada saya untuk saya lihat-lihat. Dia bilang, “Bisa nggak kamu menemukan sesuatu yang khusus di kedua t’shirt ini?” Saya mencoba dan tidak bisa. Dia bilang, “T’shirt ini diberi nama di lidah mereknya,” sambil menunjukkannya ke saya. “O ya!!” :D

Lalu dia bilang, “Kayaknya saya tahu cara bikin desain warna-warni seperti ini deh.” Saya tanya dia, “Gimana?” Dia bilang, “Begini nih” sambil menaruh t’shirtnya di tengah-tengah meja depan tv, mencubit dengan gaya imut di titik di tengah-tengah lingkaran pendar matahari itu lalu mengangkatnya.  Lalu dia bilang, “Lalu dicelup dengan warna yang warna-warni secara bertahap, sebagian demi sebagian.” Hahahaha…

Tiba-tiba dia berdiri, melepaskan baju hangat dan t’shirt yang dikenakannya lalu mengenakan t’shirt dari Aussie yang menjadi jatahnya. Pas. Cukup. Agak cingkrang. Tapi baguuuuss!! :) Dia sukaaa.. Saya foto dia. Lalu saya juga mencoba mengenakan t’shirt yang menjadi jatah saya. Wowwww!! Canteeekk….

Terima kasih ya Gita dan Titut. Peluk cium sayang selalu dari kami berdua untuk kalian!

* * * * * * *

Advertisements

2 comments

  1. tobytall · · Reply

    Wihihihihi dipasang di blog :p aku suruh gita liat ya :*

    1. dancing life · · Reply

      you should…you should… :*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: