Kebaya

Seorang kenalan baik di Belanda sini, Elly, akan menikahkan anaknya.

Pesta!!

Senangnya bisa pesta di Belanda. Jarang-jarang tuh.

Elly tampaknya dilahirkan di tubuh yang salah. Dia perempuan Suriname keturunan India. Wajahnya tentu saja wajah India. Tapi jiwa dan hatinya begitu Indonesia. Jawa, tepatnya. Dia suka makanan Indonesia. Dia suka segala pernak-pernik yang berbau-bau Indonesia. Yang lebih gila lagi, dia suka pakai kebaya!!

Segitu sukanya dia pakai kebaya, sampai-sampai di saat menyelenggarakan pesta nikah anaknya tanggal 9 september nanti, dia berencana untuk berganti pakaian. Separo pertama waktu pesta dia akan mengenakan sari. Setelah itu dia akan mengganti sarinya dengan kebaya. Jariknya tentu saja jarik yang sudah jadi, tinggal pakai. Tapi, alamaaakkk!

Tidak cukup sampai di situ, dia punya ide lainnya tentang kebaya ini. Dia meminta kami, para kenalannya yang orang Indonesia, untuk datang ke pesta nikah anaknya juga dengan mengenakan kebaya.

*menghela napas*

Tentu saja saya tidak harus menuruti permintaan Elly ini. Tapi saya ingin menghormati dan menghargai ide dia. Lagipula, ini kesempatan baik untuk mempromosikan budaya Indonesia juga. Dan ketika ide ini justru datang dari seorang perempuan India Suriname, saya jadi merasa begitu tersentuh. Terhormat. Dan sepatutnya memenuhinya.

Tapi di Belanda sini saya tidak punya kebaya. Tidak membawanya dari Indonesia. Semua koleksi kebaya saya tinggal di lemari pakaian di Jakarta. Sebab tidak terpikir akan ada kesempatan untuk mengenakannya. Jarang ada pesta. Kalaupun ada, pestanya juga pesta Belanda. Alasan terakhir dan terpenting, saya malas kedinginan.

Musim panas di Belanda bisa terasa begitu dingin, seperti musim panas tahun ini. Musim panas yang gagal. Sebab terlalu sering turun hujan. Dan hujannya juga membawa bala: kilat, petir dan angin!! Kalau sudah begini, berhubung ternyata saya ini mahluk tropis tulen, walaupun yang tipis tapi perlengkapan musim dingin mesti dikeluarkan juga dari lemari baju. Hhmmm.

Kembali ke topik kebaya di atas, kesimpulannya: saya tidak punya kebaya.

Yang anehnya, walaupun saya tidak membawa kebaya sepotong pun dari Indonesia, tapi saya membawa dua-tiga potong kain sarung batik motif pesisiran gaya Pekalongan. Juga membawa stagen hitam satu gulung. Sungguh aneh. Kenapa bisa begitu ya?

Tapi lalu bagaimana dengan kebaya yang absen ini?l

Saya jadi teringat dengan pelajaran menjahit yang dulu kala pernah saya ikuti tapi tidak selesai. Untungnya ketika itu saya sempat praktek membuat kebaya. Untungnya lagi, catatan pelajaran menjahit saya bawa juga ke Belanda sini. Saya ambil dari rak buku. Saya buka dan baca-baca lagi. Beberapa bagian masih saya ingat dengan cukup jelas. Sebagian lainnya samara-samar saja. Sebagian lagi malah tidak ingat lagi bagaimana mesti mengerjakannya. Lalu?

Nekat bikin dong!

Jadilah saya beli bahan untuk kebaya di Pasar Jumat di Arnhem. Bukan brokat. Tapi sejenis chiffon paris. Bahannya tipis menerawang dan gloyor!! Oh betapa bodohnya! Ini namanya kamikaze. Sudah tahu sudah lama sekali tidak menjahit pakaian, sekalinya menjahit kok ya pilih bahan yang gloyor, lari ke mana-mana. Sungguh bodoh!! Apa boleh buat. Saya kadung jatuh cinta dengan warna dan motif bahan chiffon paris yang gloyor itu.

Mulailah saya membuat polanya. Satu hari penuh cuma saya habiskan untuk membuat pola. Benar-benar cenunak-cenunuk kalau kata orang Jawa. Siput saja pasti menang kalau tanding sama saya. Hahaha…

Akhirnya selesai juga membuat pola. Habis itu saya lelah bukan kepalang. Mata terasa berkunang-kunang. Tapi senang bukan kepalang. Ternyata saya masih bisa bikin pola!!

Tidak sabar untuk segera mewujudkannya, malam itu juga saya menggunting bahannya berdasarkan pola. Selesai juga. Senangnya!!

Keesokan harinya saya langsung sibuk mulai menjahit. Rasanya tidak sabar ingin kebaya segera jadi. Ingin tahu bagaimana jatuhnya di tubuh saya. Pas? Atau kebesaran? Atau kekecilan? Harap-harap cemas.

Begitu bagian badan selesai, walaupun bagian lengan belum terpasang, saya langsung mencobanya. Bingo!! Pas!! Oohh, saya girang sekali. Ternyata saya masih bisa bikin pola yang bagus. Yuhuuuu!!

Jadi tambah semangat untuk menyelesaikannya. Mulailah saya mengerjakan jahitan bagian lengan. Selesai memasang satu bagian lengan dengan jahitan jelujur, saya mencobanya.

Bagian lengan sudah terpasang dua-duanya dengan jahit jelujur. Jahit sementara. Baru saya melihat, kalau satu lengan terjahit terbalik. Bagian dalam di luar dan bagian luar di dalam. Bagian lengan yang itu harus dibongkar total. Mau nangis!!

Tapi saya lakoni juga. Pelan-pelan. Hati-hati. Sebab bahannya tipis menerawang. Kalau mendedelnya tidak hati-hati, bisa cabik bahan cantik itu. Akhirnya selesai juga. Lega! Dunia kembali cerah ceria.

Saya pasang lagi di bagian ketiaknya dengan jahit jelujur. Jadi! Lalu saya coba kenakan sebelum akhirnya saya jahit permanen dengan mesin jahit.

Loohh… kok panjang amat.
Sampai-sampai kalau bagian tangannya dikelim pun panjangnya masih 10 cm melewati ujung jari tengah saya. Kok bisa?

Saya langsung meraih kertas pola bagian lengan. Saya paskan ke lengan saya. Iya! Tampak sedikit kepanjangan. Saya ambil meteran jahit saya. Saya ukur ulang kertas polanya.

Ooohh tidaaaaakkk!! Saya salah bikin pola!! Salah mengukur panjang lengannya. Hiks. Terus bagaimana? Berarti kertas pola harus dikoreksi dulu. Baru mengoreksi potongan bahan bagian lengan.

Itu berarti bagian lengan, dua-duanya, mesti saya lepas dari bagian badan. Untung masih jahit jelujur sementara. Tapi jahit permanen sepanjang lengan, dua-duanya, mesti saya bongkar juga.

Rasanya ingin teriak saking kesalnya pada kebodohan sendiri.

Itu artinya saya harus mendedel jahitan permanennya. Ah kasihan sekali dikau bahan tipis menerawang nan cantik. Kok didedel saja mesti berulang-ulang. Pertama karena terbalik dan kedua karena kepanjangan.

Tapi saya sudah lebih dari setengah jalan. Dan saya ingin terus. Ingin menyelesaikannya. Jadi, walaupun patah hati sekali, saya lakoni juga. Pelan-pelan dan hati-hati. Dan lega sekali begitu selesai dan selamat.

Mulailah saya mengoreksi pola lengan pada potongan bahan bagian lengan itu. Satu per satu. Pelan-pelan. Akhirnya selesai juga. Senang!

Setelah itu saya mulai lagi menjahit sepanjang lengan secara permanen dan memasangnya dengan bagian badan dengan jahit sementara di bagian ketiak. Pas! Ya besarnya. Ya panjangnya. Oh.. senangnya nggak karuan.

Sejak lama saya tahu bahwa kebahagiaan itu begitu sederhana. Pencapaian-pencapaian kecil bisa begitu membahagiakan. Tapi setiap kali ini terjadi, lagi dan lagi, selalu saja saya kembali takjub. Sebab benar adanya kebahagiaan itu begitu sederhana. aahh! :))

Dengan hati dag-dig-dug saya memberanikan diri menjahit sambungan di bagian ketiak secara permanen dengan mesin jahit. Satu sisi selesai. Saya coba. Bagus!

*senyum-senyum sendiri*

Lalu lengan yang satunya lagi menyusul. Setelah selesai, saya coba lagi. Kembali senyum-senyum sendiri. Puas.

Sama sekali tidak jelek. Untuk ukuran orang yang sudah seabad lamanya (yang ini bohong. Umur saya baru 40 tahun) tidak menjahit baju, kebaya hasil jahitan saya ini sama sekali tidak jelek. Enak dipakai. Pas di badan. Mau kecewa bagaimana? Yang ada cuma senang dan bangga dan senyum-senyum sendiri terus. dan tentu saja bolak-balik mencoba si kebaya itu di depan kaca. Macak!

Tugas terakhir sebelum memproklamirkan si kebaya selesai total adalah memasang tujuh kancing jepret di bagian dada. Ah! Kalau dibandingkan dengan sulitnya memperbaiki pola bagian lengan plus harus mendedel jahitannya, memasang tujuh kancing jepret jadi terasa just a piece of cake!

Belagu lu, Ret!

Hahaha.. biar! Yang penting ternyata masih bisa menjahit dan hasilnya oke.

Senang!!

Jadi dong saya pergi ke pesta nikah India Suriname dengan mengenakan kebaya. Horeeee!

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: