rabu yang lalu

Rabu yang lalu teman Belanda saya, Bertien, datang berkunjung bersama anak laki-lakinya, Leonard, 11 tahun. Bertien datang cuma ingin main. Ingin ngobrol. Lagipula dia baru satu kali ke rumah saya sebelum rabu lalu. Itu pun cuma sebentar, bersama Rohan, seorang teman Indonesia di sini. Tapi Leonard ikut sebab dia bilang ingin belajar masak.

Hari itu saya membuat roti untuk makan siang kami. Juga salad yogurt dan saus dressing untuk celupan roti. Adonan roti dari tepung terigu 1/2 kilogram saya jadikan dua macam roti. Focaccia dan roti isi tomat dan seledri rajang. Seledri ini gantinya daun basil karena kebetulan sedang tidak punya.

Ketika mereka sampai, roti isi tomat dan seledri rajang sedang dalam proses dipanggang dalam oven. Demikian juga saus dressing untuk celupan roti, sudah siap. Tapi adonan roti focaccia sedang saya istirahatkan supaya mengembang 2x. Setelah ngobrol ngalor ngidul sebentar sambil minum saya mengajak Leonard untuk mulai sibuk-sibuk di dapur mungil saya.

Tugas pertama dia: membuat salad yogurt. Bahan utamanya: yogurt yunani, ketimun, tomat, garam dan lada. Leonard murid yang cerdas dan cekatan. Juga penuh inisiatif. Saya sama sekali tidak turun tangan membantunya. Cuma memberi instruksi. Dia mengerjakan semuanya sendiri. Agak berantakan. Tapi kenapa tidak? Kan namanya juga belajar.

Setelah selesai membuat salad yogurt, saya suruh dia menusuk-nusuk seluruh permukaan adonan roti focaccia yang telah dipipihkan dengan dua jari: telunjuk dan tengah. Lalu memberi sekuntum rosemary segar di tiap lubang. Kemudian menaburi dengan garam kasar dan mengolesi adonan roti dengan minyak zaitun. Dia bersemangat dan mengerjakan semua instruksi dengan antusias.

Ketika roti isi tomat dan seledri rajang telah selesai dipanggang saya minta dia yang mengeluarkan dari oven, mengeluarkan dari loyang, menaruhnya di atas talenan besar untuk kemudian dihidangkan di meja makan. Setelah itu memasukkan loyang berisi adonan roti focaccia ke dalam oven dan kemudian memasang timernya. 40 menit.

Lalu dia menata meja, memasang alas piring makan, menaruh piring, garpu dan pisaunya sekalian. Habis itu kami mulai makan siang. Tidak menunggu focaccia matang karena sudah keburu lapar. Lagian, dengan begitu durasi makan siangnya jadi lebih panjang. Tahap pertama dengan roti isi tomat dan seledri rajang + saus dressing dan salad yogurt. Lalu istirahat sejenak sambil menikmati musik dari youtube. Tahap kedua dengan focaccia + saus dressing dan salad yogurt.

Selesai makan siang tahap pertama kok saus dressing untuk celupan roti sudah habis. Padahal roti focaccia masih menanti untuk disantap. Laku keras. Enaaakk, kata Leonard dan Bertien. Syukurlah. Lalu Leonard saya ajari bikin saus dressing itu. Ketika selesai, saya suruh dia mencicipi saus dressing bikinannya. Ternyata indra pencecap dia cukup sensitif. Dia langsung tahu bahwa ada sesuatu yang kurang. Mustardnya kurang banyak, dia bilang. Hahaha.. Good student! Good talent! Ibunya bangga bukan main. Senyum-senyum dikulum terus sepanjang siang itu.

Selesai makan siang yang super duper nikmat itu, kami bertiga pergi jalan-jalan ke Hosterpark yang letaknya dekat rumah saya. Cuma di belakang kompleks rumah. Jalan kaki santai cuma 15 menit. Tamannya besar dan nyaman. Semua jenis usia manusia bisa ditemukan di sana. Dari yang bayi hingga yang renta. Semua ingin menikmati kenyamanan Hosterpark.

Ada taman bermain. Ada kafetaria. Ada kinderboerderij atau petzoo. Ada danau buatan. Lapangan rumputnya super luas. Juga banyak bangku taman tersebar di sana-sini. Yang pakai senderan dan yang tidak. Banyak kegiatan luar bisa dilakukan di sana. Dari cuma duduk-duduk sambil menikmati pemandangan dan semilir angin atau sambil membac buku, jalan-jalan sambil membawa anjing peliharaan, sepedaan, main layangan, main pasir, main air, ngelus-ngelus kambing di petzoo, jogging sampai duduk-duduk di kafetaria sambil menikmati kopi/teh plus apple pie.

Hhmmm.

Begitu sampai kami jalan mengitari taman dulu. Lalu main ke petzoo untuk mengelus-elus kambing dan hamster. Sudah puas lalu Bertien dan saya duduk-duduk di rumput, ngobrol sambil menunggui Leonard main getek. Lalu kami beli es loli rasa jeruk. Segar. Sambil makan es loli sambil duduk di rumputan sambil ngobrol. Tak terasa waktu berlalu. Tiba-tiba sudah jam 5 sore. Sudah waktunya untuk pulang. Tapi Leonard belum mau pulang. Dia kesenangan. Sampai akhirnya malah tanya saya apakah dia boleh menginap di rumah saya. Hah?? Segitunya. Saya tidak menyangka dia merasa senang dan nyaman. Sampai-sampai tidak mau pulang. Malah minta nginap padahal tidak ada persiapan.

Saya tolak. Kebetulan kamar yang biasa dipakai untuk tidur kalau ada tamu datang menginap sedang berantakan. Penuh barang. Tidak bisa menggelar kasur. Jadi ada alasan juga untuk menolak permintaan Leonard.

Tapi saya bilang, dia boleh menginap satu malam nanti kalau dia datang minggu depan untuk belajar memasak dari saya. Dia senang. Tapi tetap inginnya tinggal lebih lama di Hosterpark. Toh kami berjalan pulang juga.

Sampai di rumah, Ron sudah pulang juga dari kantor. Mereka ngobrol sebentar sambil minum jus jeruk. Lalu saya mengantar mereka sampai ke halte bis dan menunggu hingga bis berangkat. Terima kasih ya untuk kunjungan kalian. Daaaaahhh!!

Catatan: Tulisan ini juga dimuat di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: