di belakang atau di depan sih?

Ketika saya baru mulai tinggal di negeri Paman Gulliver ini saya harus mengikuti kursus Bahasa Belanda sebagai salah satu persyaratan wajib. Jadwal belajar saya di tempat kursus sebanyak empat hari dalam seminggu. Ron, suami saya, menjadi mentor saya di rumah. Penguasaan tata bahasa Bahasa Belanda dia cukup oke. Dia juga sekaligus lawan debat saya setiap kali saya meragukan penggunaan suatu istilah tertentu. Dan ini tentu saja berkaitan dengan pembandingan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Belanda.

Suatu senja, ketika dia melihat saya beranjak meninggalkan sofa, Ron bertanya, “Wat ga jij doen, schat?”

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia-nya: “Apa yang akan kamu lakukan, sayang?”

Saya jawab, “Ik ga voor mijn computer zitten.” Maksud saya tentu saja, saya mau bersibuk-sibuk ria dengan komputerku, apapun kesibukan itu.

Dia tertawa sambil bilang, “You’re so cute, dear.” Mmmm…

Saya tanya dia kenapa kok cute. Dia bilang, “Jij gaat achter jouw computer zitten. Niet voor!” “kamu akan duduk di belakang komputermu. Tidak di depan!”

Seperti kerbau dicocok hidungnya, saya cuma bisa jawab, “Oooohh, ok! Ik ga achter mijn computer zitten.” Tersenyum, lalu bergegas ke atas, ke ruang kerja saya.

Ketika saya tengah-tengahnya asyik mengerjakan sesuatu di computer saya, tiba-tiba saya jadi kepikiran lagi soal “achter” itu. Hhhmmm… Hier klopt iets niet hoor! Ada yang nggak beres nih!

Well, yang benar aja dong. Dalam hal ini istilah dalam Bahasa Belanda jelas tidak tepat, kalau tidak bisa dibilang nggak ada akalnya!! Masa duduk di belakang komputer?? Kalau gitu yang kita hadapi adalah bagian belakang layar komputer plus kabel-kabelnya yang ruwet itu dong???

Panas! Saya segera turun ke ruang bawah menghampiri Ron yang sedang duduk di depan(!) komputernya. Dia menoleh ke saya, bertanya, “Wat is er, schat?” “Ada apa, sayang?” Tanpa tedeng aling-aling saya bilang ke dia, “Bahasamu nggak ada akalnya!” Hehehe.. Dia bingung kok ujug-ujug diserang. Padahal nggak ada angin, apalagi hujan.

Saya bilang lagi, “Straks zei jij dat ik ‘ik ga achter mijn computer zitten’ zou moeten zeggen, niet voor.” “Tadi kamu bilang bahwa saya seharusnya bilang ‘saya akan duduk di belakang komputer saya, tidak di depan’. Ron bilang, “Ja, dat klopt.” “Iya, benar.”

Saya bilang ke dia, “Lha itu justru nggak benar. Istilah dalam bahasamu itu justru nggak ada akalnya!” Dia mengernyitkan kening, tanda tidak mengerti maksud saya. Saya melanjutkan, “Kalau kita duduk di belakang komputer kan sebenarnya yang kita lihat itu justru bagian belakang layar komputer, bagian belakang CPU beserta seluruh kabelnya yang maha ribet itu!!”

Dia diam. Mulutnya melongo. Tiba-tiba meledaklah tawanya. Setelah puas tertawa, dia bilang, “Benar juga ya. Hihihi. Okelah, terserah kamu saja.” Tapi sejak itu, kalau dia mau bersibuk-sibuk ria dengan komputernya, dia akan bilang ke saya, “Ik ga voor mijn computer zitten, schat” ketimbang “Ik ga achter mijn computer zitten, schat.” Dan saya, kalau saya sedang berbicara dengan orang lain, saya akan bilang, “Ik zit achter mijn computer” ketimbang “Ik zit voor mijn computer.” Hhhmmm… :))

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: