garam laut

Sejak menetap di Belanda saya jadi punya banyak waktu untuk menonton televisi, terutama kalau cuaca sedang buruk berhari-hari. Salah satu program tivi yang menjadi favorit saya adalah program memasak, tentu saja.

Suatu hari, dulu, tiba-tiba keasyikan saya menonton acara memasak yang ditayangkan BBC One sedikit terganggu sebab juru masak yang menjadi presenternya bolak-balik menyebut sea salt bila dia butuh membubuhkan garam pada masakannya.

Dan setelah beberapa kali menonton acara memasak lain sesudah hari itu, saya menjadi lebih “waspada” bila si juru masak menyebut-nyebut sea salt. Dan tentu saja bertanya-tanya gumun, kenapa si juru masak bolak-balik menyebut sea salt. Sampai-sampai suatu hari, ketika saya dan suami sedang menonton sebuah acara memasak, dan si juru masak menyebut sea salt, saya menyerukan keheranan saya itu kepada suami. “Kenapa sih dia pakai menyebut-nyebut sea salt? Bukannya garam memang berasal dari laut ya? Seolah-olah ada garam yang asalnya tidak dari air laut.” Karena seruan keheranan saya itulah suami saya jadi ikut-ikutan waspada dan akhirnya dia sendiri juga menggumunkan hal yang sama. Sebab selama ini dia juga berpikir bahwa garam itu ya asalnya dari (air) laut.

Maaf, melenceng sedikit ya. Ada satu acara tivi yang menjadi favorit saya dan suami. Acara itu berjudul Keuringsdienst van Waarde. Acara ini produksi dan tayangan televisi Belanda yang menurut saya sangat bagus dan bermutu. Acara ini mencoba mencari tahu tentang seluk beluk sebuah produk, terutama yang berkaitan dengan makanan. Pengerjaannya melibatkan beberapa personel yang memiliki kemampuan riset yang andal.

Nah, kembali ke pokok bahasan tentang sea salt, suatu hari acara Keuringsdienst van Waarde ini membahas tentang sea salt. Bingo!

Wah, ternyata memang ada lho garam yang tidak berasal dari (air) laut. Ck..ck..ck… Dan garam yang dipasarkan di Eropa sebagian besarnya bukan garam yang berasal dari (air) laut. Kalaupun di pasaran ditemukan garam (air) laut, maka sangat bisa jadi sea salt itu diimpor dan harganya tentu tidak murah.

Jadi? Ternyata garam yang bukan sea salt itu berasal dari tambang garam. Tambang garam itu berupa gunung yang materi utamanya adalah batu karang garam atau halite. Di Eropa sendiri terdapat cukup banyak lokasi tambang garam. Misalnya Kilroot yang terletak dekat Carrickfergus di sebelah utara Irlandia, Tuzla di Bosnia, Wieliczka dan Bochnia di Polandia, Hallstatt dan Salzkammergut di Austria, Rheinberg di Jerman, Slanic di Romania dan Provadiya di Bulgaria.

Tambang garam ini pada umumnya digali menjadi bentuk gua, seperti layaknya kebanyakan tambang mineral lainnya. Sebab garamnya berupa gunung karang garam. Namun di daerah gurun di Rajasthan, India, mineral garam ditambang dengan cara membuat sumur, serupa sumur air. Air yang diproduksi sumur tersebut adalah air asin yang kemudian ditimba dan dituang ke lahan di sekitar sumur tersebut yang telah dibuat petakan-petakan serupa petak-petak sawah. Panas terik matahari perlahan membuat air menguap dan menyisakan garam.

Kenyataan bahwa saya berasal dari (baca: lahir dan besar di) Indonesia membuat saya menerima kenyataan tentang garam begitu saja. Bahwa garam ya pasti berasal atau terbuat dari air laut. Sebab itulah yang selama ini saya ketahui dan lihat kenyataannya. Setiap kali mudik ke kampung halaman ayah saya di dekat kota Pekalongan, saya selalu melewati pesisir Pantura. Dan salah satu pemandangan khas di sepanjang jalan adalah petani garam yang sedang duduk di dangau sambil mengaduk-aduk air laut di petak-petak lahan garam mereka untuk mempercepat proses penguapan air laut sehingga menjadi garam. Dan petak-petak lahan garam mereka itu tentu saja bersebelahan dengan laut.

Ah, saya kok jadi rindu untuk pulang kampung, tidak hanya ke Indonesia dan Jakarta, tapi terlebih ke kampung halaman ayah saya yang sejuk, satu jam dari Pekalongan, di kaki Gunung Dieng itu. Kangen pada pemandangan khas sepanjang pesisir Pantura dengan para petani garamnya yang sedang menimba-nimba air laut di petak-petak lahan garam mereka. Kangen dengan bau asin air laut yang dibawa angin. Ah..

* * * * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: