Ich bin der Welt abhanden gekommen

Tadi siang saya duduk di sofa depan teve, dengan niat beristirahat sejenak sehabis berlatih tari yang dilanjutkan dengan makan siang. Duduk di situ tentu tak lain tak bukan akhirnya menyalakan teve dan mencari saluran yang sedang menayangkan acara menarik. tapi tadi itu siang di hari senin.. mmm.. sangat tipis kemungkinannya dapat menonton acara menarik. jari terus menekan tombol program dan sampailah saya pada saluran Cultura 24, salah satu saluran yang tersedia di teve Belanda. Cultura 24 sedang menayangkan program western classical music singing masterclass dan sang master adalah Thomas Hampson.

Ketika saya sampai di Cultura 24, acara masterclass tersebut sudah berjalan selama kira-kira 10 menit. Saya menonton sejenak, ingin tahu, apakah masterclass tersebut menarik. Ternyata iya, sangat menarik!

Menonton masterclass selalu menarik untuk saya, apapun itu. Entah musik, nyanyi atau tari. Ngomong-ngomong, saya malah baru satu kali mendapat kesempatan untuk menonton masterclass tari. Kembali ke cerita tentang menonton masterclass, banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari menonton masterclass walaupun saya tidak menggeluti bidang tersebut, musik dan/atau nyanyi. Buat saya sendiri, saya banyak mengambil pelajaran dari menonton masterclass-masterclass tersebut untuk saya terapkan dalam bentuk yang berbeda di bidang yang saya geluti.

di acara masterclass yang tadi siang saya tonton, ternyata yang menjadi fokus perhatian sang suhu, Thomas Hampson, bukanlah teknik menyanyi itu sendiri. Fokus perhatian dia adalah sikap dan perilaku di atas panggung. Bagaimana si penyanyi mesti berdiri di atas panggung ketika menyanyi. Bahwa si penyanyi mesti dengan sadar menjaga agar sekujur tubuhnya tetap santai apapun emosi lirik lagu yang sedang dinyanyikannya. Bahkan tarikan nafas pun tidak boleh berbeda (baca: kentara atau nyata) daripada ketika kita sedang diam atau sedang berbicara. Satu hal yang menurut saya sangat penting yang dikatakan oleh Hampson: si penyanyi sebaiknya tidak menyanyi untuk penonton, melainkan untuk dirinya sendiri seakan-akan tidak ada orang yang sedang menontonnya. Dia mengatakan hal yang terakhir ini ketika sedang mengoreksi seorang penyanyi sopran, Marjana (baca: Mariana), yang nama belakangnya tidak lagi saya ingat.

Sesi masterclass untuk Marjana dimulai dengan Marjana menyanyikan nomor dari Gustav Mahler yang terkenal: Ich bin der Welt abhanden gekommen; I am lost to the world; yang syair indahnya ditulis oleh Friedrich Rückert. Sebuah nomor yang sangat indah dan menyentuh. Suara Marjana sangat indah, lembut, suara ideal seorang penyanyi sopran. Tapi dia tampak membawakan nomor ini sambil membuat kontak mata yang dilakukan dengan sangat sadar. Matanya sangat ekspresif berbicara kepada penontonnya. Seolah-olah ingin memberi kesan kepada penontonnya. Dan ketika dia tidak sedang menyanyi, hanya musik yang mengalun, kedua bola matanya memandang ke atas, sangat “liar” gelisah bergerak ke kanan dan kiri dengan cepat.

Hampson memulai sesi dengan mengajukan pertanyaan: berapa umurmu? Marjana menjawab, 26 tahun. Hampson menyahut, usia yang sangat ideal dan sudah waktunya bagimu untuk memberdayakan dirimu seutuhnya, yang disambut derai tawa penonton. Hampson berpendapat bahwa dengan suara seperti yang dimiliki oleh Marjana, dia tidak perlu terlalu keras berusaha karena suara soprannya sudah indah dan ideal secara alamiah. Tapi pada kenyataannya baru 40% yang bisa dinikmati oleh penonton. Hampson bilang bahwa energi yang 60% lagi masih terperangkap di dalam tubuh Marjana. Masalah atau sebabnya bukan terletak pada teknik vokal yang minim melainkan pada sikap tubuh. Menurut Hampson, Marjana terlalu sibuk menyanyi untuk para penonton.

Hampson membuktikan dugaannya. Dia menyuruh Marjana menyanyi membelakangi penonton dan Marjana tidak mau. Tampaknya dia seorang penyanyi yang sangat sadar penonton. Setelah beberapa kali diminta oleh Hampson untuk membalikkan badan, membelakangi penonton, barulah akhirnya Marjana menuruti, pun dengan gelisah. Tapi Hampson memintanya untuk percaya saja. Barulah Marjana tenang.

Dan memang sangat terlihat bedanya ketika dia mulai menyanyi dengan membelakangi penonton. Marjana menyanyi dengan tenang, bola matanya tidak bergerak-gerak ke kanan dan kiri dengan cepat lagi. dan setelah dua baris lirik, perlahan dia membalikkan badan untuk kembali menghadap ke penonton sambil terus menyanyi. Itupun Hampson memintanya untuk menyanyi sambil menutup mata. Tujuannya supaya Marjana tidak sibuk mengesankan penonton dengan ekspresi matanya, tetapi agar dia lebih fokus kepada apa yang sedang dinyanyikannya. Agar dia lebih merasakan dan menjiwai lirik yang sedang dilantunkannya.

Aahh.. sangat mengena! Ketika sampai pada baris kedua lirik di bait ketiga: Und ruh’ in einem stillen Gebiet! And I rest in a quiet realm! Marjana tidak mampu menyelesaikan sebab dia keburu tercekat karena meneteskan airmata. Sebab memang lirik bait ketiga tersebut sangat menyentuh hati, apalagi dikemas dalam jalinan melodi yang begitu menyayat… Menyanyi dengan mata terpejam membuatnya jadi mampu merasakan dan meresapi lirik dan musik beserta seluruh maknanya secara bulat. Setelah beberapa saat, Marjana mengulangi bait ketiga, tetap dengan mata terpejam dan air mata yang terus mengalir, menyanyi dengan seluruh rasa, begitu indahnya. Marjana, nyanyianmu sangat menyentuh hati dan saya ikut menitikkan air mata.

Masterclass berakhir dengan selesainya Marjana menyanyi. Masterclass yang indah. Terima kasih, Thomas Hampson. Terima kasih, Marjana.

Di bawah ini saya kutipkan lirik lagu Ich bin der Welt abhanden gekommen beserta terjemahannya dalam bahasa Inggris. Link lagu tersebut dari youtube yang dinyanyikan tak kalah indah oleh Katarina Karneus saya sertakan juga di bawah terjemahan lirik dalam bahasa Inggris. Selamat menikmati.

* * * * * * *

Ich bin der Welt abhanden gekommen

Ich bin der Welt abhanden gekommen,
Mit der ich sonst viele Zeit verdorben,
Sie hat so lange nichts von mir vernommen,
Sie mag wohl glauben, ich sei gestorben!

Es ist mir auch gar nichts daran gelegen,
Ob sie mich für gestorben hält,
Ich kann auch gar nichts sagen dagegen,
Denn wirklich bin ich gestorben der Welt.

Ich bin gestorben dem Weltgetümmel,
Und ruh’ in einem stillen Gebiet!
Ich leb’ allein in meinem Himmel,
In meinem Lieben, in meinem Lied!

=============================

I am lost to the world

with which I used to waste so much time,
It has heard nothing from me for so long
that it may very well believe that I am dead!

It is of no consequence to me
Whether it thinks me dead;
I cannot deny it,
for I really am dead to the world.

I am dead to the world’s tumult,
And I rest in a quiet realm!
I live alone in my heaven,
In my love and in my song!

terjemahan oleh : Emily Ezust

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: